QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://kopiradix.kotasantri.com
Bergabung
1 Mei 2009 pukul 23:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Seni Mencintai
27 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Sepasang Pedang Kayu
18 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Bulan Syawal atau Bulan 'Saya Awal'?
16 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Perpisahan
14 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Menjelang Tengah Malam di Malam Takbiran
8 Agustus 2013 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 28 Agustus 2013 pukul 22:22 WIB

Keshalehan Sosial yang Terlupakan

Penulis : Muhammad Nahar

Masyarakat kita pada umumnya masih menganggap tujuan dari ibadah ritual adalah mengumpulkan pahala sebanyak mungkin. Oleh karena itu, dalam banyak pengajian, para ustadz pengajar seringkali ditanya kalau shalat Dhuha pahalanya bagaimana, kalau shalat ini atau shalat itu pahala berapa dan sebagainya. Banyak juga di antara mereka yang mudah tergiur oleh amalan-amalan yang dianggap berpahala besar walaupun berdasarkan hadits-hadits yang masih diragukan keshahihannya. Bahkan para ulama banyak yang mengatakan bahwa hadits-hadits yang mendasari amalan-amalan itu adalah maudhu atau palsu adanya. Sehingga tidak layak untuk dijadikan dalil pelaksanaan suatu amalan. Akibatnya, setelah amalan selesai dilaksanakan, merekapun pulang dengan penuh kepuasan karena merasa sudah berbuat kebaikan yagn banyak.

Akibat dari kesalahan pemahaman seperti itu, kemiskinan seakan tidak bisa dihapuskan dari negeri-negeri kaum muslimin, terutama yang ada di benua Asia. Kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin seakan tak pernah terjembatani. Pemahaman itu membuat orang-orang yang miskin merasa tidak perlu menambah upaya mereka agar bisa keluar dari kemiskinan. Mereka sudah merasa bahwa mereka tidak akan bisa meraih penghidupan lebih baik lagi di masa depan. Kehidupan mereka sampai kapanpun, dari generasi ke generasi, akan tetap miskin seperti itu. Pemahaman seperti itu juga membuat banyak orang yang sesungguhnya mampu, enggan bersedekah dan berbagi lebih banyak. Mereka mengira bahwa pahala mereka beribadah siang dan malam sudah menjamin mereka akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Kalaupun mereka mengeluarkan harta, mereka sekedar menunaikan kewajiban zakat atau sekedar menyumbang ala kadarnya.

Padahal, sekitar 70-75% kandungan Al-Qur'an berbicara tentang kehidupan sosial ekonomi, bahkan melebihi tentang kandungan Al-Qur'an soal ibadah (mahdhah). Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya. Termasuk bagaimana mendistribusikan harta kekayaan kepada sebanyak mungkin manusia agar mereka bisa merasakan manfaatnya. ” Agar supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja,“ demikian disebutkan dalam Al- Quran Surat Al-Hasyr : 7. Rasulullah pun bersabda, “Barangsiapa yang sedang memenuhi kebutuhan saudaranya, berarti Allah tengah memenuhi kebutuhannya, Barangsiapa memudahkan kesulitan seorang Muslim, berarti Allah akan memudahkan Kesulitan di hari Kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim). Dalam hadits yang lain, beliau bersabda, “Barangsiapa yang sedang memenuhi kebutuhan saudaranya, berarti Allah tengah memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa memudahkan kesulitan seorang Muslim, berarti Allah akan memudahkan Kesulitan di hari Kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim). Ayat dan hadits-hadits di atas, serta masih banyak yang lain, dapat kita anggap sebagai indikasi betapa pentingnya keshalehan sosial dalam Islam.

Keshalehan sosial itu pada akhirnya akan memunculkan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial dapat didefinisikan sebagai kepekaan dan kemampuan merespon terhadap masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam buku berjudul Social Enterprise yang ditulis Bapak Ahmad Juwaini, disebutkan bahwa “Semakin tinggi kecerdasan sosial yang dimiliki oleh seseorang, semakin banyak pula wujud tindakan social entrepreneurship yang dijalankan dalam kehidupannya.” Orang dengan keshalehan dan kecerdasan sosial yang tinggi akan menjadi rahmat bagi sesama manusia di sekitarnya. Dia tidak akan bisa merasa tenang dan senang apabila masih ada orang-orang yang hidupnya sengsara, baik oleh karena kemiskinan atau sistem sosial yang zalim. Sebagaimana dicontohkan oleh pendiri Grameen Bank di Bangladesh, Muhammad Yunus.

Alangkah indahnya apabila orang-orang kaya lebih memprioritaskan sedekah dan berbagi pada sesama yang membutuhkan daripada membeli barang-barang mewah. Dan akan lebih indah lagi apabila orang-orang miskin tetap memelihara harga dirinya dari meminta-minta dan selalu semangat untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan mereka. Itulah sesungguhnya fungsi harta dalam Islam, untuk dimanfaatkan seadil-adilnya dan sebanyak-banyaknya demi kepentingan hajat hidup manusia sebanyak mungkin. Sehingga, kita sebenarnya berpeluang lebih besar meraih pahala melimpah justru dari interaksi sosial dan amal shaleh kita sehari-hari, baik moril maupun materil.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aini Mardiyah | Mahasiswa
Di sini tempat untuk kamu-kamu yang ingin memanaj qalbu, artikel-artikel di web ini Insya Allah bermanfaat. Hehehe... Ada tulisan ane juga low!
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0437 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels