
Bilik » Mualaf | Kamis, 21 Juli 2011 pukul 15:51 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Saya dilahirkan di kota Manado, 25 Mei 1951. Lingkungan keluarga saya tidak tergolong keluarga Kristen sekuler. Bahkan, mereka boleh dibilang fanatik dengan prinsip kekristenannya. Papa saya bernama Ernest Maramis, sedangkan mama saya bernama Agustina Tanod. Terus terang saja, saya beragama Kristen lebih disebabkan faktor keturunan, bukan karena ketaatan saya sebagai pengikut Yesus Kristus. Bahkan secara pribadi, saya akui bahwa saya tidak pernah bisa memahami ajaran Kristen secara mendalam.
Yang saya ketahui hanyalah beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat bagi seluruh manusia, seperti tertulis dalamYohanes 14:6, "Kata Yesus kepadanya, 'Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang jika tidak melalui aku." Namun, sekali lagi saya katakan, apa arti dan makna sesungguhnya juru selamat di dalam Yesus, hingga kini saya anggap hanyalah kisah fiktif yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Saya masih ingat, jika pastor membawakan khotbah pada kebaktian Misa Kudus, bisa dipastikan temanya berkenaan dengan "Kasih Kristus" untuk semua orang. Tetapi, buat saya, khotbah itu sama sekali tidak menyentuh. Apalagi sampai meresap di dalam hati dan pikiran.
Bahkan, terkadang saya merasa sangat tertekan apabila harus mengikuti kebaktian di gereja, karena acara kegiatan yang begitu padat dan hanya membuat kepala saya pening. Bagaimana tidak? Saya menyaksikan para kawula mudanya lebih memanfaatkan pertemuan kebaktian di gereja tak ubahnya sebagai tempat "pameran busana".
Hingga akhimya saya simpulkan, ajaran agama Kristen tidak mampu mengubah akhlak manusia kepada jalan yang lebih baik menuju ke jalan kebenaran. Adapun fakta lainnya, apabila Hari Natal dan Tahun Baru tiba, umat Kristen di seluruh dunia memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk pesta pora dan mabuk-mabukan.
Natal yang dianggap suci itu, tak ubahnya bagaikan pesta maksiat. Pemandangan seperti ini, bagi saya tidak asing lagi. Mungkin ini sudah menjadi tradisi untuk orang-orang Kawanua (sebutan penduduk asli Manado). Sungguh, saya merasa sedih dan sangat terpukul apabila menyaksikan kenyataan ini.
Sejak saya mulai meragukan isi yang terkandung dalam Alkitab, bersamaan dengan kondisi seperti ini, saya merasa lebih akrab bersahabat dengan kawan-kawan yang beragama Islam. Tentu saja ada hal yang sangat menyentuh nurani saya. Terutama ketika umat Islam mendengarkan seruan untuk menunaikan ibadah shalat melalui azan di masjid ataupun mushala.
Entah mengapa, sekalipun saya masih menganut agama Kristen, tetapi bila azan dikumandangkan dengan alunan suara yang indah, maka hati dan jiwa ini, terasa begitu damai dan sejuk.
Penduduk di kota Manado dan Minahasa mayoritas beragama Kristen. Namun, sudah menjadi suatu kebiasaan di daerah saya, kalau umat Islam merayakan Idul Fitri, kami umat Kristen memberi ucapan selamat kepada mereka. Juga sebaliknya. Kadang-kadang, ada juga umat Islam yang mengucapkan selamat Natal.
Pada kesempatan seperti ini, saya mulai membanding-bandingkan suasana di Hari Natal dengan Hari Raya Idul Fitri. Perbedaannya jelas sekali. Umat Islam tampak sangat bersahaja, dan saya dapat merasakan bahwa umat Islam menganggap hari yang suci itu sebagai bagian dari ibadah menuju ketakwaan.
Setelah saya menempuh pertalanan batin yang cukup melelahkan, karena harus menerobos berbagai rintangan dari keluarga besar Maramis, alhamdulillah, tepat pada hari Jumat 24 Maret 1978, saya tinggalkan agarna anutan saya yang lama (Katolik), dan secara ikhlas masuk agama Islam di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Pengucapan ikrar dua kalimat syahadat dibimbing Bapak H. Alamsyah Ratuprawiranegara, mantan Menteri Agama RI.
Akhirnya saya memilih Islam berkat bimbingan suami saya, Hayatuddin Ahmad Tapitapi, yang memang sudah beragama Islam, karena suami saya berasal dari Ternate (Maluku Utara). Kini nama saya Frida Maramis.
Sekarang saya hidup bersama ketiga putri saya. Insya Allah, kesaksian saya ini bisa bermanfaat untuk makin memperkuat benteng pertahanan iman clan Islam kita, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Maa'idah ayat 3, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu agama bagimu."
Dari mualaf.com
KotaSantri.com © 2002-2026