
Bilik » Mualaf | Kamis, 16 Februari 2012 pukul 15:30 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Kalau sekarang saya bermukim di pinggir kota Jakarta, itu tidak lain karena saya menjadi seorang muhajirah 'wanita yang berhijrah' dalam arti sesungguhnya. Saya bukan hanya melakukan 'hijrah hati', yakni hijrah dari keyakinan lama (Kristen Protestan) kepada keyakinan yang baru (Islam); tetapi sekaligus melakukan hijrah badaniyah 'hijrah fisik, teritorial', yakni pindah dari tanah kelahiran saya di Riau ke kota Jakarta, demi mempertahankan aqidah islamiyah.
Saya dilahirkan di Dumai, Riau, pertengahan tahun 1971 sebagai anak ke-3 dari 5 bersaudara. Ayah dan ibu saya berasal dari Tapanuli Utara, Sumut, yang bertugas di kota minyak itu sebagai pendeta. Maka, tidak mengherankan bila orangtua saya amat keras dalam mendidik anak-anaknya menjadi seorang yang taat dan berdisiplin.
Hijrahnya saya kepada agama Islam pada akhir tahun 1990, sebetulnya merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang dan berliku. Sejak duduk di kelas V SD, saya sudah sering mengikuti pelajaran agama (Islam). Begitu pun ketika Saya masuk SMP. Pada setiap pelajaran agama, saya tidak pernah absen mengikutinya, meskipun temnan-teman saya yang beragama Kristen protes kepada saya. Waktu itu saya ikut bukan karena tertarik kepada Islam, tetapi sekadar kebiasaan sejak SD saja.
Ragu! Menjelang lulus SMP, ayah menyuruh saya mengikuti kegiatan marguru atau naik sidi, yaitu program pendalaman Alkitab yang wajib diikuti pria dan wanita yang sudah akil balig sebelum nikah. Setelah beberapa kali mengikuti marguru, timbul semangat baru. Saya baru menyadari kalau selama ini kurang mendalami ajaran agama saya sendiri.
Tetapi, ada satu kejadian yang mengganjal batin saya ketika mengikuti marguru. Waktu itu ada seorang peserta yang bertanya sesuatu yang agak mendasar, tetapi oleh pendeta yang mengajar, pertanyaan itu dikembalikan lagi kepada si penanya. Tentu saja, baik si penanya maupun peserta yang lain agak kecewa. Ketika itu saya mulai membanding-bandingkan antara cara mengajar pendeta dan guru agama Islam di SD dan SMP dulu. "Kok gitu, ya? Padahal, bapak guru agama di sekolah amat ramah dalam menanggapi pertanyaan yang sifatnya menguji sekalipun," kata saya dalam hati.
Pada suatu ketika, saya tidak tahan untuk tidak bertanya. Pertanyaan saya memang cukup pelik dan mendasar. "Mengapa Tuhan Bapa tidak mau menyelamatkan Yesus dari penganiayaan (penyaliban) tentara Kerajaan Romawi, padahal Yesus sudah berteriak-teriak minta tolong, 'Eli. Eli, lama sabakhtani? Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkaau tinggalkan aku?'
Kalau memang demikian, hanya ada dua kemungkinan : pertama, Tuhan Bapa sengaja membiarkan 'anak-Nya' menjadi korban kekejaman tentara Romawi. Atau, kemungkinan kedua, Tuhan Bapa tidak mampu untuk menyelamatkan 'anakNya'. Kalau kemungkinan ini yang terjadi, berarti yang hebat dan berkuasa tentu saja tentara Romawi. Bukan Tuhan Bapa," tegas saya tanpa ragu-ragu.
Dengan jawaban yang berbelit-belit, pendeta menjelaskan latar belakang penyaliban Yesus. Intinya, bahwa Yesus memang telah disiapkan sebagai "penebus dosa" seluruh umat manusia. Kemudian, secara spontan saya memberondong si pendeta tadi dengan pertanyaan yang tidak kalah jitu. "Kalau memang Yesus sudah disiapkan sebagai 'penebus dosa', mengapa la tidak bersedia dikorbankan dan bahkan berteriak minta tolong? Apakah Tuhan Bapa tidak pernah mewahyukan (mengabarkan) hal itu kepada Yesus?"
Sampai di sini dialog terhenti, karena pendeta tidak berkenan menjawabnya. Tentu saja, sebagai remaja yang sedang berkembang daya nalarnya, saya merasa amat kecewa. Saya tidak puas. Semakin saya ikuti, semakin timbul rasa tidak puas.
Sejak itu, saya mulai membanding-bandingkan antara ajaran agama saya dan ajaran Islam. Menurut saya, Islam lebih masuk akal dalam menjabarkan konsep ketuhanannya. Muhammad tidak pernah dianggap sebagai "Tuhan Anak" oleh kaum muslimin. Tidak seperti pandangan umat Kristen terhadap Nabi Isa (Yesus). Muhammad bagi kaum muslimin hanyalah seorang nabi dan rasul -tidak lebih.
Setamat SMP di Dumai, saya berniat melanjutkan sekolah ke SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) di ibu kota provinsi Riau, Pekanbaru. Sebetulnya, tujuan saya sekolah di Pekanbaru yang jaraknya sekitar 60 km dari Dumai sekadar agar saya dapat lebih bebas dari pengawasan orangtua. Terus terang harus saya akui, sejak peristiwa yang kurang menyenangkan itu, simpati saya kepada Islam semakin besar. Saya ingin mempelajari Islam lebih jauh lagi. Tetapi, bagaimana mungkin itu dapat saya lakukan di rumah, sementara ayah saya seorang pendeta?
Oleh karenanya, sengaja saya pilih SPMA, karena sekolah itu menyediakan asrama untuk siswa yang berasal dari luar kota. Singkat cerita, akhirnya saya diterima di sekolah itu dan tinggal di asrama. Kebetulan, mayoritas siswa SPMA itu beragama Islam. Sehingga, secara tidak langsung saya dapat mengamati aktivitas kawan-kawan saya yang beragama Islam, seperti shalat, mengaji, dan lain-lain.
Di SPMA prestasi saya terbilang baik. Pergaulan saya dengan sesama kawan dan para guru tidak ada hambatan. Bahkan, karena keluwesan saya dalam bergaul, pada tahun 1988 saya terpilih sebagai Ketua Osis (Organisasi Siswa Intra Sekolah) SPMA.
Karena posisi saya itu, menyebabkan saya harus sering tampil di muka, entah pada upacara sekolah atau pada forum forum rapat Osis. Tetapi, setiap kali akan membuka pembicaraan saya selalu mengalami kesulitan. Bukan karena grogi, tetapi karena saya selalu kesulitan untuk memilih kata yang tepat dan dapat mengenai sasaran. Sementara, kawan-kawan saya yang beragama Islam mempunyai salam pembuka yang sangat khas, yaitu assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Di samping itu, sebagai Ketua Osis saya terkadang merasa heran, mengapa jika menggerakkan kawan-kawan untuk acara yang sifatnya umum, seperti bakti sosial, Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni), agak mengalani kesulitan. Kawan kawan seperti kurang tergerak untuk terjun membantu. Tetapi anehnya, pada setiap diadakan PHBI (Peringatan Hari-hari Besar Islam), seperti Maulid Nabi, Isra Mikraj, dan lain-lain, sambutan kawan-kawan luar biasa. Bahkan, yang tidak duduk dalam kepanitiaan pun turut membantu.
Tetapi, terlepas dari keheranan itu, saya pun salut terhadap kawan-kawan yang beragama Islam. Meskipun saya berbeda keyakinan dengan mereka, tetapi mereka tidak pemah mengucilkan saya. Bahkan, dalam setiap acara-acara PHBI saya selalu diundang. Dan, karena posisi saya selaku Ketua Osis, mereka selalu memberi kesempatan kepada saya untuk memberikan kata sambutan.
Sikap keterbukaan kawan-kawan inilah yang semakin menumbuhkan rasa ingin tahu saya kepada Islam. Untunglah kawan saya sekamar mempunyai pengetahuan yang cukup tentang agamanya (Islam), sehingga, kami sering terlibat dalam diskusi-diskusi kecil tentang Islam dan Kristen.
Suatu kali saya ingin coba-coba belajar membaca Al-Quran dengan seorang kawan asrama. Tetapi, baru berjalan 5 menit datang kawan saya satu kampung yang juga beragama Kristen. Melihat saya sedang mempelajari huruf Arab, is pun mengancam saya. "Aku bisa laporkan kepada orang tuakau, kalau kau di sini suka belajar yang begituan," ancamnya.
Tentu saja, saya amat takut dengan ancaman itu. Sebab, jika orang tua saya sampai tahu, tutu saya dapat dipindahkan dari SPMA. Padahal, saya sudah telanjur betah bersekolah di situ. Sejak kejadian itu, saya menjadi lebih berhati-hati.
Dari dialog ringan yang saya lakukan dengan kawan akrab dan juga dengan guru agama, ditambah seringnya menyaksikan kawan-kawan yang shalat, maka saya sudah dapat menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang benar dan diterima di sisi Tuhan. Saya bertekad, suatu saat kelak harus menjadi seorang muslimah. Tetapi, saya sadari saat itu kondisinya belum memungkinkan. Saya masih ditanggung orang tua. Saya sadar, kalau ingin masuk Islam, maka terlebih dulu harus hidup mandiri. Karena saya sudah memperkirakan, keluarga saya tidak akan setuju dengan jalan yang akan saya ambil.
Masuk Islam
Setelah lulus SPMA, saya mencoba melamar kerja ke beberapa instansi. Tetapi selalu gagal. Akhimya, saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Untuk sementara, niat masuk Islam agak tertunda. Entah mengapa, anehnya. saya memilih UIR (Universitas Islam Riau), bukan PTS lain.
Hingga pada suatu hari, ketika mengikuti mata kuliah al-Islam, saga mengalami peristiwa yang kelak akan mengubah garis hidup saya. Pada saat itu, dosen mata kuliah al-Islam sedang menjelaskan bab tobat. Menurut sang dosen, untuk bertobat tidak perlu menunda-nunda waktu. "Siapa tahu hari ini atau sore nanti kita akan mati. Alangkah meruginya seorang manusia jika ia mati sebelum sempat bertobat kepada Tuhannya."
Seketika itu, batin saya terguncang hebat. Saya sadar betul kalau iman saya selama itu adalah iman yang sesat. Saya belum bersyahadat dan mengesakan Tuhan secara murni. Terbayanglah seketika kehidupan akhirat. Saya ngeri memikirkan nasib saya di akhirat kelak. Pada saat itu, saya lupa terhadap orang tua. Saya juga lupa kalau sava belum mandiri. Yang saya ingat pada saat itu adalah bagaimana jika saya mati nanti malam sebelum sempat bersyahadat. Padahal, saya sudah yakin dengan kebenaran Islam. Kebimbangan saya selama ini antara bekerja dulu baru kernudian masuk Islam, hilang sudah. Hati saya sudah mantap. "Apa pun yang terjadi, saya harus masuk Islam."
Ketika keinginan itu saya utarakan kepada kawan satu kos, ia tampak begitu gembira. Maka, tanpa membuang waktu ia pun memperkenalkan saya dengan beberapa orang ustadz di Pekanbaru. Tidak seperti yang saya bayangkan, ternyata keempat orang ustadz yang kami datangi secara terpisah itu, tidak begitu saja menerima niat saya itu. Mereka bahkan terkesan menginterogasi saya. Saya ditanyai sampai sejauh mana keseriusan saya untuk masuk Islam. Mereka juga menggambarkan bahwa masuk Islamn itu berat. Harus shalat 5 kali dalam sehari, tidak boleh ini, tidak boleh itu, dan lain-lain. Pokoknya yang berat-berat. Setelah itu, saya disuruh pulang untuk berpikir seribu kali agar tidak menyesal.
Saya hampir putus asa dan kecewa melihat sikap para ustadz tersebut. "Orang mau masuk Islam kok malah ditakut takuti," kata saya dalam perjalanan pulang. Tetapi, kawan kos tadi menghibur saya. Katanya, saya sedang diuji sampai sejauh mana tingkat keseriusan saya untuk masuk Islam.
Maka, sesuai dengan janji, saya pun datang lagi ke rumah salah seorang ustadz tadi. Tetapi, tidak seperti yang lalu, kali ini saya disambut ramah. Bahkan, ketika akhirnya saya kemukakan bahwa saya sudah bertekad untuk masuk Islam, ustadz itu pun memanggil istrinya, dan meminta agar aku selama beberapa hari belajar tentang shalat dan bersuci kepada istrinya itu.
Singkat cerita, pada hari Selasa pagi, 8 Desember 1990 bertempat di sebuah masjid kecil di Pekanbaru, saya mengucapkan dua kalimat shahadat dengan bimbingan para ustadz. Kemudian, oleh ustadz yang membimbing saya itu, saya diberi sebuah nama baru, Nur Hidayah yang berarti cahaya petunjuk. Allahu Akbar.
Mendapat Ancaman
Perihal keislaman saya itu, tidak ada siapa pun yang tahu kecuali seorang kawan akrab saya satu kos. Lingkungan tempat saya kos juga tidak ada yang tahu. Saya sengaja memilih masjid yang cukup jauh dari tempat kos. Ini saya lakukan semata-mata agar adik saya yang tempat kosnya tidak jauh dari tempat saya, tidak mengetahui kalau saya, kakaknya, sudah menjadi orang Islam.
Tetapi kata orang, sepandai-pandai menyimpan rahasia, akhimya pasti 'kan tercium juga. Saya yang sudah menjadi orang Islam, tentu saja tidak lagi pergi ke gereja. Beberapa kali adik saya pada hari Minggu menjemput saya untuk sama-sama pergi ke gereja. Tetapi, saya selalu menolak ikut dengan alasan sedang menyiapkan mid-semester. Pada hari Minggu yang lain saya beralasan pergi belajar bersama ke tempat kawan. Pokoknya, bagaunana agar bisa menghindar untuk tidak pergi ke gereja.
Lama-lama adik saya itu jengkel juga. Maka, pada kesempatan pulang ke Dumai, tidak pelak ia pun mengadukan kelakuan saya yang malas pergi ke gereja'itu kepada ayah dan ibu. Maka, ketika adik saya itu kembali lagi ke Pekanbaru, ia pun membawa pesan agar saya segera pulang ke rumah. Alasannya, ibu sudah rindu.
Khawatir mereka curiga, maka saya pun segera pulang ke Dumai. Tetapi sesampai di rumah, bukan ibu yang menyambut, melainkan ayah yang menunggu dengan wajah dingin. Saya betul-betul gelisah. Alhamdulillah, ternyata mereka belum mengetahui kalau saya sudah masuk Islam. Tetapi, tidak urung saya mendapatkan marahnya ayah. Sebelum permisi pulang, setengah mengancam ayah berkata kepada saya, "Kalau kau masih suka malas ikut kebaktian, lebih baik kau tinggal di sini bersama orang tua."
Ancaman ayah itu tentu saja membuat saya takut. Sebab, saya tahu ayah tidak pernah main-main dengan ucapannya. Semalaman saya tidak dapat tidur memikirkan ancaman ayah. "Kalau aku tinggal bersama orang tua, itu sama saja dengan mengajak mereka perang. Dan, ayah bukan tipe orang yang gampang dikalahkan," kata saya membatin.
Karena tidak menemukan jalan keluar yang lebih baik, akhirnya masalah ini saya diskusikan dengan ustadz yang membimbing saya masuk Islam. Setelah mendapat gambaran yang cukup jelas tentang keluarga saya, akhirnya ustadz dengan berat hati menyarankan agar untuk sementara waktu sebaiknya saya hijrah ke pinggir kota. Keputusan ini diambil, demi keselamatan jiwa dan iman saya.
Selebihnya tidak perlu saya ceritakan, karena setelah itu teror demi teror datang kepada kawan akrab saya satu kos karena mereka tidak menemukan saya di rumah itu. Disusul ke kampus, saya pun sudah tidak ada di sana. Saya sempat cemas, karena kawan saya itu tahu betul ke mana saya menyingkir. Apalagi selama ini ia bukan orang yang pandai menyimpan rahasia. Tetapi, masya Allah, untuk yang satu ini tidak secuil pun rahasia terkuak dari mulutnya. Meskipun ia sudah mondar-mandir ke kantor Kodim (Komando Distrik Militer) untuk dimintai keterangan karena aduan keluargaku. la bahkan sudah 3 kali berpindah tempat kos agar luput dari "teror" keluarga saya. Saya rasa hanya Allah-lah yang memberikan kekuatan kepadanya, sehingga ia begitu tabah menghadapi intimidasi.
Ketika teror sudah semakin memuncak dan dapat mengancam keselamatan saya, ia pun segera menjumpai saya di tempat persembunyian, di pinggir kota Pekanbaru. Kesimpulannya, saya diminta secepatnya hijrah ke luar kota Pekanbaru, kalau mungkin malah ke Jakarta. Alasannya, ia khawatir bila suatu saat tidak tahan diinti nidasi, maka bocorlah rahasia yang selama ini ia pegang teguh.
Ketika saya konsultasikan kepada ustadz, beliau pun menyetujui usulan kawan saya itu. Maka, berbekal pakaian secukupnya dan uang pemberian ustadz, saya pun berangkat menuju kota Medan ke rumah salah seorang famili ustadz di sana. Kurang lebih 2 bulan saya di Medan. Dan, ketika ada di antara famili mereka yang akan ke Jakarta, saya pun ikut bersama mereka ke Jakarta. Di ibu kota negara inilah saya dititipkan di sebuah pondok pesantren untuk mendalami Islam yang sebenarnya.
Meskipun saya sudah dipisahkan selat sunda, tetapi dari pesantren itu setiap bulan selalu saya layangkan surat kepada orang tua di rumah. Terutama buat ibunda yang tentu bersedih telah kehilangan seorang putrinya.
KotaSantri.com © 2002-2026