Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Santri
novitasari
karyawati
Pamulang
@ Arda
Penulis dan PNS
Ciamis
Muh Fadhil
Mahasiswa
Jakarta Timur
Forum
Suara
Aryanto : Assalamualaikum .....tes 1 2 3
Abdul : Hanya sunyi yg mengajarkan kita untuk tidak mendua
Tulisan
Santripedia
Riwayat Singkat Kehidupan Rasulullah SAW (17)

XVII. Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang

Perang ini dipicu karena kekecewaan orang-orang Quraisy terhadap kekalahan mereka di perang Badar. Tak sampai setahun setelah perang tersebut orang-orang Quraisypun mengerahkan 3000 pasukannya untuk menyerang Madinah. Diantara pasukan ini terdapat 700 ratus tentara berbaju besi, 200 tentara berkuda (kavaleri) dan 17 orang perempuan. Seorang di antara perempuan tersebut adalah Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan. Ayahnya yang bernama Utbah telah terbunuh pada perang Badar. Ia sangat bernafsu ikut berperang karena ingin balas dendam atas kematian ayahnya itu. Dalam perang ini suaminya sendiri yang menjadi pimpinan.

Sementara itu di Madinah, mendengar kabar tersebut Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat mengenai strategi yang akan digunakan melawan orang-orang Quraisy nanti. Rasulullah ingin mendengar pendapat para sahabat, mana yang lebih baik, bertahan di dalam kota dan menanti serangan atau menyambut musuh di luar Madinah.

Tokoh munafikun, Abdullah bin Ubay, yang merupakan tokoh senior dan konco-konconya termasuk kelompok yang memilih bertahan. Sementara para sahabat yang tidak sempat berpartisipasi dalam perang Badar mengusulkan agar mereka menyambut musuh di luar kota. Rasulullah sendiri tampak bahwa sebenarnya lebih memilih bertahan di Madinah. Namun karena terus didesak tanpa banyak bicara maka Rasulullahpun masuk ke kamar dan segera keluar dengan memakai baju besi, tanda bahwa Rasulullah siap berangkat berperang.

Para sahabat muda yang semula mendesak Rasulullah menyambut musuh di luar Madinah belakangan menyadari sikap mereka. Dengan rasa menyesal mereka berkata : “Wahai Rasulullah, kami telah memaksamu keluar, dan itu tidak pantas kami lakukan. Jika Anda berkehendak, silakan Anda duduk kembali (tidak usah keluar dari Madinah), mudah-mudahan Allah memberi shalawat kepada Anda”. Namun Rasulullah saw hanya menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi yang sudah mengenakan baju besi untuk menanggalkannya kembali, hingga Allah menetapkan sesuatu baginya dan bagi musuh.”

Kemudian berangkatlah Rasulullah berserta lebih kurang 1.000 orang tentara. Dua ratus orang diantaranya memakai baju besi dan hanya dua orang tentara yang berkuda. Itupun di sepertiga perjalanan Abdulullah bin Ubay dan teman-temannya yang berjumlah 300 orang mengundurkan diri. Ia berkata: “Ia (Rasulullah) menuruti pendapat para sahabatnya dan tidak menuruti pendapatku. Wahai manusia, untuk apa kita membunuh diri kita sendiri di tempat ini “. Akibatnya pasukan Muslim hanya tinggal 700 orang saja.

Bukhari meriwayatkan bahwa kaum Muslimin berselisih pendapat mengenai tindakan desersi itu. Sebagian mengatakan, “Kita perangi mereka,” sedangkan sebagian yang lain mengatakan, “Biarkanlah mereka.” Lau turunlah firman Allah sebagai berikut :

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya”.(QS.An-Nisa’ (4): 88).

Mereka disesatkan Allah karena dari awal memang tidak memiliki niat kuat untuk mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menghadapi kenyataan pahit ini maka sebagian sahabat mengusulkan supaya Rasulullah meminta bantuan orang-orang Yahudi, mengingat mereka terikat perjanjian untuk tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Akan tetapi Rasulullah menjawab singkat,

“Kita tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang musyrik untuk menghadapi orang-orang musyrik (lainnya).”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sebelum peperangan berkecamuk Rasulullah bersabda : “Aku bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah ujungnya. Itu musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian aku ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itulah kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu aku juga melihat sapi – Dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik – Itu terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Ta’ala karuniakan setelah perang Badar”.

Rasulullah saw menakwilkan mimpi tersebut dengan kekalahan dan kematian yang akan terjadi dalam Perang Uhud. Selanjutnya Rasulullah kemudian mengambil posisi di sebuah dataran di lereng gunung bernama Uhud dan membentengi diri di balik gunung menghadap ke arah Madinah. Beliau menempatkan lima puluh pasukan pemanah di atas bukit yang terletak di belakang kaum Muslimin itu. Rasulullah menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pimpinan pasukan pemanah.

Kepada pasukan pemanah ini beliau berpesan : “Berjagalah di tempat kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu”.

Setelah memberikan pengarahan Rasulullah mengangkat tinggi pedangnya seraya berkata:

“Siapa yang akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”

Beberapa orang tampil menawarkan diri namun Rasulullah tetap memegang pedang tersebut. Hingga akhirnya Abu Dujana maju ke depan dan bertanya:

“Apa tugasnya, Ya Rasulullah?”

“Tugasnya ialah menghantamkannya kepada musuh sampai ia bengkok,” jawab Rasulullah.

Abu Dujana adalah seorang laki-laki yang sangat berani. Pada saat-saat tertentu ia mengenakan pita merah. Dan bila pita merah itu sudah diikatkannya di kepala, orang akan mengetahui, bahwa ia telah siap bertempur dan siap mati.

Itulah yang dilakukannya. Begitu pedang diterima iapun mengeluarkan pita merah mautnya. Kemudian ia berjalan di tengah-tengah barisan dengan gaya angkuh sebagaimana biasa apabila ia siap menghadapi pertempuran.

“Cara berjalan begini sangat dibenci Allah, kecuali dalam perang”, komentar Rasulullah melihat gaya Abu Dujana.

Selanjutnya Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Mush’ab bin Umair. Maka meletuslah peperangan sengit antara dua pasukan yang amat jauh dari seimbang itu. Masing-masing pasukan dengan masing-masing latar belakangnya. Pasukan Quraisy dengan semangat dendamnya terhadap kekalahannya di perang sebelumnya. Sementara pasukan Muslimin dengan semangat takwa demi menjunjung kalimat tauhid sekaligus semangat mempertahankan tanah air. Rasulullah saw tak henti-hentinya memberikan semangat dengan menjanjikan kemenangan apabila mereka tabah.

Dengan gagah berani Mush’ab, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Asim bin Tsabit, Ali dan Hamzah bin Abu Thalib beserta para sahabat lain mengayunkan pedang dengan gesitnya. Jumlah yang jauh lebih sedikit tampaknya tidak membuat mereka kehilangan semangat. Janji Rasulullah bahwa hanya dengan ketabahan dan kesabaran dalam rangka menjunjung kalimat tauhid yang bakal mengantar kepada kemenangan membuat mereka begitu bersemangat menundukkan lawan. Kekafiran harus dienyahkan maka berkumandanglah “ Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar “ di sepanjang perang yang terjadi di suatu hari di bulan Syawal tahun ke 3 Hijriyah itu.

Beberapa sumber meriwayatkan bahwa ketika itu Rasulullah memberikan izin kepada Samurah bin Jundub al-Fazari dan Rafi’ bin Khudaij saudara Bani Haritsah untuk ikut berperang. Ketika itu keduanya baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya beliau menyuruh keduanya kembali ke Madinah. Namun kemudian dikatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rafi’ adalah seorang pemanah yang hebat.” Maka Rasulullah pun mengizinkannya ikut berperang. Dikatakan pula kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Samurah pernah mengalahkan Rafi’.” Maka Rasulullah juga mengizinkannya ikut berperang. Sebaliknya Rasulullah memulangkan Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin al-Katthab, Zaid bin Tsabit salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, al-Bara’ bin Azib dari Bani Haritsah, Amr bin Hazm dari Bani Malik bin an-Najjar dan Usaid bin Dhuhair dari bani Haritsah. Mereka baru diizinkan ikut serta dalam perang Khandaq ketika telah mencapai usia lima belas tahun.

Melihat semangat kaum Muslimin yang begitu tinggi dan korban terus berjatuhan di pihak Quraisy akhirnya pasukan Quraisy kehilangan rasa percaya diri. Mereka mundur dan berusaha melarikan diri. Pasukan Muslimin terus mengejarnya sambil memunguti harta benda yang ditinggalkan musuh. Sementara itu pasukan pemanah yang berjaga di atas bukit mulai tergiur oleh banyaknya harta benda yang tercecer dan dijadikan rebutan kawan-kawannya di bawah bukit sana. Bisikan syaitanpun mulai beraksi.

Peringatan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah agar mereka menepati janji kepada Rasulullah untuk tetap bertahan di atas bukit apapun yang terjadi tidak digubris. Mereka ikut berhamburan memperebutkan harta benda musuh yang tercecer. Hingga hanya Abdullah dan 9 anak buahnya saja yang bertahan di tempat strategis tersebut.

Sialnya, Khalid bin Walid, komandan pasukan kuda andalan Quraisy yang ketika itu belum memeluk Islam melihat peluang terbuka tersebut. Maka dengan segera ia memerintahkan pasukannya untuk merebut bukit itu dari arah belakang. Akibatnya dapat dibayangkan. Abdullah dan anak buahnya menjadi sasaran empuk. Setelah berhasil membuat ke 10 sahabat syahid mereka membantai pasukan Muslim yang sudah cerai berai di bawah bukit. Dengan cepat keadaan menjadi berbalik. Pasukan Muslim benar-benar dibuat terperanjat. Dalam keadaan panik dan kucar kacir mereka saling bunuh karena tidak menyadari mana kawan mana lawan.

Mush’ab sebagai pemegang panji merasa yang paling bersalah. Dengan sigap dan gagah perkasa ia menyerang dan mengibaskan pedangnya kesana kemari. Ia berusaha menarik perhatian musuh agar tidak menyerang Rasulullah. Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu untuk ketiga kalinya orang berkuda itu menyerangnya dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.” ?

Mush’ab berseru demikian karena merasa tidak bakal dapat melindungi Rasulullah, sang kekasih Allah yang amat disayangi dan dihormatinya. Disamping itu ia juga ingin meyakinkan diri dan teman-teman bahwa bila Rasulullah wafat, itu bukan berarti bahwa perjuangan Islam dapat dihentikan. Ironisnya, Mush’ab sendiri syahid justru karena Qumaimah menyangka dirinya Rasulullah karena Wajah Mush’ab memang mirip dengan Rasulullah. Kemudian dengan sesumbar Qumaiah mengatakan bahwa ia telah membunuh Rasulullah.

Umar bin Khattab berkata :”Kami terpisah dari Rasulullah saat perang Uhud. Aku naik ke gunung dan aku mendengar seorang Yahudi berkata : “Muhammad mati terbunuh!”. Akupun berseru, “ Aku akan memenggal leher orang yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati terbunuh”. Setelah itu aku melihat Rasulullah dan para sahabat kembali ke tempat semula. Lalu turunlah ayat 144 surat Ali Imran.( HR. Ibnu Mundzir).

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran(3):144).

Tentu saja berita ini membuat pasukan Muslim makin panik. Panji segera berpindah ke tangan Ali bin Abu Thalib. Para sahabat dekat yang hanya tinggal beberapa itu segera berkumpul melindungi Rasulullah. Mereka bertempur mati-matian demi keselamatan sang Rasul yang amat mereka cintai itu. Namun keadaan sungguh sulit hingga tidak mungkin bagi mereka untuk terus menerus berkumpul di sekeliling nabi. Pertempuran berdarah yang tidak seimbang terjadi di sekitar beliau. Dalam rangka menjaga keselamatan utusan Allah inilah satu persatu tujuh orang sahabat mati syahid dihadapan Rasul.

Anas bin Nadar syahid dengan tujuh puluh tusukan pada badannya. Saudarinya dapat mengenal badannya hanya dengan tanda di ujung jarinya. Talha bin Ubaidillah pada saat kritis dengan gagah berani menjadikan dadanya tameng bagi Rasulullah. Tirmidzi meriwayatkan, Nabi saw berkata, “Jika seseorang ingin melihat Syuhada berjalan di bumi ini, lihatlah Talha bin Ubaidullah.”

Sementara Abu Dujana membiarkan punggungnya menjadi sasaran panah demi melindungi Rasululllah. Sejumlah anak panah musuh menancap di punggungnya tetapi tak sejengkalpun ia bergeming. Seolah tak mau ketinggalan dengan kaum lelaki, ummu Amara beserta suami dan dua orang putranya juga bertempur disekeliling Rasulullah ketika hanya beberapa sahabat saja yang berada di sekeliling beliau.

Dengan pedang terhunus bersama Rasul perempuan ini mempertahan diri dari serangan yang datang dari semua arah. Demikian pula suami dan kedua anaknya. Mereka mempertunjukkan keberanian yang sungguh luar biasa. Hingga dalam suatu kesempatan Rasul saw berkata, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Beliau juga mendoakan mereka, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga sahabatku di surga.”

Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.

Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”

Bukhari meriwayatkan, Saad bin Abi Waqas berkata, “Pada hari peperangan Uhud aku melihat dua orang berpakaian putih disekitar Nabi saw. Mereka sedang bertempur dengan dahsyat atas nama Nabi saw. Aku tidak pernah melihat mereka sebelum dan setelah kesempatan tersebut.” Dalam riwayat yang lain, dikatakan bahwa mereka adalah malaikat Jibril as dan Mikail as. Sementara itu tiga puluh orang sahabat mendatangi dengan cepat tempat tersebut … Allahuakbar ..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran(3):151).

Dengan datangnya bala bantuan tersebut maka perangpun usai. Pasukan Quraisy pergi meninggalkan medan perang dengan rasa takut. ( sebagaimana diterangkan ayat di atas). Setelah itu Abu Obaida bin Jarrah dengan giginya mencoba mencabut cincin pengikat helm yang menancap di pipi Rasulullah hingga ia harus kehilangan gigi bawahnya. Berikutnya ia juga kehilangan gigi bawah lainnya saat mencabut cincin pengikat helm kedua.

Selanjutnya tinggallah Rasulullah didampingi sisa sahabat yang masih hidup berkeliling melihat keadaan para sahabat yang syahid. Melalui firman-Nya, para mujahidin sejati tersebut mendapat pujian dan penghargaan dari Allah swt.

“ Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. … “.(QS.Al-Ahzab(33):23).

Ketika Rasulullah melihat jenazah Mush’ab dengan sedih beliau berucap : “ Ketika di Mekah dulu tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah”.

Bagi Handhalah bin Abu Amir, Rasulullah bersabda : ”Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malaikat”. Itu sebabnya ia kemudian mendapat julukan Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil yang artinya yang dimandikan para malaikat. Lalu para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad. Mereka berdua memang pasangan pengantin baru.

Selanjutnya ketika Rasul melihat keadaan Hamzah bin Abu Thalib, wajah beliau berubah merah seketika itu juga. Betapa tidak .. perut paman Rasul ini telah di bedah dan diaduk-aduk ! Dengan menahan marah, beliau bersabda :

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Namun kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

“Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu”.(QS.An-Nahl(16:):126-127).

Maka Rasulpun segera memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan dilarangnya orang melakukan penganiayaan. Kemudian Rasulullah menyelimuti jenazah Hamzah dengan mantel beliau lalu men-sholat-kannya. Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan supaya jenazah para mujahidin yang mencapai 70 orang itu dikuburkan di tempat mereka menemui ajalnya. Setelah melayangkan pandangan duka ke arah medan perang serta para syuhada, Rasulullah berseru :

“ Sungguh aku akan menjadi saksi di hari Kiamat nanti, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, beliau bersabda,

“ Hai manusia, berziarahlah dan berkunjung kepada mereka serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai jiwaku, tak seorang Muslimpun sampai hari Kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Sesudah itu Rasulullah diikuti para sahabat yang tersisa meninggalkan medan pertempuran dan kembali ke Madinah. Kepedihan dan kehancuran yang dirasa pasukan Muslim kali ini sungguh terasa amat sangat memalukan. Kehancuran dan kekalahan yang mereka alami seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja sebagian pasukan tidak silau oleh banyaknya harta benda yang ditinggalkan musuh yang sebenarnya telah mereka kalahkan dengan telak. Dengan kata lain, kekalahan ini adalah karena sebagian besar pasukan pemanah telah melanggar perintah nabinya.

Rasulullah memasuki rumah dalam keadaan galau. Pikiran beliau bercampur aduk membayangkan reaksi orang-orang Yahudi, orang-orang munafik dan musyrik Madinah menyaksikan kekalahan dan kehancuran pasukan Muslim yang dipimpinnya itu.

Jabir bin Abdullah menjelaskan bahwa ketika Rasulullah mengalami kekalahan perang Abdullah bin Ubay, si tokoh Munafik Madinah, berkata : “ Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak akan mati sia-sia di medan perang”. Ia menganggap Rasul tidak tahu strategi perang. Atas hal itu Allah menurunkan ayat 168 surat Ali Imran.(HR. Ibnu Ishaq).

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Ali Imran(3):168).

“Sekiranya kami mengetahui ( bagaimana cara )berperang, tentulah kami mengikuti kamu”.

Itulah jawaban yang diberikan orang-orang Munafik ketika Rasullullah memerintahkan mereka untuk berperang di jalan Allah. Ucapan tersebut adalah sindiran bahwa Rasulullah tidak mengerti strategi perang karena memerintahkan berperang ketika jumlah pasukan hanya sedikit.

“dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara), tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. QS. Ali Imran(3):167).

Itulah ancaman Allah swt atas ucapan orang-orang yang mengaku Muslim namun menolak ketika diperintahkan berperang oleh Rasul-Nya. Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa hati mereka lebih menyerupai orang kafir daripada orang yang mengaku telah beriman.

Ditengah kekecewaan pada sebagian pasukan yang tidak mematuhi perintah dan silau dengan harta benda ditambah lagi ejekan dan sindiran orang-orang Munafik itulah kemudian turun turun ayat 152 dan 153 surat Ali Imran. Ayat ini memberitahukan bahwa Allah swt telah memaafkan kesalahan dan kelalaian para sahabat yang menyebabkan pasukan Muslim kalah dalam perang kali ini. Allah ridho.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Ali Imran(3):152-153).

Dan sebagai bukti bahwa Allah swt ridho dan telah memaafkan kelalaian dan kecerobohan mereka Allah menganugerahkan rasa kantuk yang amat sangat. Malam itu Rasul dan para sahabat yang memiliki keimanan super tinggi tertidur dengan nyenyak hingga keesokan subuhnya bangun dalam keadaan segar bugar. Sebaliknya sebagian lainnya, yaitu golongan Muslim yang kurang kuat keimanannya tetap diselimuti keraguan dan tidak bisa tidur. Mereka ragu bila Muhammad saw memang utusan Allah mengapa Allah membiarkan nabinya kalah! Mereka terus menyesali diri mengapa mau menuruti perintah berperang hingga mereka harus terbunuh! Padahal kematian adalah rahasia Sang Khalik. Tak satu orangpun dapat menghindarinya sekalipun ia terus mengurung di dalam rumah. Sebaliknya mati ketika dalam keadaan menjalankan perintah-Nya seperti berjihad ( baik jihad dalam perang maupun berdakwah mengajak pada kebenaran) surga adalah balasannya.

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. … … … Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (QS. Ali Imran(3):154).

Keesokan harinya, usai subuh berjamaah Rasulullah memerintahkan para sahabat yang kemarin baru saja kembali dari Perang Uhud untuk mengejar pasukan Quraisy yang mengalahkan mereka. Pasalnya, Rasulullah mendengar kabar bahwa para pemimpin Quraisy telah memanasi-manasi pasukannya agar kembali ke Madinah untuk membunuh beliau dan merampas gadis-gadis Madinah! Hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja karena akan membuat orang-orang munafik Madinah dan Yahudi makin melecehkan beliau.

Maka tanpa banyak bicara, Ali bin Abu Thalib yang diserahi memimpin pasukan langsung melesat mengejar pasukan Quraisy yang pagi itu masih berpesta merayakan kemenangan mereka di perkemahan antara Madinah – Makkah. Sebaliknya, mendengar bahwa pasukan Muslim mengejar pasukan Quraisy, mereka segera meninggalkan perkemahan dan pulang menuju Makkah.

Pasukan pimpinan Ali baru kembali ke Madinah setelah 3 hari 2 malam bermalam di wilayah sekitar tersebut. Pasukan ini menyalakan obor besar untuk mengelabui musuh agar disangka membawa pasukan besar. Maka untuk menghargai keberanian mereka Allahpun menurunkan ayat berikut :

“ … Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar”. QS. Ali Imran(3):171-172).

“ (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung“. QS. Ali Imran(3):173)

Bagikan
Kontributor
Sylvia Nurhadi
11 April 2011 pukul 23:00 WIB

Dipersilahkan untuk menyebarkan artikel ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

AMMAR Hi HABIB | Mahasiswa
Wadah inspiratif dan motivatif dalam hidup dan menjadi ruang untuk berekspresi.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1511 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels