HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://kopiradix.kotasantri.com
Bergabung
1 Mei 2009 pukul 23:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Bangunan Tinggi
11 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Nenek yang Lumpuh
8 Oktober 2013 pukul 22:00 WIB
Dan Gunung pun Menangis
30 September 2013 pukul 23:32 WIB
Berlari di dalam Hutan
29 September 2013 pukul 21:00 WIB
Bencana dan Pengorbanan
25 September 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 23 Oktober 2013 pukul 19:00 WIB

Menjaga Kemuliaan Diri dengan Nafkah yang Halal

Penulis : Muhammad Nahar

Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir Radhiallahu Anhu berkata, Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar / tidak jelas halal atau haramnya) yang tiada diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang memelihara dirinya dari perkara-perkara yang syubhat itu, maka dia telah melindungi agama dan kehormatannya dirinya. Dan barangsiapa yang tergelincir ke dalam pekara syubhat, itu berarti ia tergelincir masuk ke dalam perkara haram. Laksana seorang penggembala di pinggir sebuah daerah larangan, yang akhirnya masuk ke dalam daerah larangan itu. Ketahuilah, sesungguhnya bahwa setiap raja mempunyai daerah larangan. Ketahuilah, sesungguhnya daerah larangan Allah itu adalah pekara-pekara yang diharamkanNya. Ketahuilah, dalam setiap tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kaidah ushul fiqh mengatakan bahwa dalam perkara ibadah (ritual) segala sesuatunya adalah haram kecuali ada dalil yang memperbolehkan atau mewajibkan. Sementara, untuk perkara muamalah/duniawi, segala sesuatunya adalah boleh kecuali ada dalil yang melarang. Contoh harta haram antara lain harta riba, harta hasil rentenir, harta hasil korupsi atau kejahatan lainnya, harta hasil bisnis maksiat, bangkai, darah, babi, anjing, binatang yang disembelih tanpa disebutkan nama Allah SWT, dan sebagainya. Jauh lebih sedikit daripada harta yang halal.

Banyak orang takut menjauhi harta yang haram, mereka terkungkung dalam tempat mencari nafkah haram (mengandung riba atau maksiat, lokalisasi pelacuran, dan lain-lain) hanya merasa takut tidak dapat harta/penghasilan. Bila diberitahukan kepada mereka bahwa pekerjaan tersebut haram, mereka beralasan bahwa hanya di tempat itulah mereka bisa mencari nafkah. Sesungguhnya, hal-hal yang haram bisa dihitung dengan jari, sementara itu nafkah/harta yang halal tidak terbatas. Namun, karena godaan syetan, banyak orang yang takut meninggalkan yang haram.

Peluang untuk mendapatkan harta halal yang berkah dan melimpah tidak ada batasnya. Salah satu peluang terbaik adalah dengan berwirausaha dan menjadi pebisnis/pengusaha. Jika orang memutuskan untuk jadi pegawai/karyawan (dan hal ini adalah sesuatu yang baik), maka dia harus mengembangkan sikap qana’ah (merasa cukup dengan apa yang ada) yang kuat. Bersikap qana’ah adalah suatu yang diperlukan oleh manusia, apapun profesinya, agar dia terhindar dari mengambil harta yang bukan menjadi haknya. Jangankan agama, perusahaanpun juga akan melarang. Kepercayaan menjadi taruhannya. Menjadi pengusahapun perlu sikap qana’ah agar dia tidak menghalalkan segala cara (illegal lodging, menyogok, dan lain-lain) dalam mengembangkan usahanya.

Nafkah yang haram bisa membuat do'a kita tidak diterima/dikabulkan. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat yang baik (suci), maka Dia tidak akan menerima (sesuatu), kecuali yang baik (suci). Dan Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang mukmin sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul. Maka Allah SWT berfirman, “Wahai para rasul, makanlah kalian dari sesuatu yang baik-baik (halal dan baik) dan beramallah dengan amal yang shaleh.” Kemudian Allah SWT berfirman kembali, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah oleh kalian sesuatu yang baik-baik (halal dan baik) dari apa-apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian.” Kemudian dia (rasulullah) menggambarkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan yang sangat jauh, rambutnya kusut penuh dengan debu. Lalu dia menenggadahkan kedua tangannya ke langit (berdo'a) dan berkata, “Wahai Tuhanku (kabulkanlah do'aku), Wahai Tuhanku (kabulkanlah do'aku).” Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan oleh sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin do'anya akan dikabulkan?”

Dalam hadits shahih yang lain, dari Abu Hurairah Rasulullah SAW juga bersabda, “Jika seseorang berangkat untuk melakukan ibadah haji dengan harta yang baik, maka tatkala dia mengucapkan talbiyyah, langsung ada suara (Malaikat) yang menjawab (mendo'akan) dari langit, “Selamat datang dan kebahagiaan buatmu (wahai hamba Allah). Harta yang engkau pergunakan (untuk ibadah haji) adalah harta halal, dan kendaraanmu halal, maka hajimu termasuk haji mabrur dan bukan termasuk haji yang berdosa/ditolak (bukan haji mardud).” Tetapi jika seseorang berangkat untuk melakukan ibadah haji dengan harta yang haram, lalu ia mengucapkan talbiyyah, langsung ada suara (Malaikat) yang menjawab (mendo'akan) dari langit, “Tidak ada panggilan buatmu dan tidak ada kebahagiaan buatmu. Harta yang engkau pergunakan (untuk ibadah haji) adalah harta haram, dan kendaraanmu haram, maka hajimu termasuk haji yang mardud (termasuk haji yang berdosa/ditolak).”” (HR. Thabrani).

Padahal, keadaan orang itu (safar/perjalanan dan kehabisan bekal) merupakan kondisi dimana do'a akan cepat dikabulkan. Namun, harta haram yang ada dalam dirinya lahir batin membuat do'anya tidak dikabulkan. Orang yang korupsi atau melakukan kejahatan lainnya mungkin mengira bahwa anak dan istrinya tidak tahu akan harta haram yang dia bawa. Namun, pengaruh harta haram dapat dilihat pada sikap dan perilaku anggota keluarga orang yang membawa harta tersebut. Bisa jadi anak dan istri, karena merasa gerah dan tidak tentram, mencari bermacam hiburan di luar rumah seperti bioskop, diskotik, mall, dan lain-lain. Bisa juga mereka terjerumus ke dalam cengkeraman obat-obatan terlarang, minuman keras, dan pergaulan bebas tanpa batas. Pada akhirnya, harta haram tersebut akan membuat pemiliknya menderita kerugian yang besar di dunia dan akhirat.

Contoh keteladanan dalam menjaga diri dari harta haram dapat kita temui dalam diri Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu hari anak beliau ada yang ingin bertemu karena urusan keluarga. Beliau terlebih dahulu mematikan lampu dan ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, sang khalifah berkata, “Minyak untuk lampu tersebut dibeli dangan harta kaum muslimin, aku tidak sepantasnya menggunakan minyak tersebut untuk kepentingan pribadi.”

Narasumber : Ustadz Bobby Herwibowo, Lc.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dradjat | Pegawai
KotaSantri.com memang pas menjadi tempat mangkalnya para santri yang ingin mengikuti jejak nabinya. Semoga penulisan-penulisan di KotaSantri.com yang penuh keteledanan dan pelajaran adalah wajah kehidupan santri sebenarnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1783 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels