Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Hikmah di Balik Rasa Takut
7 November 2012 pukul 11:15 WIB
Sudah Dekatkah Hari Kiamat itu?
10 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Teror ala Barat
29 September 2012 pukul 14:00 WIB
Buah Ramadhan
29 Agustus 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 5 Desember 2012 pukul 12:00 WIB

Simbol dan Pengkultusan

Penulis : Sylvia Nurhadi

Dalam kehidupan sehari-hari, simbol, lambang, tanda, atau ikon adalah hal yang biasa adanya. Simbol atau lambang bisa mewakili negara, bangsa, agama, kelompok pecinta tertentu seperti kelompok musik, klub olah-raga, dan lain-lain. Bendera sebagai simbol negara adalah yang paling umum dan sering digunakan. Di dalam bendera inilah biasanya tercermin semangat dan motivasi pencetus kelompok yang membuatnya. Tanda, simbol, angka, bahkan warnanyapun biasanya memilki arti khusus yang sangat penting dan berarti bagi pengikutnya.

Di bawah tanda dan simbol-simbol inilah bersatu para anggotanya, membentuk pendukung dan simpatisan kelompok. Simbol Nazi sebagai pendukung Hitler dan simbol bintang Davis bagi pengikut Yahudi adalah salah satu contohnya. Saking pentingnya arti dan makna sebuah lambang, kabarnya kota Washington pun dipenuhi oleh lambang bintang Davis, semakin membuktikan bahwa kota ini memang telah dikuasai para Mason, simpatisan Yahudi. Sementara lambang bintang dan bulan sabit yang baru pada zaman Ottoman mewakili dunia Islam masih menjadi perdebatan. Karena keduanya sebenarnya adalah masih bagian dari lambang paganisme, kaum penyembah matahari di masa lalu.

Dalam kelompok-kelompok berlambang ini, biasanya ada tokoh-tokoh yang diagungkan, yang dianggap sebagai karakter kuat yang dapat mewakili warna kelompoknya. Tokoh-tokoh ini biasanya menjadi panutan yang ditiru segala gerak-geriknya oleh para pengikut atau fansnya. Katakanlah fans grup musik atau fans berat klub sepak bola tertentu. Mungkin ada di antara kita yang masih teringat bagaimana Mohammad Ali, petinju legendaris di tahun 1970-an itu mampu membuat fans beratnya mendadak terkena serangan jantung melihat ia berlaga, meski hanya melihat pertunjukan adu jotos itu di depan layar kaca.

Atau bagaimana ganasnya para bonek, kependekan kata Bondo Nekat alias modal nekad, yaitu para pendukung berat Persebaya ketika menonton klub pujaannya bertanding. Atau bagaimana ulah para holigan, pendukung fanatik klub sepak bola dengan wajah coreng moreng mampu membuat ambruk sebuah stadion bola dan mengakibatkan sejumlah kematian penontonnya. Atau ada pula fans kelompok musik dimana mereka meniru apa dan bagaimana saja sang idola bersikap dan berpenampilan. Tak peduli apakah sikapnya itu baik atau tidak. Ini adalah contoh fanatisme negatif kelompok.

Namun di luar itu, ada juga fanatisme kelompok yang sifatnya positif. Salah satu contohnya adalah dalam beragama. Islam mengajukan para rasul sebagai contoh keteladanan, terutama nabi Ibrahim AS sebagai bapak para rasul dan Rasulullah Muhammad SAW sendiri sebagai sosok keteladanan terbaik.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] : 21).

Rasulullah SAW adalah sebaik-baik manusia, tidak ada yang melebihi beliau dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Meniru apa dan bagaimana sikap Rasulullah adalah hal yang sangat baik. Kita memang dianjurkan untuk mengikuti dan mencontoh perilaku beliau. Bahkan wajib bagi kita agar mencintai Rasulullah lebih daripada kecintaan terhadap diri kita sendiri, orangtua, anak, istri, dan seluruh umat manusia.

“Katakanlah : “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah [9] : 24).

Namun demikian, kecintaan tersebut tidak boleh berlebihan apalagi hingga ke tingkat pengkultusan, seperti yang terjadi pada masa lalu. Yaitu pada diri nabi Isa AS dan orang-orang shaleh terdahulu.

“Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah : (Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari).

Sejarah bercerita, beberapa lama setelah nabi Musa AS wafat, hidup seorang shaleh bernama Uzair. Ketika itu pada umumnya masyarakat berada dalam tingkat kebejatan yang amat parah. Uzair berusaha untuk mengingatkan mereka agar kembali ke jalan yang benar. Namun usaha mulia tersebut tampaknya sia-sia hingga akhirnya Allah SWT mewafatkannya.

Suatu hari, saking sedih melihat kondisi masyarakatnya, Uzair, dengan menunggang keledainya, meninggalkan kota. Ia melewati sebuah desa yang telah dihancurkan sekelompok penjarah. Ia melihat mayat-mayat bergeletakkan di sana-sini. Terkesima, Uzair berpikir kritis, bagaimana Tuhannya mampu menghidupkan kembali negeri beserta mayat-mayat yang terlihat sungguh mengenaskan itu. Dalam keadaan demikianlah Uzair jatuh tertidur.

Ternyata ini adalah bagian dari skenario besar Sang Khalik dalam menjawab pertanyaan dan keraguan hamba-Nya yang shaleh. Seratus tahun kemudian dibangunkan-Nya Uzair dari tidur lelapnya. Kisah menarik ini di kemudian hari diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 259 sebagai berikut :

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.

Dia berkata,: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”

Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.

Allah bertanya, “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.“

Allah berfirman, “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.”

Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), diapun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Mahabenar Allah dengan Firman-Nya.

Selanjutnya dikisahkan bahwa Uzair kembali ke kotanya, untuk membuktikan kebesaran Allah azza wa jalla bahwa Ia telah menidurkannya selama 100 tahun. Tentu saja penduduk tidak mempercayainya. Untuk itu, mereka menantang Uzair agar membuktikan hal yang menurut orang awam sangat mustahil tersebut.

”Sejak penyerbuan Nebukadnezar terhadap kami, bani Israil, tentara mereka membakar semua kitab Taurat hingga tak seorangpun dari kami yang hafal isi Taurat kecuali Uzair. Maka kalau benar anda Uzair, sebutkan isi kitab Taurat,” tantang mereka.

Uzairpun membacakan isi Taurat dengan fasih dan lancar. Maka sejak itu mereka percaya bahwa Uzair, orang shaleh itu, telah kembali dari tidur panjangnya selama 100 tahun. Uzairpun menjadi buah bibir dan menjadi tokoh yang diagungkan dan disucikan. Bahkan di kemudian hari orang-orang Yahudi menjadikannya sebagai anak Tuhan. Persis seperti orang-orang Nasrani menganggap Yesus, Isa AS, sebagai putra Allah.

“Orang-orang Yahudi berkata “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?“ (QS. At-Taubah [9] : 30).

Menjadi catatan penting, kisah Uzair membuktikan bahwa keshalehan suatu masyarakat bukan karena jasa seseorang meski ia orang shaleh sekalipun. Uzair terbangun 100 tahun kemudian dan mendapati masyarakatnya telah menjadi masyarakat yang shaleh, atas kehendak-Nya, bukan karena dirinya.

Ironisnya, meski Al-Qur'an dan Rasulullah berkali-kali mengingatkan hal tersebut, pengkultusan tetap saja terjadi. Bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Salah satu contohnya adalah kaum Sufi, yang meyakini bahwa Rasulullah SAW terbuat dari cahaya. Juga orang-orang Syiah yang menganggap semua keturunan Rasulullah SAW adalah orang-orang yang maksum, yang tidak mungkin berbuat kesalahan.

Padahal bahkan Rasulullahpun adalah seorang manusia seperti kita semua, yaitu terbuat dari tanah, bisa meninggal dan bisa berbuat kesalahan. Bedanya, Allah SWT senantiasa menjaga beliau dari perbuatan buruk dan mengingatkan beliau begitu beliau khilaf. Allah SWT meninggikan derajat Rasulullah karena beliau adalah utusan-Nya yang terakhir, utusan yang paling dicintai dan disayangi-Nya. Di tangan beliau, Al-Qur'anul Karim dipercayakan.

Ironisnya lagi, ada kelompok tertentu yang mengaku Muslim, terpana dengan kehebatan Al-Qur'an melalui angka-angkanya, maka menganggap sang “penemu”mukjizat angka tersebut, sebagai Rasul baru, penerus Rasulullah Muhammad SAW. Dan menjadikan angka 19 sebagai simbol mereka.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33] : 40).

“(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan) : “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Mudattsir [74] : 29-31).

Demikianlah Allah SWT menyesatkan orang yang suka berlebihan dalam segala hal. Bahkan dalam ibadah sekalipun kita dilarang berlebihan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Tiga orang laki-laki berkunjung ke rumah istri-istri Nabi SAW menanyakan bagaimana (kualitas) Nabi SAW beribadah kepada Allah. Ketika mereka diberitahu perihal itu, mereka merasa ibadah yang selama ini mereka lakukan sangat tidak memadai dan berkata, “Begitu jauhnya kita dari Nabi SAW yang dosa masa lampau dan masa depannya telah diampuni Allah.” Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan mengerjakan shalat sepanjang malam.” Yang lain berkata, “Aku akan berpuasa sepanjang tahun.” Dan yang lainnya lagi berkata, “Aku tidak akan menikah seumur hidupku.” Rasulullah SAW menemui mereka dan berkata, “Apakah kalian orang-orang yang berkata ini dan itu? Demi Allah, aku lebih tunduk dan takut kepada Allah daripada kalian. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan menikahi perempuan. Maka barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

Wallahu a’lam bishshawwab.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0529 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels