Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Tragedi Mesir dan Arab Spring
31 Agustus 2013 pukul 22:22 WIB
Mengambil Hikmah Keberadaan Bangsa Jin
14 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Muhasabah dan Tahapannya
8 Mei 2013 pukul 22:00 WIB
Ibrahim AS, Muhammad SAW, dan Islam
30 Januari 2013 pukul 13:00 WIB
Bahaya Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme
2 Januari 2013 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 11 Desember 2013 pukul 21:00 WIB

Merengkuh Hidayah Allah

Penulis : Sylvia Nurhadi

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA. Telah menceritakan kepada kami Rasulullah SAW, ” Sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu menulis RIZKInya, batas UMURnya, AMAL dan kecelakaan, atau KEBAHAGIAAN hidupnya.”

Pertanyaan sebagian orang, “Kalau begitu, buat apa harus bekerja keras siang malam, berobat menghabiskan uang puluhan juta rupiah, menuntut ilmu tinggi-tinggi, dan berusaha mati-matian bila semua itu telah ditetapkan sebelumnya?”

Dan memang kenyataannya, sering kita melihat tidak semua orang yang bekerja keras, hidup steril sepanjang hidup demi menjaga kesehatan dan selalu berhati-hati dalam hidup, dapat mencapai apa yang diinginkan dan diusahakannya itu. Tidak mudah memang memahaminya. Namun saya yakin ketetapan yang dimaksudkan-Nya itu tidak sesederhana dan sekaku itu. Saya membayangkannya, ibaratnya ‘chip’ komputer super canggih yang dipasang di dalam tubuh manusia. Kalau manusia saja bisa membuat game-game canggih dengan segala aturannya, apalagi Yang Mahakuasa!

Manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, bersih dari segala kotoran dan dosa. Ia tahu persis siapa Tuhannya, sebagaimana ia mengenal kedua orangtuanya.

Saya pernah melihat rekaman video, sebuah ilustrasi yang memperlihatkan percakapan antara bayi yang akan dilahirkan ke dunia ini, dengan Tuhannya. Intinya, bayi lahir ke dunia itu sebenarnya dengan rasa berat hati, karena berbagai alasan. Di antaranya ada kekhawatiran di dunia nanti si bayi akan hidup susah, karena ia mendapat kabar bahwa dunia penuh kejahatan. Ia juga takut akan kehilangan kesenangan, karena di dunia banyak tugas dan tanggung jawab yang harus diembannya. Selain itu, si bayi juga khawatir akan kehilangan kasih sayang dan perhatian Tuhannya yang selama ini selalu memperhatikan dan mengasihinya.

“Bagaimana nanti kalau aku rindu pada-Mu?" tanya bayi penuh kekhawatiran, meski Tuhannya meyakinkan bahwa meskipun kelihatannya jauh, sebenarnya Ia tetap sangat dekat dengannya.

Dalam percakapan itu dijawab bahwa ibunyalah (mustinya juga ayahnya) yang nantinya akan mengajarkannya bagaimana dan apa yang ia harus lakukan ketika ia rindu pada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56).

Kesimpulannya, video ini ingin menggambarkan bahwa pada awalnya setiap manusia itu mengenal Tuhannya, Tuhan yang menciptakannya, yang menyayanginya, yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan ibunya, sebagai perempuan yang dipercaya untuk mengandung dan melahirkannya, bersama dengan ayahnya, selaku pasangan suami istri, yang diberi tanggung jawab untuk merawat, menjaga, dan mendidiknya adalah orang nomor 1 yang paling bertanggung jawab bila sampai setelah dewasa si anak lupa akan hal-hal tadi. Setelah kedua orangtua, lingkungan dan teman pergaulan adalah dua hal yang dapat mempengaruhi kesucian anak.

Sebagian ulama meyakini bahwa Allah SWT membekali setiap bayi yang akan dilahirkan ke dunia dengan 4 hal, yaitu hati, akal, potensi baik, dan potensi buruk. Potensi baik adalah hasrat untuk menjalankan kebaikan. Sedangkan potensi buruk adalah hasrat untuk melakukan perbuatan buruk. Potensi baik ini dibimbing oleh malaikat, sementara potensi buruk mengikuti bisikan syaitan. Dengan akal manusia bisa berpikir, untuk dapat membedakan mana benar dan mana salah. Dan dengan hati, manusia bisa merasakan mana baik dan mana buruk.

Disamping itu, Allah SWT sebagai Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Pengasih, juga membekali manusia petunjuk. Bahkan Allah mewajibkan dirinya sendiri sebagai suatu kewajiban.

“Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk.” (QS. Al-Lail [92] : 12).

Petunjuk Allah ini terdiri atas 2 bagian, yaitu petunjuk (ayat/tanda) Kauniyah dan petunjuk (ayat/tanda) Qauliyah. Ayat Kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta. Sedangkan ayat Qauliyah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada para nabi melalui malaikat Jibril AS. Al-Qur'anul Karim adalah ayat Qauliyah yang diturunkan terakhir kali, yaitu kepada rasulullah Muhammad SAW.

Kedua petunjuk ini diberikan Sang Khalik kepada seluruh manusia, terserah manusia, apakah ia mau menerimanya atau tidak. Selanjutnya untuk memahami petunjuk ini, manusia harus mengfungsikan seluruh perbekalan yang diberikan Allah SWT, yaitu tadi, akal dan hatinya.

Perumpamaannya bagaikan radio atau pesawat televisi di rumah kita. Untuk mendapatkan gambar dan suara yang jelas dan bening, harus dicari frekwensi yang tepat. Setelah ‘klop’, maka telingapun difungsikan, apakah mau sekedar “hearing” atau lebih serius “listening”. “Hearing” adalah ketika seseorang hanya mendengarkan sepintas, sambil lalu dan tidak serius. Sedangkan “listening” mendengarkan dengan sungguh-sungguh, cermat.

Setelah itu giliran potensi baik yang harus diaktifkan. Bila potensi baik ini berhasil mengalahkan dan menyingkirkan potensi buruk, berarti hidayah telah masuk ke dalam dirinya. Potensi baik inilah yang akan melahirkan amalan-amalan dan perbuatan yang diridhai Allah SWT. Inilah yang disebut Taufik, dan ini adalah kemenangan terbesar dalam hidup.

Yang menjadi masalah, dengan berlalunya waktu, hati manusia yang tadinya suci dan bersih, menjadi kotor. Ini adalah hasil kerja keras pasukan syaitan yang terus-menerus membisiki dan mendorong potensi buruk manusia agar muncul menampakkan diri. Kotoran-kotoran yang semula tampak kecil, namun bila tidak segera dibersihkan (dengan bertaubat) dan dibiarkan menumpuk, maka lama kelamaanpun menjadi besar dan sulit dihilangkan. Akibatnya hati akan membatu dan makin sulit membedakan mana baik mana buruk. Yang pada akhirnya menjadi penghalang masuknya hidayah.

“Ketahuilah bahwa dalam setiap tubuh manusia ada sepotong organ yang jika ia sehat, maka seluruh tubuhnya juga sehat, dan jika ia rusak, maka seluruh tubuhnya rusak. Ketahuilah bahwa organ itu adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim).

“Jika manusia mengetahui hatinya, maka ia akan mengetahui dirinya yang sebenarnya; jika ia mengetahui dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sayang mayoritas manusia di dunia ini tidak memahami hatinya.” (Imam Al-Ghazali).

Jadi tampaknya hati adalah faktor terpenting dalam merengkuh hidayah Allah. Maka dengan demikian, kebersihan hati mutlak diperhatikan. Beruntung kita memiliki Al-Qur'an. Di kitab suci umat Islam ini dijelaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah adalah salah satu cara untuk membersihkan hati. Agar kita lebih peduli terhadap orang-orang yang tidak punya, anak-anak yatim, dan lingkungan kita.

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi.” (QS. Al-Lail [92] : 17-20).

Namun kita juga harus menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dengan kwalitas hati, akal, usaha, dan potensi yang terbatas dan berbeda-beda. Tugas kita hanyalah memaksimalkan pemberian Allah tersebut, dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukurannya masing-masing.” (QS. Al-Qamar [54] : 49).

Wallahu a’lam bishshawwab.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Meyla Farid | Guru
Isinya sangat bagus dan bermanfaat. Site favoritku untuk saat ini. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2017
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0731 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels