
Bilik » Goresan | Senin, 4 November 2013 pukul 23:00 WIB
Penulis : Mega Everistiana Wati
hujan angin
bertiup kencang jadi topan
menerpa melanda jalan
aku melangkah
di tengahnya sambil kumainkan siterku
hujan topan
gelombang bergejolak ganas mengundang badai
menabur cerca
udara jadi apak
kulanjutkan terus langkahku
seperti suraku mengikut mantap alunan siter
bergemuruh dedaunan pantai
seperti jutaan titik hujan
jarum-jarum kata berbisa
berhamburan di jalan bersama topan
dan jemariku kian kuat memetik dawai siter
jerit suara hatiku melengking dalam lagu
di angkasa pekad, riuh burung maut bersayap dendam
memburu mengintai bangkai
mencari mayat yang rebah kalah
merekakah, burung-burung maut
kiriman penabur laksaan jarum dendam berbisa?
apak langit
apak ombak
apak jiwa-jiwa lapuk membelatung busuk
seribu demit menabur bisa meracuni bumi
aku masih melangkah tegak di tengahnya
berdebur gelombang membentur karang
luluh sendiri meninggalkan busa
hujan jarum kata berbisa
jatuh dari dedaunan pantai pohon kelapa
di sini, aku kian berlari memburu cahaya
hujan hari ini
hujan angin dan topan dendam
selaksa jarum berbisa bertaburan
ditabur jiwa-jiwa apak dan hitam
aku di tengahnya menggumamkan lagu harapan
hong kong dan perjalanan
hong kong dan pantai bermatahari
harapan dan mimpi
menghalau apak jiwa demit dari langitmu
kutuliskan lirik lagu siter ini menyanyikan lagu kemanusian!
biar saja di tengah terpaan badai kumainkan terus siterku
hingga badai lelah sendiri, mereda!
KotaSantri.com © 2002-2026