Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Fikih Plastik Kresek
12 November 2011 pukul 13:00 WIB
Memerkarakan Ka’bah
2 November 2011 pukul 13:00 WIB
Menyoal Misi Terorisme di Indonesia
1 Oktober 2011 pukul 15:15 WIB
Sahur dan Niat : Poin Utama Kesuksesan
20 Agustus 2011 pukul 14:00 WIB
Shabirin dan Syakirin itu Wajib
10 Agustus 2011 pukul 13:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 7 Desember 2011 pukul 11:00 WIB

Energi Syukur dan Sabar dalam Doa

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Setiap muslim berdoa kerap mengaklamasikan permohonan, “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201). Doa yang dimohonkan, sungguh, menunjukkan permintaan yang bersifat kebahagian dan kesuksesan. Karena di balik kebaikan pasti ada nada kebahagiaan dan kesuksesan. Namun, acapkali berdoa dengan melantunkan ayat tersebut, hingga kini tak sedikit dari kita belum merasakan kebaikan yang dimohonkan kepada Allah? Padahal, dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin : 60).

Adalah baik bila kita menelusuri kenapa yang kita mohonkan kepada Allah belum diperkenankannya. Padahal, yang dimohonkan kepada-Nya senantiasa mengandung kebaikan dan minus keburukan, apalagi kezhaliman. Lalu, di mana letak kesalahannya? Sejatinya, tak ada yang salah dari isi doa dan firman Allah tersebut. Yang salah adalah, prosesi kita dalam berdoa. Ada yang kurang dari unsur berdoa yang kita lakukan.

Doa yang dimohonkan kepada Allah harus diiringi dengan syukur dan sabar. Artinya, doa, syukur dan sabar harus disatupadukan. Tak boleh dipisahkan. Kalau boleh ditamsilkan, ketiga hal tersebut ibarat air, gula dan teh. Tak akan tercipta teh yang manis, jika tidak ada air. Tak akan bisa dikatakan teh, jika hanya berisi komponen air dan gula. Demikian juga dengan permohonan kita. Doa yang dihaturkan kepada Allah harus dibarengi syukur dan sabar.

Sudahkah kita bersyukur kepada Allah usai memanjatkan doa yang kita inginkan? Atau, sudahkah kita bersabar setelah Allah mengingatkan diri kita untuk senantiasa melantunkan doa tersebut kepada-Nya? Jarang sekali kita usai berdoa merasa bersyukur kepada Allah, karena masih bisa memohonkan hal yang baik bagi kita dan orang lain. Kita terkadang lupa bersabar saat masa penantian doa yang dimohonkan kepada Allah untuk diwujudkan-NYa.

***

Energi Syukur

Syukur bukanlah sekedar banyak-banyak membaca Alhamdulillah. Hanya saja, pengucapan Alhamdulillah adalah sebagian kecil dari wujud syukur. Di dalam buku “Silsilah Amalan Hati” dimaktubkan, hakikat syukur adalah memperlihatkan pengaruh nikmat Ilahi yang melekat dalam diri kita. Artinya, melalui kalbu yang beriman, melalui lisan dengan pujian dan sanjungan, melalui anggota tubuh dengan melakukan amal saleh dan ketaatan.

Jika konsep syukur berdasarkan definisi tersebut direalisasikan dalam kehidupan, seyogyanya sedikit saja nikmat yang diberikan Allah, sudah menginspirasi kita untuk sebanyak mungkin bersyukur. Apalagi ketika nikmat yang dianugerahkan Allah berlimpah ruah maka kesyukuran kita semakin berlipat ganda. Sehingga kita lakukan prosesinya, dengan mengucapkan Alhamdulillah dengan lisan. Kita tanamkan dalam hati yang terdalam kesyukuran itu, kemudian kita bagikan kesyukuran itu, jika berbentuk materi, kepada orang lain.

Inilah energi syukur. Seharusnya, kita memuji Allah bukan saja dalam doa yang dilantunkan, tapi juga setelah berdoa. Kita bersyukur kepada Allah dengan lisan karena hanya bermunajat kepada-Nya, kita bersyukur dengan hati karena hanya Allah yang mampu mewujudkan keinginan kita, dan kita bagikan kesyukuran itu, jika memiliki harta, dengan bersedekah ataupun dengan senyum yang menunjukkan refleksi kebahagiaan.

Jika sudah melakukan aktivitas berdoa yang dibarengi dengan kesyukuran, insya Allah apa yang dimohonkan segera hadir, Bukankah Allah memaktubkan di dalam surat al-Baqarah ayat 152, “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”? Karena itu, bersyukur usai berdoa akan memuluskan proses doa yang dimohonkan kepada Allah. Inilah energi syukur yang harus dilakukan.

***

Energi Sabar

Setelah doa diiringi syukur kepada Allah, maka selanjutnya sikap sabar yang kita bina. Karena Allah ingin menunjukkan kepada diri kita, apakah kita punya etika dalam meminta kepada-Nya? Supaya kita merasakan betapa besarnya nikmat yang akan diberikan karena membutuhkan pengorbanan. Adalah hal yang sangat mudah bagi Allah SWT. untuk mewujudkan seketika itu juga apa yang diminta kepada-Nya. Tetapi Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa di dalam doa juga ada energi sabar. Fungsinya, agar kita tidak kufur nikmat setelah yang didoakan diwujudkan-Nya.

Bukan hanya kita yang diberlakukan oleh Allah SWT. seperti itu. Para nabi-Nya juga mengalami hal yang sama. Nabi Muhammad SAW., misalnya. Bila dikaji di dalam sirah kehidupannya, bukan tidak banyak doa yang dilantunkan Nabi SAW. tidak seketika itu juga diijabah Allah SWT. Allah SWT. juga mengajarkan sikap sabar kepada Rasulullah SAW. Buktinya tampak dari doa Rasulullah SAW., “Ya Allah, Ampunilah mereka karena mereka belum mengetahui.”

Bukankah saat doa ini dilantunkan Rasulullah SAW., ia sudah dilempari kotoran unta, di caci maki, bahkan ada riwayat mengatakan hingga giginya berdarah. Namun, Rasulullah SAW. berdoa kepada Allah SWT. dengan sikap sabar. Ia memohon kepada Allah agar mereka diampuni dan diberi petunjuk. Allah SWT. tidak seketika itu juga memberi petunjuk kepada mereka. Namun, Rasulullah senantiasa mendoakan mereka agar selalu diberi petunjuk.

Luar biasa sekali Rasulullah SAW. Ia sudah dimaki dan dicaci, namun tetap mendoakan orang yang mencacinya agar diampuni dan diberi hidayah oleh Allah SWT. Ia meyakini bahwa Allah akan memberi petunjuk kepada mereka. Makanya tak heran bila doa tersebut terus dilantunkan Rasulullah SAW. Pelajaran sabar seperti ini yang layak dicontoh dalam berdoa. Jangan pernah merasa Allah tidak mengabulkan doa kita. Yang harus kita tanamkan bahwa kita harus terus berdoa dan bersabar menunggu diijabahkan doa yang dimohonkan kepada-Nya.

Bila ditinjau dari proses doa yang dilakukan Rasulullah, dapat ditarik pemahaman bahwa sabar itu bukanlah pasrah begitu saja. Tapi sabar adalah mengandung makna mencegah, bersikeras, dan keengganan. Rasulullah mencegah dirinya untuk meminta hal yang tidak baik ditimpakan kepada kaum yang telah menzhaliminya. Padahal, saat itu Jibril sudah menyarankan kepada Rasulullah SAW. agar berdoa kepada Allah supaya ditimpakan azab kepada mereka. Namun Rasulullah enggan dan mencegah dirinya untuk mendoakan hal yang disarankan JIbril as. Justru, Rasulullah bersikeras untuk mendoakan mereka agar mendapat keampunan dan diberi petunjuk.

***

Terwujudnya Doa

Setelah energi syukur dan sabar bersatupadu dalam doa, maka Allah akan mengabulkan doa yang dimohonkan, karena sudah memiliki keyakinan penuh, bahwa hanya Allah satu-satunya yang mampu mewujudkan apa yang kita inginkan. Semua itu Kita dapat pelajari dari cara Rasulullah SAW berdoa.

Berkat sikap syukur Rasulullah SAW. bisa menyebarkan dakwah kepada orang-orang Quraisy dan mendapatkan balasan yang tidak baik, ia pun mendoakan mereka diiringi sikap sabar dan penuh keyakinan bahwa Allah akan menunjuki mereka. Akhirnya, energi doa Rasulullah pun begitu kuat. Allah SWT. menunjuki mereka satu persatu untuk mengimani Muhammad bin Abdullah sebagai rasul Allah dan mengimani ajaran yang dibawanya.

Lantas, bagaimana dengan kita? Tak ada jawaban lain, untuk terwujudnya doa yang kita mohonkan tanamkanlah energi syukur dan sabar saat dan sudah berdoa. Jika keduanya telah dilakukan, Insya Allah akan diwujudkan Allah doa yang kita mohonkan. Allah SWT. sangat mengetahui kapan hamba-Nya pantas mendapatkan apa yang dimohonkannya. Karena Allah SWT. lebih mencintai hamba-Nya ketimbang hamba-Nya mencintai diri-Nya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

al falamiy | pengajar
syukran for KSC, banyak ilmu yang dapat diambil dari KSC. teman KSC dari boyolali ada gak ya?

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1053 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels