Bilik » Mualaf | Kamis, 2 September 2010 pukul 22:45 WIB

Frederica Cynthia : Terpaksa Shalat di Kamar Mandi

Penulis : Indra Widjaja

Namaku Frederica Cynthia, usiaku saat ini adalah 22 tahun. Keluargaku adalah penganut agama non Islam yang taat, dan mereka sangat taat sekali dalam beribadah. Begitu juga aku sebelum tahun 2008, dimana aku menemukan jati diriku yang sesungguhnya di dalam Islam. Islam menjawab banyak pertanyaan hidupku, dan akhirnya aku mantap memeluk Islam sampai saat ini dan Insya Allah sampai Allah menutup waktuku di dunia ini, amin.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, dan sepanjang hidupku selalu mengikuti kegiatan agama tersebut, mulai dari kegiatan rutin sampai ke kegiatan yang merupakan perayaan, setahun sekali, dimana setahun sekali kami selalu memperingati kelahiran “tuhan” kami.

Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menanyakan, kenapa “tuhan” kok dilahirkan, kenapa “tuhan” melalui proses yang sama seperti aku, atau manusia yang lainnya, dan kenapa “tuhan” harus dilahirkan dari seorang manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini terlihat sepele dan sederhana, hanya jawabannya sangat tidak bisa memuaskan, karena jawaban hanya bersifat asumsi dan asumsi, seperti “tuhan” turun ke bumi untuk menebus dosa manusia.

Lalu, kenapa juga lahirnya "tuhan" harus melalui proses yang sama dengan manusia yang lain? Dan jawabannya adalah selalu seputar agar “tuhan” dapat merakyat, tapi ini adalah asumsi juga. Jika aku bertanya kenapa dilahirkan seperti manusia biasa? Mereka selalu bilang, “Tidak, “tuhan” dilahirkan oleh seorang perawan."

Lantas, aku bilang itu kan “single mother” atau istilah kerennya sekarang adalah “hamil tanpa suami”. Lalu aku bilang apa bedanya dengan kebanyakan orang sekarang yang punya anak tanpa suami? Apakah bisa dijamin “ibunya tuhan” itu tidak berbuat (maaf) zinnah? Adakah bukti? Dan jawabannya adalah dengan apa yang tertulis di kitab dan diceritakan. Ini konyol buatku.

Dalam Islam lebih masuk akal, karena orang yang mereka sebut sebagai “tuhan” ternyata adalah seorang Nabi dan dalam Islam Nabi tersebut mendapat posisi yang luar biasa, diagungkan, bukan dihina dan dibunuh layaknya penjahat seperti tertulis di kitab mereka, dengan alasan apapun juga. Itu membuat “tuhan” mereka nampak hina.

Perjalananku sebagai muslim kujalani dengan diam-diam, baru beberapa bulan kebelakang ini aku mengutarakan kepada orangtua bahwa aku adalah seorang muslim. Akibatnya, banyak perlakuan dari mereka yang luar biasa terhadapku, mulai dari mukenaku yang dibuang sehingga aku harus shalat menggunakan sprei yang aku kaitkan dengan peniti, lalu aku dilarang shalat sehingga aku harus shalat di kamar mandi dengan seadanya.

Dan aku yakin, Allah Mahatahu dengan kondisiku, sehingga pada pertengahan April 2010, aku dipertemukan dengan situs mualaf.com dan bertemu dengan salah satu Pembina di sana, yang akhirnya memediasiku di kampus, antara aku dengan orangtuaku.

Allah Mahabaik, aku sangat rasakan, ternyata salah satu dosen yang membantu memediasi aku dimana dia adalah orang Filipina, ternyata seorang mualaf juga, dan aku baru tahu di detik-detik terakhir saat dia mau memediasi aku dengan orangtuaku, dan juga salah seorang dosen yang mendampingiku, dimana dia adalah dari suku Manado, dan ternyata juga muslim.

Subhanallah, pertolongan Allah sangat dekat, aku merasa sangat bahagia saat itu, pada saat mereka membantu menjelaskan statusku yang sudah menjadi muslim kepada orangtuaku, hingga sekarang aku masih menjalani kehidupanku dan Insya Allah tahun ini adalah Idul Fitri ketiga dalam hidupku, dan aku bahagia menjadi muslim.

Dari mualaf.com

KotaSantri.com © 2002-2026