
Bilik » Pena | Jum'at, 5 Oktober 2012 pukul 14:30 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
“Menulis adalah pergulatan hidup dalam inti yang terdalam. Semacam upaya untuk menemukan identitas kita yang paling orisinal.” (Sindhunata, Budayawan Indonesia)
Saat membaca kutipan dari budayawan nasional bernama Sindunata di atas, saya terkejut. Saya tidak menyangka bahwa dengan menulis, saya bisa menggali identitas saya yang paling dalam. Awalnya sih saya tidak terlalu mempercayai hal ini, karena bagi saya, menggali identitas diri, atau biasanya disebut mengenali jati diri sendiri, itu bukanlah hal yang mudah. Artinya, ketika kita menulis, tidak secara langsung kita akan mengetahui jati diri kita. Mencari jati diri itu susah. Sama susahnya ketika kita harus mengumpulkan kepercayaan diri untuk dapat tampil di depan umum, berbicara mengungkapkan berbagai macam hal.
Namun, ketidakpercayaan saya akhirnya terjawab ketika saya berkenalan dengan seorang penulis nasional bernama Hernowo, yang telah menulis 24 buku best seller dalam waktu 4 tahun, lewat bukunya Mengikat Makna Update. Pertemuan kami memang tidak secara fisik, tetapi apa yang dituangkan beliau dalam bukunya tersebut benar-benar menyadarkan saya pada kebenaran ungkapan budayawan nasional di atas.
Kenapa demikian?
Karena Hernowo telah membocorkan sebuah rahasia terbesar menulis pada saya. Rahasia yang bisa menghantarkan saya pada jati diri saya sebenarnya. Kamu pun bisa mengetahui siapa sebenarnya dirimu, dengan rahasia ini. Tidak banyak, hanya tiga hal.
Pertama, menulislah seakan-akan kamu tinggal di muka bumi ini seorang diri. Tidak ada orang lain yang menemanimu. Artinya, kamu menulis harus benar-benar karena kesadaranmu sendiri, bukan karena terpengaruh oleh orang lain apalagi dipaksa. Tulislah segala hal yang membuatmu terkesan, bahkan ketika hal itu terlihat sederhana. Tulis saja, karena tulisan itu hanya untukmu sendiri. Dalam bahasanya Umar bin Khattab, hasibu anfusakum qobla an tuhasabu. Itulah gunanya hal yang pertama ini.
Kedua, menulislah setelah kamu membaca dan membacalah setelah kamu menulis. Dua-duanya harus dilakukan secara bersamaan. Tidak boleh terpisah. Membaca, juga jangan diartikan membaca buku saja, tetapi membaca apa yang tersirat dalam segala hal. Istilah al-Qur’an Iqra’: bacalah, telitilah, pahamilah, renungilah, cermatilah. Lalu apa yang kamu baca, teliti, pahami, renungi, dan cermati itu kamu ikat dengan menuliskannya: walkitabatu qoiduhu. Lalu baca lagi apa yang telah kamu tulis tadi, begitu berulang-ulang.
Ketiga, ini yang paling penting dalam mengetahui jati diri, cobalah membaca diri sendiri dan menuliskannya. Mengapa nama kamu fulanah? Apa kaitan hari lahirmu dengan jalan kehidupanmu? Apa yang kamu rasakan ketika masa kecilmu? Berpengaruhkah pada apa yang kamu rasakan saat ini? Mengapa kamu sekarang tinggal di sini? Mengapa tidak di tempat yang lain? Mengapa kamu harus sekolah? Mengapa sekolah kamu harus di pesantren? Dan seterusnya. Tuliskanlah hal itu semuanya dan bacalah kembali apa yang sudah kamu tulis. Renungi, cermati, rasakan apa yang akan terjadi kemudian!
***
Fiksi dan Non-Fiksi
Saya akhirnya memberanikan diri untuk menulis. Saya tuliskan saja apa yang saya pikirkan. Bagi saya, tidak perlu memikirkan apa yang kita tulis, tetapi tuliskanlah apa yang sedang kita pikirkan. Banyak hal yang saya tulis. Segala-galanya. Sampai-sampai, seorang teman berkata, jika ingin mencari saya, cari saja di depan buku tulis. Ada-ada saja!
Semakin sering kita menulis, semakin baik tulisan kita, begitu yang sering saya dengar dari banyak penulis hebat. Saya pun merasa bahwa tulisan saya semakin baik sehingga saya serahkan pada seorang teman untuk menilai, apakah tulisan saya benar-benar baik atau hanya perasaan saya saja. Hasilnya, banyak teman yang memuji. Ada juga yang mengkritik. Tetapi aku yakin, kritik mereka atas tulisan yang kita hasilkan adalah bukti bahwa mereka benar-benar ingin agar tulisan kita lebih baik dari apa yang pernah mereka baca!
Hingga suatu hari, seorang teman bertanya pada saya: Tulisanmu ini fiksi atau non-fiksi? Aku bingung menjawabnya karena belum mengetahui pasti apa perbedaan antara fiksi dan non-fiksi. Tetapi, Bambing Trim, seorang penulis yang telah melahirkan lebih dari 100 buku, mengatakan pada saya satu hal yang sangat sederhana tentang perbedaan hal ini.
Persoalan fiksi dan non-fiksi bukanlah terletak pada apakah tulisanmu itu berbunga-bunga bahasanya layaknya novel atau tegas penyampaiannya seperti buku pelajaran. Bukan itu. Letak perbedaan fiksi dan non-fiksi adalah nyata atau tidaknya apa yang kamu tulis. Jika tulisanmu itu nyata dan benar-benar bisa dibuktikan, maka itu adalah tulisan non-fiksi. Jika ada, sedikit saja, unsur imajinasi atau khayalan, maka itu adalah tulisan fiksi. Itu saja!
Lalu, saya mencoba untuk membuktikan perkataan Bambang Trim itu dengan membaca beberapa novel. Contohnya adalah semua novel karya Habiburrahman el Shirazy, baik itu ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, dalam mihrab cinta dan seterusnya. Saya mendapatkan banyak hal yang nyata dalam novel itu seperti gambaran Kang Abik, panggilan Habiburrahman, kuliah di Mesir. Adanya kota yang bernama Kairo dan lain sebagainya. Itu nyata, tetapi novel itu bukanlah karya non-fiksi, karena ada hal lain yang tidak nyata dan itu adalah imajinasi Habiburrahman itu sendiri, semisal, pemeriksaan seorang polisi Mesir pada Azzam dan masih banyak yang lainnya.
Begitulah, saya akhirnya memahami bahwa yang lebih dahulu muncul itu adalah tulisan. Setelah itu ada teori yang menilainya apakah tulisan itu baik atau tidak, fiksi atau non-fiksi dan lain sebagainya. Jadi, jika kamu ingin tahu apakah tulisanmu itu bagus atau tidak, tulislah dahulu dan selesaikan dahulu tulisan itu. Jangan menilai tulisanmu bagus sebelum menuliskannya!
***
Nilai Dakwah dalam Menulis
Sejak saya mengenyam pendidikan agama di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, saya selalu teringat dengan apa yang diucapkan oleh salah satu ustad saya: Fi ayyi ardhin tatho’, anta mas’ulun ‘an islamiha, di belahan bumi mana pun kamu berada, kamu mempunyai tanggung jawab untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di sana!
Saya pun merantau. Memutuskan untuk tinggal di Surabaya, daerah yang belum pernah saya tempati sebelumnya, adalah sesuatu yang sulit. Bukan hal mudah, apalagi ditambah dengan tanggung jawab untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, sebagaimana nasihat ustad saya di atas. Namun, satu hal yang pasti, saya harus melakukan hal itu!
Maka, putusan saya jatuh pada kegiatan menulis. Tak mudah untuk melakukan hal itu, mengingat saya bukanlah keturunan seorang penulis. Saya juga tidak seorang anak yang mendapatkan warisan banyak dari orang tua sehingga bisa membeli alat-alat tulis atau buku-buku yang banyak. Saya juga bukan seorang pengangguran yang bisa sepenuhnya menulis. Saya lakukan kegiatan menulis, disela-sela kuliah dan kegiatan lainnya. Saya lakukan dari awal, dari buku tulis tipis. Saya lakukan dari tahap yang paling sulit, yaitu tidak punya pengetahuan apa-apa tentang menulis.
Tiga tahun sudah saya di Surabaya. Alhamdulillah, sudah ada dua buku yang menjadi karya saya. Buku pertama judulnya Menulis Itu Asyik Lho, berisi semua tulisan saya tentang betapa asyiknya saya melakukan hal, yang terkadang, bagi teman-teman saya sulit untuk dilakukan dan menjengkelkan. Namun saya ingat pada apa yang diajarkan oleh Akbar Zainuddin dalam bukunya Man Jadda Wajada, bahwa siapa yang berusaha ia akan mendapatkan hasil dari usahanya itu. Tidak ada yang sia-sia, termasuk ketika usaha itu gagal di awal. Percayalah bahwa, orang yang sukses bukanlah orang yang pernah gagal. Kegagalan adalah pintu kesuksesan. Orang yang sukses adalah orang yang mampu bangkit kembali dari kegagalannya!
Buku kedua saya, baru terbit November 2010, juga tentang menulis. Tetapi ditulis secara bersama-sama dengan 24 penulis se-Indonesia. Judulnya, “Menulis, Tradisi Intelektual Muslim”. Dalam buku itu saya menuliskan bahwa kegiatan menulis, jika diniatkan untuk dakwah, dapat bernilai jihad, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini terjadi karena, penyerangan terhadap kaum muslim, saat ini, telah menggunakan cara baru, yaitu perang pemikiran (ghozwul fikri). Perang itu dilakukan dengan berbagai macam wacana yang ada di lembaran-lembaran buku atau koran. Maka, menulislah, untuk menangkal serangan itu!
Akhir kata, goreskanlah pena, galilah makna! Hidup ini penuh makna yang harus digali. Jika kamu tidak pernah menggalinya, maka hilanglah makna kehidupan ini. Betapa menyakitkannya jika menjalani kehidupan tanpa mendapatkan makna apa-apa yang tersirat dan tersurat di dalamnya. Goreskanlah pena, galilah makna, jadilah Mujahid Pena!
KotaSantri.com © 2002-2026