Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Santri
syamsur ridho
pelajar
jember
M.Iqbal.H
Wiraswasta
cimahi
TITIS CIPTA
Kuli Keyboard
Banjarnegara
Forum
Suara
Azwar : 2021 siapa yang masih ada di KSC ? #senyum
Fahima : Kembali setelah sekian tahun...
Tulisan
Santripedia
Riwayat Singkat Kehidupan Rasulullah SAW (9)

Kebencian dan Permusuhan Quraisy terhadap Islam

Kebencian dan rasa permusuhan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah dan ajarannya makin hari makin menjadi-jadi. Dengan harapan agar Rasulullah mau berhenti berdakwah, dibawah pimpinan Abu Jahal, mereka terus melempar berbagai fitnah dan hasutan ke arah Rasulullah SAW.

Sebagian besar penduduk Mekah, yaitu orang-orang Quraisy adalah Musyrik. Meski mereka mengakui adanya Allah sebagai Sang Pencipta,mereka juga mengakui dan bahkan menyembah berhala. Uzza, Latta dan Manna adalah nama-nama berhala yang mereka anggap sebagai anak perempuan Allah. Ini adalah agama nenek moyang mereka sejak dahulu. Di kota Mekah inilah pusat penyembahan berhala dilaksanakan.

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (QS. An-Najm [53] : 19-20).

Sebagaimana kita ketahui, kota Mekah lahir ribuan tahun yang lalu berkat adanya sumber air abadi, sumur Zam zam. Menurut berbagai riwayat sumur ini muncul beberapa saat setelah kelahiran nabi Ismail as. Setelah Ismail dewasa, bersama ayahnya, nabi Ibrahim as, berdua mereka membangun kembali bangunan Ka’bah yang fondasinya telah dibangun oleh nabi Adam AS.

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 127).

Sejak itu maka Mekah dengan Ka’bahnya berkembang menjadi pusat keagamaan, pusat penyembahan kepada Allah SWT Yang Esa. Demikian pula ibadah haji yang dilaksanakan setahun satu kali. Namun seiring dengan berlalunya waktu, penyembahan dan kegiatan haji tersebut lama kelamaan menjadi melenceng dari arahnya yang semula benar. Patung-patung mulai didirikan dan akhirnya malah disembah. Kegiatan haji seperti tawaf, sa’i dan pemotongan kurban menjadi ritual sesat yang sungguh tidak beradab. Bahkan dengan hanya secarik kain yang menutup kemaluan kaum perempuan berlari-lari kecil mengelilingi Ka’bah. Sementara darah kurban hewan dilulurkan ke tembok Ka’bah dengan maksud sebagai sesajen bagi tuhan-tuhan mereka!! Ironisnya, para pemuka dan penjaga Kabah malah bertambah bangga dan arogan. Mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang terhormat dan termulia yang paling tahu tentang agama yang mereka jalani.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2] : 170).

Menurut mereka kalaupun Allah menurunkan seorang Rasul, mustinya merekalah yang paling pantas ditunjuk bukan Muhammad yang mereka anggap miskin dan tidak memiliki kekuasaan. Yang saking miskinnya ketika kecil tak seorang perempuanpun sudi menyusuinya kecuali terpaksa. Yang bahkan hingga menikah bertahun-tahunpun tidak juga mempunyai anak lelaki. (Kedua anak lelaki Rasulullah meninggal dunia ketika masih kanak-kanak. Sementara memiliki anak perempuan dianggap aib). Itu sebabnya mereka merasa jengkel dan kesal dengan datangnya ajaran yang dibawa Muhammad SAW.

Mereka terus berusaha memojokkan Rasulullah dengan berbagai pertanyaan yang intinya tidak mau mempercayai beliau. Disamping itu mereka juga sebenarnya khawatir Islam akan menghapus semua kebiasaan-kebiasaan ritual mereka, merebut kekuasaan dan merusak gengsi mereka terhadap masyarakat Mekah dan penjagaan Ka’bah yang mereka agungkan.

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.” (QS. Al-Baqarah [2] : 118).

Ibnu Abbas memaparkan bahwa ayat di atas turun tak lama setekah Rafi’ bin Huraimalah berkata kepada nabi SAW, “Jika benar engkau adalah seorang utusan Allah sampaikan kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami mendengar kata-kata-Nya.” (HR. Ibnu jarir dan Ibnu Abi Hatim).

“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah [2] : 108).

Ibnu Abbas berkata bahwa Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Zaid berkata kepada nabi SAW, “Wahai Muhammad, datangkanlah dari langit kitab yang kau turunkan kepada kami dan dapat kami baca. Atau pancarkanlah sungai untuk kami agar kami beriman kepadamu.” Maka Allah menurunkan ayat diatas. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Anas, Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas menerangkan bahwa suatu ketika penduduk Mekah menantang Rasulullah agar memperlihatkan sebuah mukjizat kepada mereka. Maka beliaupun memperlihatkan bulan yang terbelah menjadi dua bagian hingga mereka melihat warna merah di antara keduanya. (HR. Tirmidzi dan HR. Shahih Muslim).

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus." (QS. Al-Qamar [54] : 1-2).

Ibnu Abbas juga menceritakan bahwa suatu saat pernah orang-orang Quraisy berujar kepada Rasulullah : “Mintalah kepada Allah agar Dia mengubah bukit Shafa menjadi emas sehingga kita memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh.”

Begitulah penduduk Mekah mengajukan berbagai pertanyaan. Mereka tidak peduli apakah pertanyaan dan permintaan mereka itu terpenuhi atau tidak. Karena mereka memang bukan bermaksud mencari kebenaran melainkan hanya ingin memojokkan, menghina dan mengejek Rasulullah. Mereka juga menyiksa siapa saja yang berani meninggalkan agama nenek moyang mereka. Ammar dan kedua orang tuanya, Yassir dan Sumayya yang disiksa hingga meninggal adalah hanya sedikit contoh diantaranya. Sementara Bilal, budak hitam yang kemudian dikenal sebagai muazzin pertama dan merupakan satu dari 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah dibeli oleh Abu bakar Sidik hingga bebas dari penyiksaan hebat yang dideritanya.

Namun Rasulullah tetap bertahan. Ini adalah perintah Allah SWT, Sang Pencipta yang harus ditaati. Beliau tidak akan mundur, apapun yang dilakukan para pembesar Quraisy atau siapapun yang ingin menghalanginya. Abu Thalib, paman Rasulullah yang selalu melindungi beliau sampai kewalahan. Ia begitu khawatir terhadap keselamatan ponakan yang telah dianggap seperti anak sendiri itu.

“Demi Allah paman, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku melepaskan ajakanku .. tak akan aku melepaskannya," demikian jawaban tegas Muhammad SAW ketika pamannya itu atas desakan para pemuka Mekah meminta Rasulullah agar berhenti berdakwah. Padahal pembesar-pembesar Mekah itu menjanjikan kekuasaan dan perempuan bila Rasulullah mau meninggalkan ajakannya.

Maka sejak itu Abu Thalib tidak pernah lagi meminta Rasulullah untuk berhenti berdakwah. Bahkan ia bertambah serius melindungi Rasulullah dari segala ancaman dan serangan musuh.

Lima tahun setelah wahyu pertama turun, karena penyiksaan tidak juga berkurang, akhirnya Rasulullah mengizinkan sejumlah Muslimin untuk mencari suaka ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 Muslim dan 4 Muslimah, termasuk diantaranya adalah Ruqayah, putri kedua Rasulullah dan suaminya, Ustman bin Affan. Negri di Afrika yang sekarang bernama Ethiopia ini ketika itu berada dibawah pemerintahan seorang raja Nasrani alim yang sangat bijaksana, yaitu Najasyi.

Baru beberapa waktu mereka menetap di negri tersebut, ketika kemudian mereka mendengar kabar bahwa beberapa orang kuat Quraisy, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab telah memeluk Islam. Maka merekapun berniat kembali ke Mekah. Namun ditengah perjalanan mereka terpaksa kembali ke Habasyah karena ternyata ke-Islaman dua tokoh tersebut malah makin membuat orang Quraisy memperkuat tekanan terhadap orang-orang Islam. Mereka bahkan mengirim beberapa wakilnya untuk pergi ke Habasyah dan meminta secara langsung kepada raja Najasyi agar mengembalikan orang-orang Islam yang meminta suaka kepadanya.

Namun bagaimana tanggapan raja tersebut? Najasyi malah menangis terharu ketika mendengar Ja’far bin Abu Thalib, salah seorang Muslim yang ikut hijrah, membacakan surat Maryam.

“Kaaf Haa Yaa `Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” ….. …. …. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba “… hingga akhir surat.

( Click : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

“Aku tidak akan menyerahkan orang-orang yang mencari kebenaran ini kepada kalian. Mereka adalah orang yang benar. Demikian pula nabimu," demikian jawaban Najasyi. Menurut beberapa sumber Najasyi bahkan bersumpah akan mengakui Islam dan ajarannya bila ia sempat bertemu Rasulullah.

Habis sudah kesabaran para pembesar Quraisy. Betapa kesalnya mereka menghadapi kenyataan ini. Sejumlah riwayat mengatakan bahwa para pemuka Quraisy berkumpul dan sepakat bahwa Muhammad harus dibunuh. Keputusan ini disampaikan kepada bani Hasyim dan bani Abdul Muthalib. Namun mereka menolak menyerahkan anggota keluarganya ini. Selama Abu Thalib masih hidup tak mungkin mereka berani mengganggu apalagi membunuh ponakan yang amat disayanginya itu. Akhirnya mereka bersepakat bahwa jalan satu-satunya yang memungkinkan hanyalah memboikot kehidupan Muhammad dan seluruh keluarga yang mendukungnya hingga Muhammad diserahkan.

Selama tiga tahun keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib diasingkan dan dikucilkan dari pergaulan dan perekonomian. Suku Quraisy yang terdiri atas beberapa bani ini dilarang mengadakan jual beli dengan kedua keluarga bani tersebut. Tidak boleh ada perdamaian, belas kasih, pertemanan, persahabatan apalagi perkawinan dengan anggota Bani Hasyim maupun Bani Muthalib.

Mereka dipaksa hidup di pemukiman ( syi’ib) bani Muthalib tanpa bisa keluar. Ditempat inilah berkumpul semua anggota bani Hasyim dan bani Abu Muthalib, baik yang telah memeluk Islam maupun yang masih kafir, kecuali Abu Lahab. Bagi yang masih kafir, mereka bertahan karena dorongan semangat fanatisme kekabilahan. Ini adalah sesuatu yang khas telah dimiliki masyarakat Arab sejak dulu.

Sejumlah riwayat menceritakan bahwa selama tiga tahun itu mereka beberapa kali terpaksa makan dedaunan karena kekurangan makanan. Begitu pula keluarga Rasulullah termasuk Fatimah yang ketika itu baru berusia sebelas tahun-an. Tangis kelaparan anak-anak sering terdengar hingga ke luar kota Mekah.

Hingga suatu ketika pada awal tahun ke tiga pemboikotan, bani Qushayyi mulai mengecam perbuatan biadab tersebut. Sementara itu Rasulllah mengatakan pada Abu Thalib bahwa surat perjanjian yang ditanda tangani para pemuka Quraisy dan ditempel di salah satu dinding Ka’bah itu telah dimakan rayap kecuali beberapa kalimat yang menyebutkan kata Allah.

“Apakah Tuhanmu yang memberitahukan itu kepadamu?” tanya Abu Thalib heran. “Ya,” jawab Rasulullah singkat. “Allah telah mengirim sejumlah anai-anai untuk menghancurkannya.” Maka Abu Thalib pun segera pergi menemui para pemuka Quraisy dan menyatakan bahwa pemboikotan telah usai karena surat perjanjiannya telah rusak. Dengan terheran-heran mereka terpaksa menerima kenyataan yang berada di luar perkiraan mereka tersebut.

Tak lama setelah itu,sejarah mencatat bahwa sekitar tiga puluh orang dari kaum Nasrani Habasyah datang menemui Rasulullah untuk mengetahui Islam lebih jauh. Mereka datang bersama Ja’far bin Abu Thalib yang telah membuat raja Najasyi menangis ketika mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan kepadanya.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, berbincang dan mendengar ayat-ayat Al-Quran merekapun segera beriman. Abu Jahal yang mengetahui hal tersebut langsung bersungut-sungut. “Kami belum pernah melihat utusan yang paling bodoh kecuali kalian. Kalian diutus oleh kaum kalian untuk menyelidiki orang ini. Tetapi belum sempat kalian duduk dengan tenang di hadapannya, kalian sudah melepaskan agama kalian dan membenarkan apa yang diucapkannya."

Mereka menjawab : “Semoga keselamatan atasmu. Kami tidak mau bertindak bodoh seperti kamu. Biarlah kami mengikuti pendirian kami dan kamupun bebas mengikuti pendirianmu. Kami tidak ingin kehilangan kesempatan yang baik ini.”

Berkaitan dengan itu maka Allah berfirman :

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (QS. Al-Qashah [28] : 52-55).

Bagikan
Kontributor
Sylvia Nurhadi
24 September 2010 pukul 16:45 WIB

Dipersilahkan untuk menyebarkan artikel ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2479 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels