|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|




Rabu, 11 Agustus 2010 pukul 19:55 WIB
Penulis : Puji Hartono
Kalau pulang kampung, masjid-masjid di dekat rumah kebanyakan tarawih dengan 23 rakaat. Bagaimana sebenarnya jumlah rakaat dalam shalat tarawih? 11 atau 23 rakaat? Atau berapa? Dan bagaimana sikap kita sebagai ma'mum?
1. Dalil yang Berpendapat Tidak Boleh Lebih dari 11 Rakaat. ‘Aisyah –radhiallahu anha pernah ditanya tentang bagaimana shalat Nabi SAW pada bulan Ramadhan? Beliau menjawab, “Rasulullah SAW tidak menambah pada bulan Ramadhan dan selainnya lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dalil yang Berpendapat Boleh Lebih dari 11 Rakaat. Nabi SAW pernah ditanya tentang shalat malam, maka beliau SAW menjawab, “Shalat malam itu dua, dua. Jika seorang dari kamu khawatir masuk waktu Subuh, hendaklah shalat satu rakaat sebagai witir.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Secara pribadi, saya lebih condong pendapat yang kedua, yakni boleh lebih dari 11 rakaat dengan alasan hadits yang 11 rakaat itu adalah sepanjang yang diketahui oleh Aisyah terhadap shalat malam Nabi. Adapun hadits kedua adalah ucapan Nabi sendiri. Dalam ushul fikih, ada kaidah bahwa ucapan/perintah Nabi status hukumnya lebih tinggi dari perbuatan Nabi. Hukum asal perintah Nabi adalah wajib selama tidak ada dalil yang memalingkannya, sedangkan hukum asal perbuatan Nabi adalah sunnah/mandub selama tidak ada dalil yang memalingkannya.
Jadi, kedua hadits tersebut tidak bertentangan, yakni Nabi mengajarkan bahwa shalat malam itu dua, dua tanpa ada batasan maksimalnya, akan tetapi yang beliau lakukan adalah 11 rakaat (dan 11 rakaat inilah yang lebih utama). Jadi, 11 rakaat bukanlah batasan maksimal dari shalat malam. Allahu a'lam.
Oleh karena itu, apakah imam 11 rakaat ataupun 23 rakaat, hendaknya kita shalat tarawih dengan berjama'ah di masjid (tidak sendiri-sendiri).
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang shalat bersama imam sampai selesai, dicatat baginya shalat seluruh malam.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban. Al-Albani menyatakan shahih).
Pernahkah kita shalat tahajud semalam suntuk sampai subuh? Dengan shalat tarawih berjama'ah, maka kita akan mendapat pahala seperti orang yang shalat-malam semalam suntuk sampai subuh.
Saya balik bertanya kepada yang berpendapat bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 rakaat, "Dalilnya mana yang menyatakan larangan lebih dari 11 rakaat?" Padahal telah jelas dari hadits kedua bahwa Nabi SAW memerintahkan shalat malam dengan dua, dua, kemudian ditutup dengan witir.
Misalkan saya mengatakan, "Makanlah sampai engkau merasa cukup." Kemudian ibu saya mengatakan bahwa saya senantiasa makan 15 sendok makan.
• Apakah itu berarti saya melarang/tidak membolehkan makan lebih dari 15 sendok makan?
• Apakah ibu saya mengetahui kalau makan di tempat lain saya juga hanya 15 sendok makan?
11 rakaat itu yang dilakukan Nabi SAW (sepanjang pengetahuan Aisyah RA), dan 11 rakaat itulah yang lebih utama akan tetapi bukan batasan.
Allahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Puji Hartono sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.