Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Mengenal Guru Kaya dan Guru Miskin
9 Juni 2012 pukul 13:30 WIB
Karena ‘Pahala’ Sabar itu Tiga
23 Mei 2012 pukul 11:15 WIB
Tangisan Gadis Kecil dan Hasan Al-Bashri
22 Mei 2012 pukul 20:00 WIB
Kepal Tangan, Potensi, dan Menembus Batas
28 April 2012 pukul 13:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 13 Juni 2012 pukul 10:00 WIB

Rayakan Hidup dengan Ikhlas

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Setiap kita pasti pernah menolong orang lain. Namun, dalam setiap kali menolong seseorang perasaan kita tentu berbeda. Ada yang melupakannya setelah berbuat. Ada pula yang selalu diingat. Nah, perasaan mana yang mesti dimiliki? Tak mesti dijawab dengan kata-kata, karena setiap kita sudah bisa menebak jawabannya. Namun pertanyaanya, kenapa kita terkadang bisa melupakan perbuatan yang telah dilakukan? Jawabannya, karena kita merasa apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Padahal yang biasa itu sebenarnya memiliki nilai yang luar biasa. Karena yang biasa itu tersisipi keikhlasan untuk melakukannya. Ikhlas? Ya, I-K-H-L-A-S.

Saat itu, secara tidak langsung, kita telah menjelmakan empat kehendak ikhlas dalam diri. Pertama, kehendak ikhlas beramal untuk mengagungkan Allah SWT. Kedua, kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah SWT. Ketiga, kehendak ikhlas untuk meraih balasan dan pahala dari Allah. Keempat, kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan melakukan hal yang ikhlas.

Acap kali kita melakukan hal ringan saat membantu orang lain, keempat kehendak tersebut dapat dengan mudah diraih. Bahkan secara tidak langsung kita membuktikan ke-Mahamelihat-an Allah terhadap diri kita, seperti yang difirmankan, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.” Namun, kenapa setiap kali kita melakukan perbuatan yang ‘bernilai besar’ sulit untuk ikhlas? Jawabannya, karena belum merasuk dalam diri kita pesan hadits qudsi yang bernada, “Ikhlas adalah rahasia dari beberapa rahasia-Ku, yang hanya Kutitipkan ke dalam hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” Secara sederhana, hadits ini berpesan, jika ingin selamat dari riya maupun tipu daya setan, maka ikhlaslah dalam beramal. Jadikan hanya Allah tujuan kita. Meskipun ada hasil yang didapat di balik pekerjaan, tetap jadikan ikhlas sebagai tonggak utamaya.

Sehingga wajar bila dalam melakukan pekerjaan kita harus selalu mengingat ucapan Imam al-Qusairy yang nadanya, “Bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah, meski yang diperbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu menolong orang lain tetap dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang menolong. Ia bekerja tetap Allah yang jadi tujuannya, karena Allah memang Dzat yang suka berbuat untuk hamba-hamba-Nya.”

Pernyataan Imam al-Qusyairi tersebut senada dengan pengertian ikhlas dalam pandangan imam Ali Kwh, “Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.” Artinya, orang ikhlas adalah orang yang tidak memanggil siapapun untuk melihat pekerjaan kecuali Allah SWT. Cukup Allah SWT menjadi saksi atas perbuatannya.

Sehingga orang yang ikhlas adalah orang yang sengaja membuat jiwanya menjadi independen, merdeka, dan tak dibelenggu oleh pengharapan yang berbuah pujian. Hatinya selalu tenang. Apapun jabatan yang dia punya akibat keikhlasannya dalam bekerja tak membuatnya terpesona. Andaipun jabatannya tak naik meski dia sudah bekerja dengan maksimal, ia pun tak iri atau minder. Karena yang menjadi tujuannya adalah Allah, bukan jabatannya.

Jika sudah demikian, ia berada pada posisi yang dikatakan Rasulullah SAW, “Belenggu tak akan masuk dalam hati seorang muslim, jika ia menetapi tiga perkara : ikhlas beramal hanya karena Allah, memberi nasehat yang tulus kepada penguasa, dan aktif berkumpul dengan masyarakat muslim.” Jika ikhlas sudah menjadi pola hidupnya, maka ia tak tergolong dalam apa yang dikatakan kata Abu Ya’qub as-Susi, “Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.”

Oleh karena itu, mari rayakan hidup kita dengan ikhlas dalam bekerja dan beramal. Meski kita bekerja di instansi, pandanglah bahwa keikhlasan bekerja yang kita lakukan adalah karena Allah, bukan karena instansi. Meski tak dapat tambahan lebih dari sisi materi, tapi dari sisi Allah mendapatnya. Karena Allah senantiasa menyuruh kita untuk melakukan sebaik-baik pekerjaan. (QS. Al-Mulk : 2).

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eka | Karyawan
Salam kenal untuk semua yang ada di KotaSantri.com. Saya baru ikut program ini, tempat ini memang tempat yang paling tepat untuk membekali pengetahuan dengan agama. Pokoknya okelah, tempat mengisi kekosongan disaat kesepian.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0515 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels