Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Kucing yang Pintar
6 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Tom Yam Seafood
4 Agustus 2013 pukul 22:22 WIB
Baju Lebaran Ifa
4 Agustus 2013 pukul 21:21 WIB
Menghantarkan Muslimah Menuju Kesejukan
1 Agustus 2013 pukul 20:20 WIB
Di Mana Kita Bisa Menemukan Kebahagiaan?
23 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 7 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB

Menjaga Kemenangan Hakiki

Penulis : Redaksi KSC

"Barangsiapa yang shaum Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan keluar dari dosa-dosanya bagaikan ketika dilahirkan dari perut ibunya." (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan Ibnu Khuzaimah).

Kalimat takbir, tahlil, dan tahmid terus menggema di seluruh jagat raya. Hari itu, kaum muslimin kembali merayakan kemenangannya. Kembali kepada fitrahnya, memperoleh kemenangan yang hakiki. Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar. Laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar wallilaahilhamdu.

Seruan pujian ke hadirat Allah SWT rasanya baru kemarin kita kumandangkan. Begitu pula halnya dengan Ramadhan agung yang beberapa pekan lalu meninggalkan kita. Seolah kita masih bersamanya. Mengisinya dengan berbagai aktivitas yang disukai pemiliknya. Tapi, bulan yang penuh berkah itu telah kembali meninggalkan kita. Harap dan do'a telah kita panjatkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan, agar Allah mempertemukan kita dengannya di masa datang.

Hari Raya Idul Fitri hakikatnya hari kemenangan kaum muslimin. Setiap muslim yang mengisi Ramadhan dengan berbagai kegiatan yang telah dicontohkan Rasulullah, kembali kepada fitrahnya. Bak bayi yang baru dilahirkan, suci, bersih, tanpa dosa. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang shaum Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya akan keluar dari dosa-dosanya bagaikan ketika dilahirkan dari perut ibunya." (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan Ibnu Khuzaimah).

Akan tetapi, banyak kaum muslimin yang kembali lalai. Banyak di antara kita yang kembali kepada fitrah sebelum Ramadhan. Kembali dengan berbagai aktivitas yang dibenci Allah SWT. Kualitas dan kuantitas tilawah Al-Qur'an mengalami penurunan drastis, sepertiga malam dilewatkan tanpa tahajud, shalat tidak tepat waktu, bahkan tidak sedikit yang menjadi kikir. Padahal, saat Ramadhan, tilawah Al-Qur'an bisa khatam satu sampai dua kali. Sepertiga malam dihidupkan dengan qiyamul lail, dan tiada hari yang dilalui tanpa bersedekah. Pasca Ramadhan, semua itu kembali lenyap.

***

Menjaga Kemenangan

Menjaga kemenangan memang lebih sulit dibandingkan dengan merebutnya. Mempertahankan memang lebih berat dibandingkan dengan melalukan penyerangan. Maka, kita harus menguatkan tekad, mengikhlaskan niat, istiqamah, dan memanjatkan do'a agar Allah SWT berkenan menjaga kemenangan yang hakiki itu.

Esensi keberhasilan shaum Ramadhan tidak dapat diukur dengan kualitas amal ibadah pada bulan Ramadhan saja. Tetapi, menyangkut konsistensi amal ibadah pada tiga rentang waktu, yaitu sebelum, saat, dan sesudah Ramadhan. Bila pada ketiga waktu itu kualitas dan kuantitas ibadah sangat baik, maka sesungguhnya kita termasuk muslim yang memperoleh kemenangan.

Untuk itu, mari kita menghiasi diri dengan berbagai aktivitas seperti pada Ramadhan kemarin. Paksakan diri agar mau melakukannya. Kalau perlu, hukuman atau sanksi kita berikan kepada diri kita bila melewatkan sebuah amal kebaikan. Misalnya dengan bersedekah, atau berbuat baik kepada orang lain.

Begitu banyak pahala yang akan kita panen di akhirat kelak bila kita tetap menjaga stabilitas ibadah seperti pada bulan Ramadhan. Shaum misalnya. Shaum sunah selama enam hari pada Bulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti orang yang shaum selama setahun. Bila kita tidak melewatkan shaum sunnah ini setiap tahun, maka kita seperti orang yang shaum sepanjang tahun. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang disampaikan Abu Ayyub Al-Anshari. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian meneruskan puasanya enam hari di bulan Syawal, maka ia seakan-akan telah puasa sepanjang umur (tahun)."

Kini, di depan kita ada sebelas bulan menjelang kita bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Sangat terbuka peluang untuk mendulang pahala seperti pada bulan Ramadhan kemarin. Mudah-mudahan Allah SWT menggolongkan kita termasuk hamba pilihanNya, yang kembali kepada fitrahnya, dan yang mampu menjaga kemenangan. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Wallahu a'lam.

Dari Majalah Swadaya

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Saeful Arif | Dagang
Saya senang membaca di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0626 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels