Bilik » Mualaf | Kamis, 10 Mei 2012 pukul 16:00 WIB

Ya Fat Ham : Mimpi Mendengar Suara Adzan

Penulis : Indra Widjaja

Saya WNI keturunan Cina. Sejak kecil saya beragama Konghucu, karena papa dan mama saya juga beragama Konghucu. Tapi saya disekolahkan di yayasan Katolik, karena sekolah Katolik dipandang lebih disiplin dan maju. Kebanyakan orang keturunan Cina bersekolah di sekolah swasta milik yayasan Katolik. Selain itu, saya juga dipanggilkan guru les privat khusus untuk baca-tulis huruf Cina. Sehingga, sampai sekarang saya dapat membaca dan menulis huruf Cina. Bahkan, saya pun berlangganan majalah dan koran berbahasa Cina.

Saya hanya tamatan SMA dan tidak melanjutkan kuliah, karena keluarga saya banyak dan saya memberikan kesempatan pada adik-adik agar dapat rata mengenyam sekolah sampai SMA. Waktu itu mencari uang amat susah. Kalau ingin melanjutkan sekolah, harus siap hidup prihatin.

Setamat SMA, saya membantu papa berjualan barang-barang kelontong. Selain itu, saya juga mengembangkan hobi fotografi saya. Saya sempat ikut kursus fotografi satu tahun. Untuk mengembangkan hobi itu, saya menjadi tukang foto amatiran, membuka kios afdruk, dan melayani foto panggilan, seperti mengabadikan acara pemikahan, hari ulang tahun, wisuda, kegiatan kongres organisasi, dan lain sebagainya. Saya merasa senang jika basil jepretan saya baik hasilnya. Pelanggan pun puas.

Saya mulai sering mendapat order mengabadikan berbagai acara. Saya dengan beberapa teman seprofesi membentuk kelompok usaha, sehingga antara sesama fotografer tak terjadi saingan yang tak sehat, tapi justru bekerja sama dan terkoordinasi. Tiap anggota mempunvai wilayah sendiri-sendiri. Jika kelebihan order, biasanya diberikan kepada anggota yang ordernya sedikit. Dengan demikian, dapat saling untung dan menolong teman.

Pada suatu malam tatkala tidur, saya bermimpi mendengar suara adzan. Padahal, saya tak pemah memperhatikan suara adzan. Kejadian aneh tersebut saya ceritakan kepada teman yang beragama Islam. Teman saya mengatakan bahwa saya akan mendapat hidayah atau petunjuk dari Allah untuk beragama tauhid, yaitu agama Islam, sayapun merenung dalam.

Pesan atau saran teman saya ini akhirnya saya pikirkan dalam-dalam dengan berbagai pertimbangan yang matang. Untuk memeluk agama Islam, saya memerlukan waktu yang lama, karena sejak kecil sampai dewasa dan berkeluarga saya sama sekali belum mengenal Islam. Semua keluarga saya dan keluarga istri juga tak ada yang beragama Islam.

Setelah saya musyawarahkan dengan istri tentang pembicaraan teman saya itu, agar kami mengenal agama Islam lebih jauh, istri saya juga perlu memikirkannya terlebih dulu. Maklum, selama ini ia belum mengenal agama Islam dan perlu mempelajari ajarannya terlebih dulu. Istilahnya berkenalan dulu.

Setelah agama Islam saya pelajari melalui teman saya itu, ditambah dengan membaca buku-buku Islam, akhirya saya mantap beragama Islam. Dengan bimbingan petugas Departemen Agama di Semarang, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Saya mendapat nama baru, yaitu Muhammad Hanafi.

Banyak teman-teman yang heran saya pindah agama, terutama mereka yang keturunan Cina. Bahkan, mereka menganggap saya "sakit". Sejak saya masuk Islam, banyak pelanggan yang meninggalkan saya. Bahkan, ada yang sampai membenci saya. Hal itu saya anggap biasa, karena rezeki itu karunia Ilahi dan yang mengatur adalah Allah.

Setelah memahami dan melaksanakan ajaran Islam, saya merasa lebih mantap dan bangga menjadi seorang muslim. Sebab, Islam adalah agama yang rasional. Sejak beragama Islam, semua gambar dewa dan patung-patung atau area-area kecil yang saya kumpulkan dan diberi sesaji sewaktu saya masih beragama Konghucu, saya buang. Kini, rumah saya beri hiasan kaligrafi ayat Al-Qur'an.

Tak lama setelah saya masuk Islam, anak saya dengan kesadarannya sendiri mengikuti jejak saya masuk Islam. la cukup lama berpikir dan mempelajari Islam. Alhamdulillah, istri dan anak-anak saya kini telah memeluk Islam. Saya pun bersyukur telah diberi kesempatan melaksanakan ibadah haji. Anak saya yang SMA saya kirim belajar ke Pondok Modem "Darussalam" Gontor. Sedangkan, anak saya yang bungsu saya kirim belajar ke Pondok Pesantren as-Salam Pabelan, Surakarta. Saya berharap agar anak kami dapat membaca dan menulis huruf Al-Qur'an serta mempelajari Islam melalui sumber ulama salaf di pondok-pesantren. Mohon do'a dari saudara sesama muslim di manapun.


Dari mualaf.com

KotaSantri.com © 2002-2026