
Bilik » Mualaf | Kamis, 13 September 2012 pukul 16:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah anak muda yang sedang kasmaran. Akan halnya saya, barangkali yang lebih tepat adalah banyak jalan menuju Mekkah (baca : Islam). Salah satunya ya, melalui cinta. Tepatnya melalui pernikahan. Sebelum menjadi penganut agama Islam, nama saya adalah Tan Wie San. Saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang masih teguh memegang adat istiadat dan kepercayaan leluhur kami di negeri Tiongkok. Meskipun begitu, keluarga kami adalah pemeluk Kristen Katolik.
Biasa, dalam sebuah keluarga Cina, meskipun mereka telah menjadi orang Kristen, tetapi adat istiadat Cina yang bersumber pada ajaran Konghucu tetap terpelihara. Ya, semacam sinkretisme dalam bahasa kerennya. Saya tak tahu persis kapan leluhur kami "hijrah" ke Indonesia. Tetapi, yang jelas saya lahir di Jakarta pada 11 Februari 1947 sebagai anak keempat dari 12 orang bersaudara. Pendidikan saya hanya sampai SLTA. Setelah itu, sebagaimana umumnya orang-orang keturunan Tionghoa, saya memilih jalan hidup sebagai pengusaha.
Sekitar tahun 70-an saya berkenalan dengan seorang wanita pribumi yang kelak menjadi istri saya. Dari pergaulan yang kemudian berlanjut menjadi sebuah persahabatan, saya mulai tahu bahwa ia berasal dari keluarga muslim. Meskipun tidak terlalu fanatik, tetapi mereka tekun mengamalkan ajaran-ajaran Islam seperti shalat, puasa, dan lain-lain.
Dari keluarga sahabat saya itulah saya banyak belajar tentang Islam. Satu hal menarik yang saya amati dalam ajaran Islam adalah toleransinya yang sangat tinggi kepada agama lain. Dari berbagai diskusi kecil di antara saya dan sahabat saya itu, saya semakin kagum bahwa para nabi sebelum Nabi Muhammad, seperti Nabi Daud, Nabi Musa, dan Nabi Isa (yang oleh kami disebut Yesus), bahkan diakui oleh Islam sebagai rasul (utusan) Tuhan. Bahkan, kata sahabat saya itu, umat Islam tidak boleh membeda bedakan para rasul itu.
Saya yang pada waktu itu masih beragama Katolik tentu saja amat heran. Sebab, ajaran yang seperti itu belum pernah saya dengar dari mulut para pastor Katolik. Bahkan, Nabi Muhammad sebagai Nabinya orang-orang Islam sama sekali tidak diakui sebagai Rasul Tuhan. Bahkan, tak jarang mereka menyebut nama Muhammad dengan nada yang agak sinis.
Kalaupun pada saat ini mereka terpaksa mengakui, itu karena mereka tidak bisa mengelak dari kenyataan sosiologis. Jadi, bukan pengakuan yang berdasarkan pada suatu keyakinan. Berbeda dengan Islam yang mempercayai para rasual Tuhan itu sebagai bagian dari rukun iman.
Di samping itu, ada satu hal yang mengganjal perasaan saya pada waktu itu. Meskipun 1eiuhur kami sudah bermukim puluhan tahun di negeri ini, tetapi dalam pergaulan sosial, terutama dengan masyarakat pribumi, kami masih tetap
dianggap sebagai orang asing. Kendati keluarga kami sudah beragama Katolik, tetapi "sekat" itu masih saja kami rasakan. Bahkan, pengelompokan etnik dalam kebaktian di gereja tetap saja berlaku. Misalnya HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Gereja Jawa, dan lain-lain.
Berbeda dengan Islam yang sama sekali tidak membedabedakan latar belakang penganutnya, dari mana pun asal seseorang, jika dia sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, mengakui Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul, maka ia akan diakui sebagai saudara. Itulah konsep persaudaraan dalam Islam yang tidak mengenal sekat-sekat geografis dan nasionalitas (kebangsaan). Praktek yang paling konkret dapat dijumpai di dalam masjid.
Masuk Islam dan Menikah
Dari persahabatan yang kian akrab itu semakin menyuburkan benih cinta di antara kami berdua. Dengan kata lain, kami ibarat dua sejoli yang tak dapat dipisahkan lagi. Tapi masih ada satu kendala, saya belum bersyahadat. Seorang pria atau wanita muslim haram menikah dengan orang yang bukan Islam.
Saya memang sudah mulai tertarik kepada ajaran Islam, tidak keberatan ketika orang tua kekasih saya itu mengajukan syarat agar saya masuk Islam jika ingin melamar anaknya. Saya pun menyanggupi permintaannya itu.
Singkatnya, pada hari yang telah disepakati, di rumah calon istri saya pada waktu itu, sekitar tahun 1975, ramai berkumpul para tetangga calon mertua untuk menyaksikan dua acara penting sekaligus, yakni upacara pengislaman saya, yang kemudian dilanjutkan dengan upacara akad nikah.
Pada acara itu juga diumumkan bahwa nama saya setelah resmi masuk Islam bukan lagi Tan Wie San, tetapi menjadi Hasan Sutanto. Saya bersyukur kepada Allah yang akhirnya mempertemukan saya dengan istri saya itu dalam naungan Islam. Tetapi di tengah kegembiraan itu, saya merasa sedih, karena tak satu pun pihak keluarga saya yang datang menghadiri upacara akad nikah kami.
Saya sudah bisa menduga, karena mereka tak rela ada anggota keluarganya yang "membelot" dari keimanannya terhadap Kristus. Tapi, saya bukan lagi anak kecil yang gampang didikte. Saya sudah dewasa. Saya sudah mampu berpikir dan membedakan mana yang balk untuk jalan hidup saya.
Untuk sekian tahun, pernikahan kami tidak mendapat restu dari keluarga saya. Rumah orang tua saya seperti tertutup untuk istri saya. Bukan hanya itu, bisnis yang saya rintis sejak masih bujangan, terpaksa harus saya lepaskan karena modalnya memang milik orang tua saya.
Terus terang, itu merupakan pukulan berat buat saya. Apalagi saya sudah beristri dan waktu itu istri saya sedang hamil anak pertama. Bisa Anda bayangkan, saya yang selagi bujangan bisa mengantongi uang ratusan ribu, setelah pernikahan justru tidak punya pemasukan sama sekali.
Alhamdulillah, sesuai janji Allah, setelah kesulitan ada kemudahan. Salah seorang rekan bisnis saya, orang pribumi, bermurah hati melibatkan saya dalam bisnisnya. Untuk sementara saya harus puas sebagai jasa perantara yang hanya mendapat komisi dari pembeli dan penjual. Yang penting halal, dan bisa untuk biaya dapur.
Pada tahun kelima pernikahan kami, rupanya Allah mulai membuka hati keluarga saya. Setelah meninggalnya papa, mama sangat kesepian karena adik saya sudah punya kesibukan masing-masing. Dalam keadaan seperti itulah, rupanya kekerasan hatinya kepada saya mulai mencair.
Melalui adik saya yang bungsu, mama meminta saya datang. Katanya, ia ingin berkenalan dengan istri dan anak-anak saya. Alhamdulillah, kelahiran anak saya yang kedua telah membawa berkah bagi keluarga kami. la bukan hanya diterima sebagai cucunya, bahkan menjadi cucu kesayangan mama saya. Hikmah yang lain, salah seorang adik saya, ada yang mengikuti jejak saya masuk Islam. Rupanya, memang banyak jalan menuju Mekah.
KotaSantri.com © 2002-2026