Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Santri
reiza
kuliah,web developer
surabaya
Melianna
Karyawan swasta
Tangerang
Ellin Suhendra
bantu bantu
Sidoarjo
Forum
Suara
Aryanto : Assalamualaikum .....tes 1 2 3
Abdul : Hanya sunyi yg mengajarkan kita untuk tidak mendua
Tulisan
Santripedia
Dr. Musthafa As-Siba'i

Pada tahun 1933, seorang pemuda berkewarganegaraan Syria datang menuntut ilmu di universitas al-Azhar, Mesir. Ia masih keturunan ulama. Ayah dan kakeknya adalah orang yang bertanggungjawab di mesjid Jami' di Hims, khususnya dalam masalah khatib Jum'at, dari generasi ke generasi. Kecintaan keluarganya terhadap agama menumbukan 'benih' subur, 'terhujam', dan'tertanam' kuat dalam jiwanya. Hingga, membuat ia begitu senang dengan majelis-majelis ilmu yang dihadari oleh pakar-pakar ilmu hadits dan tafsir. Bahkan, sejak remaja ia sudah biasa ikut belajar bersama para syeikh terkenal, syeikh Thahir ar-Raes misalnya.

Selama kuliah di Azhar, ia juga aktif bergabung dengan Ikhawanul Muslimin dalam berbagai demontrasi menentang penjajahan Inggris tahun 1941. Keaktifannya di tubuh Ikhwanul Muslimin untuk menumbuhkan dan 'mempertajam' darah pejuangnya akibat terpengaruh terhadap perjuangan yang dilakukan syeikh Husni as-Siba'i, salah satu ulama dikampungnya yang aktif memerangi kaum penjajah yang hendak menduduki Syria. Di kuliah, ia bukan hanya sekedar aktif di ikhwanul Muslimin, tapi ia juga berkenalan dengan Hasan al-Banna, Musryid 'Am Ikhwanul Muslimin Mesir, bahkan menjadi teman dekat Hasan al-Banna. Hubungan kekerabatan mereka itu pun cukup erat, bahkan setelah kepulangannya ke Syria.

Ya, pemuda itu bernama Musthafa As-Siba'i. Lahir pada tahun 1915 di kota Hims, Syria. Ia salah satu pemuda yang begitu 'getol' dan semangat dalam memperjuangkan Islam. Bahkan dalam bukunya Durus fi Da'watil Ikhwanil Muslimin ia menyerukan Jamaah Ikhwanul Muslimin Syria untuk melakukan reformasi politik, perbaikan nasional, menghapus jejak-jejak penjajahan, menghilangkan kezaliman terhadap para pekerja dan petani, aktif mendirikan sekolah, lembaga pendidikan, klub olah raga, dan pusat keprajuritan di berbagai provinsi. Sebagai bukti nyata, ia sendiri menjadi panglima tertinggi keprajuritan.

Bukti konkrit dari pelatihan keprajuritan, ia bersama rekan-rekannya ikut andil dalam membela al-Quds (sekarang Palestina) yang diserang Israel. Dalam bukunya al-Ikhwan fi Harbi Filastiniin, ia menuliskan bagaimana gerak-gerak ikhwan selama berada di Quds. Mustafa as-Siba'i muda berkata: "ketika berada di medan peetempurn al-Quds, kami merasakan di sana manuver-manuver yang terjadi di tingkat internasional dan tingkat pemerintahan resmi negara-negara Arab. Kami yang tergabung di batalion Ikhwanul Muslimin memusyawarahkan hal-hal perlu ditempuh, setelah adanya instruksi kepada kami untuk mengundurkan diri dari al-Quds. Kami sepakat tidak mampu menentang instruksi kepada kami untuk meninggalkan al-Quds, karena berbagai pertimbangan. Kami juga sepakat sesampainya di Damaskus, kami akan mengirim sebagian anggota Ikhwan Muslimin ke al-Quds sekali lagi dengan sembunyi-sembunyi, untuk mempelajari apakah ada kemungkinan kembali lagi ke sana secara pribadi, demi melanjutkan perjuangan kami membela Palestina. Akhirnya, kami kembali ke Damaskus bersama seluruh anggota batalion dan komandan-komandannya yang bergabung dengan pasukan penyelamat. Sesampainya kami di Damaskus, pasukan penyelamat melucuti persenjataan kami dan berjanji mengundang kami sekali lagi bila dibutuhkan."

Berjuang Dengan Orasi dan Media
Kembalinya ke Damaskus, tak menyurutkan niatnya untuk terus membela al-Quds. Tak bisa berjuang dengan senjata, ia yakin masih bisa berjuang dengan lisan, senjata yang bisa membangkitkan semangat umat Islam. Ia melakukan safari ke punjuru Syria untuk memaparkan dan menjelaskan perang Palestina. Ia berceramah di semua tempat dari Damaskus, Himsh, Hamah, Halb, al-Ladziqiyah, Diruz-Zur, dan berbagai kota-kota kecil di Syria. Sungguh begitu banyak orang tercengan kaget terhadap fakta yang dipaparkannya. Karena mereka tidak mengetauhinya sama sekali, bahkan mereka merasa ditipu oleh media yang memberitakan perang Palestina dengan berat sebelah. Akhirnya terungkaplah hakikat sesungguhnya, menjadi jelas dan terbukti ada faktor-faktor terselubung dan dominan yang mendalangi perang Palestina. Di samping itu, ia juga menjelaskan bahwa anggota-anggota Ikhawanul Muslimin tetap berjihad membela Palestina secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketauhi oleh pemerintah Syria.

Mendengar komentar dari masyarakat tentang kebohongan media dalam mengungkapkan berita-berita Palestina, membuat Musthafa Siba'i muda berniat untuk menerbitkan majalah mingguan yang memaparkan kejadian-kejadian yang terjadi di Palestina dan bagaimana kondisi umat Islam di sana. Pada tahun 1955 resmi media yang diberi nama As-syihab mengorbitkan berita-berita tentang perang Palestina yang sesungguhnya. Media As-syihab hanya memiliki umur tiga tahun setelah adanya kesepakatan persatuan dengan Mesir pada tahun 1958. Setelah majalah As-syihab 'beralih tangan' kepada pemuda-pemuda Mesir, ia pun tak surut dan berhenti begitu saja. Sebagai gantinya Musthafa Siba'i muda menerbitkan majalah bulanan Hadarhatul Islam, yang ia kelola hingga meninggal dunia. Setelah itu, pengelolaan majalah ini diserahkan kepada Adib ash-Shalih di Damaskus, tapi setelah itu terhenti.

Mustahafa As-Siba'i Juga Ulama Publik
Musthafa as-Siba'i dalam perjalanan dakwahnya berkesempatan mengelilingi negara-negara Barat. Perjalanan tersebut dilakukanya pada tahun 1956, tahun yang sama diselenggarakannya Mukmar Islam di Damaskus. Dalam lawatannya ke Barat, ia mengunjungi universitas-universitas Barat dan melihat kurikulum studi Islam di sana. Ia mengunjungi Italia, Inggris, Irlandia, Belgia, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Polandia, Jerman, Swiss, dan Prancis. Di sana, ia bertemu dengan pakar-pakar orientalis, mendiskusikan karangan mereka tentang Islam, dan menyingkap kesalahan-kesalahan mereka, baik secara ilmiah maupun historis.

Lawatannya terakhir kali pada tahun 1957. Saat itu ia berkesempatan dengan dekan di pelbagai fakultas di universitas Syria melakukan perjalanan ke Rusia atas undangan universitas Moskow. Di perjalanan ini, ia mengunjungi sebagaian besar universitas Rusia di daerah, bertemu dosen studi ketimuran, sejarah, dan sosial, berdiskusi dengan mereka, membantah pendapat mereka, dan mematahkan klaim mereka yang salah tentang Islam dan kaum Muslimin.

Setelah lawatan ke Moskow, Musthafa as-Siba'i memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan lagi ke luar negeri. Karena sakit gula dan sakit yang menyerang otaknya. Namun, ia masih sempat melakukan ibadah haji untuk yang keempat kalinya pada tahun 1964. Karunia Allah Swt. pada dirinya terbukti di tanah suci tersebut. Ketika akan berangkat, penyakit kronis dan mematikan yang sudah lama ia derita sedang hebat-hebatnya menyerang tubuhnya. Selama di Mekkah, ia mampu shalat dengan berdiri dan duduk untuk tasyahhud. Tiba di Mekkah, ia melakukan thawaf dan umrah dengan ditandu, tapi ketika akan melakukan haji wada', ia tinggalkan tandu dan melakukan thawaf dengan berjalan kaki. Ketika di Madinah, Allah memuliakannya dengan menghilangkan bekas-bekas penyakit gula. Ia memakan tujuh butir kurma di pagi hari dengan keyakinan terhadap hadis shahih yang menjelaskan tentang kurma, dan itu merupakan salah satu sistem pengobatan nabi Muhammad Saw.

Pada hari Sabtu tanggal 3 Oktober 1964 di kota Hims, ustad Musthafa as-Siba'i, mujahid agung dan da'i yang sabar terhadap ujian dan penderitaan, berpulang keharibaan Ilahi setelah melewati hidup dengan penuh perjuangan. Jenazahnya dishalatkan di mesjid Jami' al-Umawi Damaskus, diiringi rombongan besar kaum muslimin. Para ulama besar pun tak luput memberikan kesaksian tentang dirinya. Ia adalah pemimpin umat, hiasan mujahid di zamannya, penyejuk mata penduduk negeri Syam, putra dambaan Himsh, milik islam dan kaum muslimin.

Sumber
Min a'alaam Al-Harakah Al-Islamiyyah, Karya Abdullah al-Uqail
Bagikan
Kontributor
Rahmat Hidayat Nasution
5 September 2010 pukul 15:30 WIB

Dipersilahkan untuk menyebarkan artikel ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Samsul M | Wiraswasta
Mulai buka site ini di tahun 2003, tapi baru sekarang saya ikut partisipasi. Maklum, baru ada waktu luang banyak.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1752 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels