HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://kopiradix.kotasantri.com
Bergabung
1 Mei 2009 pukul 23:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Bekerja sebagai Bagian dari Ibadah
17 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Pengrajin Emas dan Pengrajin Kuningan
10 Desember 2013 pukul 21:00 WIB
(Mungkin) Tidak Ada Hypnotherapy di Gaza
30 November 2013 pukul 18:00 WIB
Belajar Menulis di Kala Patah Hati
29 November 2013 pukul 23:00 WIB
Sebuah Ruang Bernama Hati
26 November 2013 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 18 Desember 2013 pukul 21:00 WIB

Hikmah Shalat Khusyuk dalam Kehidupan

Penulis : Muhammad Nahar

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna." (QS. Al-Mu'minun [23] : 1-3).

Dari pelajaran yang pernah saya dapatkan di pengajian bersama ustadz Ahmad Sarwat Lc, MA di Daarul Ulum, Pedurenan, shalat khusyuk ternyata tidaklah sama dengan meditasi yang membuat gelombang otak seseorang seperti orang yang mau tertidur, sehingga dia seakan terpisah dari realitas di sekitarnya. Orang yang khusyuk dalam shalatnya bukanlah orang yang sama sekali tidak menyadari keadaan di sekitar dirinya. Jika dia sedang shalat berjama'ah, dia menyadari ada orang di kanan kirinya dan di depan belakangnya. Dia juga wajib mengikuti gerakan imam, sehingga perhatiannya harus terfokus pada imam, sebab jika tidak, tentu shalatnya menjadi tidak sah. Rasulullah SAW, dalam sebuah riwayat, pernah sujud agak lama karena salah seorang cucu beliau bermain-main di atas punggungnya.

Shalat dikatakan khusyuk jika gerakan shalat tersebut disadari dengan baik oleh pelakunya. Dokter Sagiran, ahli bedah dari RS Muhammadiyah Jogjakarta dan penulis buku "Mukjizat Gerakan Shalat" menganalogikan orang yang tertib gerakan shalatnya seperti dokter ahli yang sedang melakukan pembedahan. Tidak ada gerakan refleks yang dilakukan dokter ahli bedah yang baik meskipun gerakan-gerakan itu sudah dilakukannya ratusan atau bahkan ribuan kali. Meskipun melakukan pembedahan dengan konsentrasi penuh, dokter bedah masih menyadari keadaan di sekelilingnya, termasuk adanya alat-alat bedah, sesama dokter dan perawat yang ada di ruangan tersebut. Menurut dokter Sagiran, orang yang shalatnya khusyuk semua gerakan shalatnya disadari dengan baik dan dilakukan dengan tertib, tidak refleks meskipun orang tersebut sudah melakukan shalat sejak akil baligh.

Salah satu aspek penting dalam khusyuk adalah perasaan dilihat oleh Allah SWT yang biasa disebut ihsan. Orang yang memiliki rasa ihsan di dalam hatinya akan senantiasa dilihat dan disaksikan oleh Allah SWT, sehingga dia merasa sangat malu untuk mengabaikan perintah-perintah-Nya dan melanggar larangan-larangan-Nya. Dia juga akan merasa sangat malu jika lebih bisa mendapatkan kesenangan dan ketenangan pada apa yang ada pada makhluk-makhluk-Nya daripada Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Aspek lain yang juga penting dari khusyuk adalah tertib berurutan. Prinsip ketertiban tersebut juga harus pula bisa kita terapkan dalam kehidupan. Karena itulah, dalam surat Al-Mu'minun, setelah disebutkan khusyuk dalam shalat, ciri orang beriman berikutnya adalah meninggalkan segala hal yang sia-sia. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (QS. Al-Mu'minun [23] : 1-3)."

Dalam bahasa Steven Covey, penulis buku laris 7 Kebiasaan Manusia yang  Sangat Efektif, disebut sebagai "First Things First" atau "Dahulukan yang Utama". Satu-satunya cara menghindarkan diri dari perbuatan sia-sia adalah menerapkan prinsip khusyuk yang ada dalam shalat ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua aspek yang ada dalam shalat khusyuk tersebut pernah mengantarkan umat Islam pada masa-masa kejayaan mereka. Cahaya Islam menyinari Timur dan Barat menebarkan rahmat ke seluruh alam saat itu. Namun, ketika ruh kekhusyukan itu memudar dan shalat tinggal gerakan badan yang hampa dari makna filosofisnya, maka saat itu pulalah umat Islam tenggelam dan terpuruk di bawah kekuasaan musuh-musuh mereka yang tidak akan pernah ridha Islam berjaya di atas muka bumi ini.

Referensi:

* Fiqih Kehidupan jilid 3, Ustadz Ahmad Sarwat Lc, MA terbitan DU Center Publishing.

Mukjizat Gerakan Sholat, Dr.dr. Sagiran, M.Kes., Sp.B. terbitan Qultummedia.

7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, Steven Covey, terbitan Binarupa Aksara.

Ihsan yang (mulai) membuahkan rasa malu - ustadz Yusdeka Putra.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mashalli | karyawan
Alhamdulillah... Meski baru bergabung di KSC, semakin nambah wawasan dan berbagi pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2017
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1566 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels