
Bilik » Goresan | Senin, 14 Februari 2011 pukul 18:00 WIB
Penulis : Febi Robianti
Bila detil tak dapat dipahami sebagaimana butiran pasir,
manakah cara terbaik menyisiri pantai-Mu,
Kekasih
Bila kabut terlalu tebal untuk kususut,
manakah arah terbaik menjenguk asma-Mu?
Hariku yang sekian ini masih berulang
Namun, manakah bila yang pantas untuk kuhidangkan
pada-Mu saja?
Sayup kubuka sabda suci-Mu
Lalu…
terhantarlah segumpal bebat yang menawar-nawariku
pada jalan yang sama sekali asing:
Juang tak serupa para pelaga nusantara
Kutimbang akal dan rasa
Menggauli tanda dengan cemas dan do’a
aku ini orang beriman!
maka catatlah:
“Bila genderang lamat ditabuh musuh,
(fajar maupun senja)
harap usah sisakan banda
usah pula sebaris jeda
(antara aku dan Badar-Mu)
Ya!
Bukankah yang pasti hanya janji Engkau, Kekasih?”
Maka, jadikanlah aku pejuang
KotaSantri.com © 2002-2026