HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Santri
Humaidi Thaher
Engineering
Tangerang
Siti Nafiah
Karyawan
Bantul
Yuyun Yuningsih
Guru
Bandung
Forum
Suara
Farhan : Ya Allah,, kangen tempat ini.. Kangen masa2 sekolah dulu.. :')
Naflah : bla bla bla..... ????????
Listyo : Assalamu'alaikum... Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun tdk aktif, bisa buka kembali akun saya...
Tulisan
Santripedia
Bilal bin Rabah

Siapa nyana kata-kata yang keluar dari mulut seorang budak Habsyi yang kulitnya hitam legam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat, dan bercambang tipis itu suatu ketika berubah menjadi yel-yel yang diteriakkan para mujahid muslim dalam Perang Badar. "Ahad... Ahad...! (Allah Yang Mahatunggal... Allah Yang Maha Tunggal...!)

Kata-kata ini semula meluncur deras dari Bilal bin Rabah, seorang budak dari Bani Jumah, ketika ia disiksa atas perintah majikannya, Umayah bin Khalaf, dengan cara ditelanjangi dan dibakar diterik panasnya padang pasir sambil ditindih batu panas membara. Kata-kata yang disebut Bilal itu menggantikan nama Lata dan 'Uzza yang diteriakkan para pendera agar diikrarkan Bilal sebagai tanda tunduk dan patuhnya mereka terhadap tuhan-tuhan mereka. Kata-kata itu pula yang akhirnya membuat Umayah bin Khalaf menggigil ketika menghadapi Perang Badar. Seolah mengingatkannya akan kegigihan, keteguhan, dan keberanian seorang budaknya dulu yang tetap melafadhkan kata itu sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Mulanya, Bilal sering sekali mendengar majikannya membicarakan Rasulullah dengan nada menuduh, penuh rasa amarah, dan kebencian. Di lain waktu, ia juga pernah mendengar pengakuan Umayah bin Khalaf berasama para pemuka Bani Jumah lainnya yang merasa terkesan dengan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, orang yang tengah menyiarkan ajaran baru sekaligus juga dianggap ancaman bagi kelangsungan kepercayaan warisan nenek moyang mereka. Mereka mengakui kejujuran dan ketulusan hati Rasul, serta kesetiannya dalam menjaga amanah. Apa yang mereka ceritakan justru membawa Bilal pada rasa ingin tahu lebih banyak tentang apa dan siapa orang yang dibicarakan itu. Hingga kemudian akhirnya Bilal mendatangi Rasulullah dan bersyahadat di hadapan beliau serta menyatakan ketundukannya pada agama yang dibawa Rasulullah. Umayah bin Khalaf pun murka. Inilah tamparan pahit bagi kehormatannya. Semenjak itu, Bilal menjalani siksaan dan deraan dari majikannya - seperti yang diungkapkan di awal tulisan - sampai suatu ketika Abu Bakar Ash Shiddiq menyelamatkan Bilal bin Rabah dengan cara menebus sekaligus membebaskannya.

Bersama Abu Bakar pula, Bilal menghadap Rasulullah SAW dan kemudian bergabung bersama kaum Muslimin lainnya. Ketika Rasulullah menyeru untuk hijrah dan menetap di Madinah, beliau mulai mensyariatkan adzan sebagai tanda waktu shalat tiba. Namun saat itu belum diputuskan siapa yang akan mengumandangkannya ke seluruh pelosok negeri. Maka Rasulullah SAW kemudian menunjuk Bilal bin Rabah menjadi muadzin yang akan mengumandangkan adzan sebanyak lima kali dalam sehari setiap kali datang waktu shalat. Jadilah Bilal Muadzin pertama bagi Islam.

Persahabatan Bilal dengan Rasulullah terus berlanjut. Tak aneh, tatkala Rasulullah SAW wafat, tak kurang kesedihan Bilal bin Rabah, meskipun Rasulullah wafat dalam keadaan ridha dan diridhai. Pengganti beliau pun yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, ditemui Bilal untuk menyampaikan isi hatinya. Bilal berniat untuk meninggalkan Mekkah menuju Syria sebagai pejuang mujahid. Ketia ia diminta untuk tetap bersama-sama kaum Muslimin di Mekkah dan menjadi muadzin, Bilal menjawab bahwa ia tidak akan menjadi muadzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah.

Kecintaannya terhadap Rasulullah telah membuatnya tidak mampu meneruskan seruan adzannya terutama ketika harus melafadzkan "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", kenangan lamanya seolah bangkit kembali sehingga suaranya pun tertelan oleh kesedihan. Adzannya yang terakhir adalah ketika Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syiria. Orang-orang pada saat itu memohon kepada khalifah untuk meminta Bilal menjadi muadzin bagi satu shalat saja. Amirul Mukminin pun memanggilnya dan meminta Bilal menjadi muadzin. Ketika Bilal naik ke menara dan mulai mengumandangkan adzan, sahabat-sahabat yang mengenal kedekatan Bilal ketika menjadi muadzin Rasulullah SAW, sama-sama menangis mencucurkan air mata, satu hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

Sumber
Tabloid MQ EDISI 12/TH.I/APRIL 2001
Bagikan
Kontributor
Mujahid Alamaya
18 Mei 2011 pukul 20:40 WIB

Dipersilahkan untuk menyebarkan artikel ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mashalli | karyawan
Alhamdulillah... Meski baru bergabung di KSC, semakin nambah wawasan dan berbagi pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2018
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2553 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels