Pelangi » Risalah | Rabu, 20 Oktober 2010 pukul 17:50 WIB

Shalat itu Mencegah Perbuatan Keji dan Munkar

Penulis : Imam Setiawan

Kalam Allah SWT amat sangat luar biasa dengan menyiratkan begitu banyak tanda-tanda keagunganNya, terutama bagi hamba-hamba yang mau untuk berfikir. Semoga Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita baginda Rasulullah SAW.

Salah satu kenikmatan yang selalu diberikan oleh Allah SWT ialah perasaan nikmat dan ketenangan yang luar biasa ketika menjalankan ibadah mahdah yang dilakukan wajib 5 kali dalam sehari, yakni shalat. Dan amat beruntunglah seseorang yang merasakan kekhusyukan yang intens sewaktu shalat serasa Allah SWT selalu dekat dengannya.

Shalat merupakan perintah Allah yang sangat kecil tingkat toleransi yang diberikan oleh-Nya. Pelaksanaannya dilakukan sepanjang hayat dimulai sejak baligh. Tidak peduli seseorang berada dalam keadaan kurang sehat untuk berdiri, shalat tetap wajib dilaksanakan meskipun dalam keadaan duduk maupun berbaring. Karena nyatalah bahwa shalat merupakan sesuatu yang nampak secara dzahir untuk membedakan antara seorang muslim dengan nonmuslim.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari ibadah shalat. Di antaranya jelas bahwa shalat akan melatih kita untuk menjadi seseorang yang disiplin, selalu dalam keadaan bersih dan suci, selalu ingat kepada sang khalik, dan tentunya sebagai pengejawentahan dari sebuah ketakwaan agar kita mengasah dan terus meningkatkan keimanan dalam diri.

Seseorang yang rajin dan tekun dalam shalatnya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang cerdas, baik itu secara intelegensi, emosional, maupun sosial. Bagi yang menjalankan tentu akan lebih dewasa dalam bertindak, berfikir sebelum berprilaku, tutur kata yang selalu dijaga dengan lemah lembut yang cenderung menggambarkan perangai Rasulullah. Namun pertanyaannya saat ini adalah, mengapa ada orang-orang yang rajin shalat namun dalam bermaksiat juga jarang absen?

Sekarang kita coba untuk menilik hakekat dalam shalat. Bahwasannya shalat terdiri dari 3 komponen yakni, aspek bacaan shalat, gerakan shalat, aspek hati dimana ketiganya harus disinergikan untuk mencapai kekhusyukan dalam shalat. Tidak hanya shalat yang berorientasi pada bacaan dan gerakan-gerakan semata namun hatinya tertutup dan kurang menyadari keadaan diri bahwa saat ini kita tengah menghadap Sang Khalik untuk tunduk berserah diri sepenuhnya pada-Nya. Tidak juga penguasaan hati semata dimana aspek gerakan tidak disesuaikan oleh syari'at Islam ataupun tidak sesuai dengan tata cara shalat nabi, karena Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." Jelaslah ketika kita berbicara mengenai penglihatan, maka yang tampak adalah sesuatu yang bersifat dzahir, yakni gerakan shalat.

Begitu juga dari sisi pelafadzan bacaan atau ayat juga harus sesuai dengan tartil dan hukum bacaannya, karena salah melafadzkan bisa jadi arti yang dimaksud juga berbeda. Aspek bacaan merupakan suatu hal yang essensial yang harus diperhatikan untuk mencapai kesempurnaan dalam shalat.

Inilah saatnya untuk mengevaluasi sejauh mana diri ini dan orang terdekat kita saat beribadah menyembah Allah SWT dalam shalat agar kita dapat membentengi diri kita dari perbuatan yang tidak berguna dan perbuatan-perbuatan maksiat yang dapat menjauhkan diri kita kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah Allah katakan dalam surah Ash-shaad dimana orang yang beruntung merupakan orang yang senanitiasa mencoba untuk khusyuk dalam shalatnya. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beruntung.

KotaSantri.com 2002-2022