Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Cahaya Al-Qur'an
27 Juni 2012 pukul 11:15 WIB
Mencermati Tindakan Israel terhadap Palestina
26 Mei 2012 pukul 13:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 29 Agustus 2012 pukul 12:00 WIB

Buah Ramadhan

Penulis : Sylvia Nurhadi

Kaum Muslimin adalah kaum yang paling beruntung di dunia ini. Sungguh, betapa banyaknya nikmat yang dilimpahkan Sang Khalik kepada umat nabi terakhir, Rasulullah Muhammad SAW ini. Bulan suci Ramadhan adalah salah satu buktinya.

Betapa tidak. Sekali dalam setahun, sebulan lamanya, Allah SWT menawarkan diskon besar-besaran. Inilah pesta obral terbesar bagi kaum Muslimin yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Pada bulan suci ini Sang Khalik melipatgandakan balasan setiap amal perbuatan kita. Dan balasan terbesar adalah dibersihkannya kita dari segala kotoran dan dosa hingga bagaikan bersihnya hati seorang bayi yang baru dilahirkan! Subhanallah.

Seorang Muslim yang beruntung menerima ganjaran di atas akan terlihat dari sikap dan perilakunya, setelah berakhirnya Ramadhan. Tindak-tanduknya akan jauh lebih baik dari sebelum bulan diskon tersebut. Bila sebelumnya ia ‘cuek’ atau tidak/kurang peduli terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya; khususnya kedua orangtua, orang-orang miskin dan anak-anak yatim piatu, maka setelah Ramadhan ia lebih perhatian dan peka terhadap orang-orang tersebut.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa [4] : 36).

Dari Abi Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik rumah orang muslim adalah apabila di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik dan sejelek-jelek rumah orang muslim adalah apabila terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan buruk.”

Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menolong para janda serta orang miskin sama (pahalanya) dengan orang yang berjihad di jalan Allah SWT.”

Ditambah lagi, ia lebih sabar dan dapat menahan amarah daripada sebelum bulan suci Ramadhan. Ia pandai meniru apa yang dicontohkan Rasulullah SAW yang memang sudah seharusnya menjadi panutan kaum Muslimin. Yaitu segera berwudhu ketika godaan syaitan datang menggoda agar tidak menahan sabar dan amarah. Setelah itu iapun mendirikan shalat sunnah 2 rakaat.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 153).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad).

“Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR. Ahmad).

Namun demikian seorang hamba yang telah dibersihkan hatinya itu tidak berarti tidak boleh marah. Bila ia telah merubah posisinya dari berdiri, duduk kemudian berbaring, setelah itu berwudhu kemudian shalat dengan khusyuk, namun rasa marah tetap berada di dalam hatinya, berarti marah tersebut adalah marah yang diridhai-Nya.

Dari Muadz bin Anas al-Juhani bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya.”

Seseorang yang telah dibersihkan dosa dan kesalahannya jadi pandai memaafkan kesalahan orang lain. Ia tidak perlu menunggu orang yang telah menyakiti hatinya meminta maaf terlebih dahulu. Tanpa diminta ia mampu memaafkan saudaranya itu. Tidak ada rasa dendam dan permusuhan dalam diri orang yang bersih hatinya. Ucapan maaf tidak hanya sekedar ucapan di bibir, melainkan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Ikhlas adalah kuncinya. Inilah ciri khas orang yang takwa.

“Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Baqarah : 237).

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang takwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3] : 133-134).

Islam mengajarkan, “Yang terlebih dahulu datang untuk menjalin hubungan, jauh lebih utama di sisi Allah daripada yang menunggu.”

Ciri khas orang takwa yang lain adalah segera bertaubat ketika melakukan kesalahan serta tidak mengulanginya kembali. Ia tidak menunda-nundanya hingga datang kesulitan, sakit, apalagi sakaratul maut. Intinya ia selalu berusaha untuk mendekatkan diri (taqarub) pada Sang Khalik, Allah Azza wa Jalla.

Singkat kata, tindak-tanduk orang yang berhasil mencapai takwa dalam bulan Ramadhan adalah :

1. Memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi.

2. Tidak murah marah.

3. Cepat memaafkan kesalahan orang lain.

4. Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Itulah buah Ramadhan. Dapat dibayangkan bila saja setiap tahun sejumlah hamba berhasil memetik buah ini, alangkah damainya bumi kita tercinta ini. Tidak ada korupsi, tidak ada kemiskinan, tidak ada kecurangan, kezaliman, dan lain-lain. Bahkan kesulitanpun akan hilang. Karena janji Allah sebagai berikut :

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At-Thalaq [65] : 2-5).

Hal penting yang patut menjadi perhatian, malaikat Jibril AS pernah meminta Rasulullah SAW agar mengamini do'anya. Do'a tersebut adalah permintaan agar Allah tidak menerima puasa seseorang ketika :

1. Seorang hamba masih menyakiti hati kedua orangtuanya.

2. Seorang istri masih juga membangkang suaminya atau seorang suami masih menzalimi istrinya.

3. Seorang hamba masih menyimpan rasa dendam dan permusuhan terhadap hamba yang lain.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Disarikan dari Khutbah Iedul Fitri 1433 H di Lapangan RS Dr. Soeyoto, Jl. Veteran, Jakarta Selatan.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

agung sutrisno | PNS
Isinya bagus, ringan, gampang dibaca, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Keep on good works!!!
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0437 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels