Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Santri
Dwi Wahyuni
Karyawati
Depok
M. Isnaini
Staf Pengajar
Depok
Ukhti Khumairoza
mahasiswa
Bumi Indah
Forum
Suara
Azwar : 2021 siapa yang masih ada di KSC ? #senyum
Fahima : Kembali setelah sekian tahun...
Tulisan
Santripedia
Ibnu Khaldun

Siapa yang tidak kenal nama Ibnu Khaldun. Kebanyakan dari kita pasti tahu atau sering membaca namanya. Namanya sering dipakai untuk nama sekolah atau perguruan. Tentu saja orang tidak akan sembarang memilih nama untuk sekolah atau perguruannya. Ibnu Khaldun, kalau ia masih hidup tentu tidak akan menyangka namanya begitu universal digunakan orang.

Ibnu Khaldun secara luas dikenal sebagai peletak batu pertama alias pelopor dan sekaligus bapak ilmu sosiologi dan sejarah sains. Dan ia lebih dikenal lagi karena buku Muqaddimah-nya atau di Barat sana dikenal dengan 'Prolegomena'.

Ibnu Khaldun sebenarnya punya nama asli Abdullah al Rahman Ibnu Muhammad. Lahir di Tunisia dari keluarga kelas bangsawan di tahun 723 Hijriah atau tahun 1332 SM. Keluarganya sendiri bukan berasal dari Tunisia, mereka hijrah ke Tunisia dari Seville, wilayah Spanyol yang berpenduduk Islam.

Ibnu Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Fez , ia mempelajari Qur'an, Hadits, cabang-cabang ilmu Islam lainnya seperti ilmu teologi dialektikal dan hukum-hukum Islam. Dengan semangat belajar dan keingintahuannya yang besar, ia juga mempelajari matematika, astronomi, filosofi dan literatur Arab. Ini yang menjadikannya dalam usia belasan sudah bekerja pada Sultan Barquq, seorang Kaisar di Mesir.

Sebelum dikenal sebagai penulis buku yang kelak menjadi adi karya dalam sejarah dunia, Ibnu Khaldun banyak menghabiskan waktu, tenaga dan kepandaiannya bergelut dengan dunia politik praktis. Ia bekerja untuk pemerintah Tunisia dan Fez (Maroko), Granada (Islam Spayol) dan Biaja (di Afrika Utara). Tahun 1375 ia mengasingkan diri ke Granada, Spanyol, dari Afrika Utara karena melarikan diri dari Turmoil di Afrika Utara.

Sayangnya, karena kegiatan politiknya di masa lalu, pemerintah Granada menolaknya. Ibnu Khaldun kemudian menuju Aljazair. Selama empat tahun ia tinggal di sebuah desa kecil bernama Qalat Ibnu Salama. Di sana pula ia mulai menulis Muqaddimah. Karya ini kelak menempatkan namanya di antara nama-nama besar sejarawan, sosiolog dan filosof dunia.

Muqaddimah telah membuat intelektual dunia dulu dan kini, di Timur dan Barat geleng-geleng kepala dibuatnya. Hasil pemikirannya yang sangat cemerlang, ditulisnya dalam buku itu. Bagian pertama bukunya, Al 'Ibar, sangat tajam, rasional dan analitik meninjau masalah-masalah manusia dan sejarah.

Pada buku inilah Ibnu Khaldun, menurut banyak intelektual dunia, telah memberi arah pada ilmu-ilmu psikologi, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Beliau juga menganalisa hubungan dinamis dan menggambarkan perasan-perasaan antar manusia. Al 'Asabiyya, memberi pandangan baru pada kekuatan penduduk dan politik.

Ibnu Khaldun selain terkenal sebagai penulis sejarah dan manusia, dikenal juga sebagai seorang kritikus sejarah yang disegani. Ia pula yang mengenalkan ilmu analisa tentang peradaban manusia. Tak hanya itu faktor-faktor yang mendukung ilmu analisa ia kenalkan pula.

Karena hal in pula ia menemukan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan perdaban manusia. Misalnya, ilmu pembangunan sosial yang saat ini biasa kita sebut dengan ilmu sosiologi.

Ada satu satu pernyataan atau argumen Ibnu Khaldun yang sampai saat ini masih dibuat pijakan banyak ilmuwan. "Sejarah ada subyek menuju hukum-hukum universal," begitu katanya. Ini adalah satu contoh bagaimana Ibnu Khaldun dijadikan rujukan dunia sosiologi internasional.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun saat itu sebenarnya sudah sangat maju, misalnya saja ia berpendapat bahwa kehidupan beragama adalah satu hal pokok yang mampu menyatukan jazirah Arab saat itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak suku dan bani yang ada di sana. Apalagi tipikal orang padang pasir kan panas-panas bawaannya.

Tak hanya itu, Ibnu Khaldun pun jauh hari sudah menyimpulkan beberapa penyebab kehancuran sebuah negara atau pemerintahan. "Ketidakadilan, kekecewaan rakyat dan tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara," begitu katanya. Dan saat ini banyak contoh yang bisa kita lihat betapa tiga hal yang disebutkan Ibnu Khaldun berabad-abad lalu benar adanya.

Selain sebagai sejarawan dan sosiolog, Ibnu Khaldun dikenal pula sebagai seorang pioneer atau perintis pendidikan modern. Ia seorang yang sangat percaya pada kekuatan akal bukan kekuatan fisik. Menurutnya kekuatan fisik hanya membuat seseorang menjadi malas, hipokrit dan pembohong besar. Akal yes, okol no!

Ibnu Khaldun hidup di Mesir pada zaman Mesir sedang mengalami kemerosotan. Pendidikannya anjlok, moralnya bobrok dan sebagian besar masyarakat tidak merasa perlu belajar dan berhati-hati. Ini yang membuat Ibnu Khaldun banyak menghabiskan waktu mengumpulkan data, mengingatkan orang tentang pentingnya peradaban.

Pemikiran dan analisa Ibnu Khaldun, kelak banyak memberikan warna dan pengaruh pada dunia ilmu sosial, politik, sejarah, filosofi dan pendidikan. Kini berabad-abad setelah ia wafat, pemikirannya yang cemerlang serta idenya yang brilian masih bisa kita rasakan. Satu hal yang menjadikannya seperti itu, ia belajar Islam dengan benar.

Ternyata kebaikan dan ilmu, mampu mengalahkan umur manusia yang hanya sejengkal.

Sumber
masjid_annahl
Bagikan
Kontributor
Mujahid Alamaya
4 April 2011 pukul 17:00 WIB

Dipersilahkan untuk menyebarkan artikel ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mang_unus | Wiraswasta
Semoga dapat menjadi wasilah untuk semua; berbagi ilmu, memupuk ukhuwah, mengokohkan keimanan, menopang keistiqamahan.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0321 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels