
Bilik » Mualaf | Kamis, 14 Juni 2012 pukul 14:30 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Sejumlah buku menggambarkan Islam secara negatif. Namun, stereotip terhadap Islam itu tak lantas membuat Malaak percaya.
Sebagian orientalis menyerang Islam dengan menyebutnya sebagai "agama buatan manusia" dan "agama yang menekan kaum perempuan".
"Aku sangat tertarik mengenal Islam. Tapi aku sadar, buku tentang Islam yang kubaca semuanya ditulis oleh kalangan non-Muslim. Tentu, aku melihat itu sebuah kebohongan," ujar Malaak.
Suatu ketika, ia bertemu dengan dua Muslimah asal Pakistan. Mereka mengenakan jilbab. Saat itulah, Malaak mendapatkan kesempatan untuk bertanya langsung tentang Islam dan muslim langsung dari sumbernya.
"Sejak berumur 12 tahun, Aku telah meninggalkan Kristen. Aku pun bebas untuk bertanya tentang agama lain," kata dia.
Kesempatan itu dimanfaatkan betul oleh Malaak. Ia pun begitu kagum dengan penjelasan kedua Muslimah itu tentang Islam.
Yang pasti, Malaak mulai meragukan apa yang telah dipaparkan lingkungan sekitarnya tentang Islam. Ia pun melanjutkan pencarian informasi tentang Islam.
Dalam sebuah kesempatan, kebetulan Malaak tengah bekerja di sebuat toko. Pada saat itu, ada Muslimah berjilbab yang bertanya tentang letak masjid.
Dengan semangat, Malaak memberitahu muslimah itu. Malaak sebenarnya sudah beberapa kali mengunjungi Islamic center. Ia pun berulang kali berdiskusi dengan muslimah yang kebetulan tengah berada di sana.
Suatu hari, ia kembali berkunjung ke Islamic center. Namun, teman-teman diskusinya kebetulan tidak hadir. Ia pun diminta untuk kembali beberapa hari kemudian.
Tiga hari berselang, ia kembali datang. Kali ini, ia kurang beruntung lantaran teman-temannya itu tidak jua datang. Untuk beberapa alasan, Malaak memutuskan untuk menunggu.
"Seingatku, saat itu adalah hari Jum'at. Aku datang pukul 12 siang, bertepatan dengan pelaksanaan shalat Jum'at. Sembari menunggu, aku diberikan buku oleh seorang muslimah. Buku karya Maurice Bucaille berjudul Injil, Al-Qur'an, dan Ilmu Pengetahuan," kenangnya.
"Ketika aku membacanya, aku tahu dalam diriku ada keinginan kuat untuk menjadi muslim. Aku tahu sekali, Al-Qur'an adalah buatan Allah SWT, yang tidak mungkin dibuat oleh Nabi Muhammad SAW yang kukenal sebagai sosok manusia biasa yang tidak dapat membaca lagi menulis," kenang dia.
Pekan selanjutnya, Malaak semakin mantap untuk menjadi Muslim. Ia pun memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Selesailah pencarian kebenaran yang dilakukannya selama 20 tahun.
Seperti mualaf lainnya, identitas baru Malaak mendapat penolakan dari keluarganya. Sang Ayah yang mengetahui dirinya muslim dan memiliki Al-Qur'an di apartemennya, segera merobek kitab suci itu.
Tak berkenan dengan perlakuan ayahnya, Malaak menghubungi polisi. Tapi mereka justru menolak untuk membantunya. "Jangan pikir apa yang ayah kamu lakukan salah," kenang Malaak menirukan suara petugas polisi yang mendatangi apartemennya.
Meski diperlakukan kasar, Malaak tak berhenti untuk memberikan penjelasan kepada orangtuanya tentang Islam dan Al-Qur'an. Kepada orangtuanya, Malaak mengatakan Islam dan Al-Qur'an mengajarkan kepada setiap Muslim untuk menghormati orangtua kendati berbeda keyakinan.
"Aku pun menceritakan salah seorang kisah sahabat yakni Umar bin Khattab. Situasi saat itu mulai membaik," katanya.
Tak berselang lama, Malaak pun memantapkan hati untuk mengenakan jilbab. Kali ini, tidak ada lagi penolakan dari orangtuanya.
"Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas nikmat-Nya yang telah diberikan padaku. Ayahku tidak lagi banyak berkomentar soal diriku. Tentu aku berpikiran positif, bahwa ayah mulai menerima pilihanku," pungkasnya.
Dari Republika Online
KotaSantri.com © 2002-2026