|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Rabu, 30 Juni 2010 pukul 18:11 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Saat ini kita tinggal di lingkungan yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Budaya yang sangat berbeda bahkan sering bertentangan dengan aqidah dan akhlaq Islam, seperti syirik dan budaya hedonis (mementingkan kesenangan duniawi) sangat kuat pengaruhnya di dalam diri kita. Bila kita menjalaninya seorang diri saja, tentu akan berat bagi kita untuk mempertahankan keimanan kita saat ini.
Islam mengajarkan kita untuk hidup secara berjama'ah. Misalnya di dalam shalat berjama'ah memiliki kelebihan pahala berlipat-lipat lebih baik daripada shalat sendirian. Di dalam Al-Qur’an juga diperintahkan kepada kita untuk berpegang teguh kepada tali agama Allah dan jangan bercerai berai (Ali Imran : 103). Di dalam Hadits Rasulullah juga disebutkan bahwa komunitas muslim itu seperti satu tubuh, bila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain pun akan merasakan kesakitan. Begitu pentingnya hidup secara berjama'ah, sampai-sampai Rasulullah menyuruh seorang yang buta untuk tetap melaksanakan shalat berjama'ah di Masjid, dan tidak memberi keringanan karena kebutaannya.
Banyak manfaat yang bisa kita ambil bila kita membiasakan diri kita untuk bergaul dengan saudara kita sesama muslim. Di antaranya, kita bisa terdorong untuk meneguhkan jati diri kita sebagai muslim. Melihat saudara kita bersemangat melakukan ibadah-ibadah, baik wajib maupun sunnah, maka kita akan ikut bersemangat melakukannya. Juga kita bisa saling menasihati untuk tetap berbuat baik secara Islami dan tidak mengikuti budaya yang tidak sesuai dengan syari'at Islam. Selain itu menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan dengan sesama muslim menjauhkan kita dari stres dan kesepian karena berada jauh dari keluarga.
Tetapi sering kali ada masalah ketika berhubungan dengan sesama muslim. Misalnya, ketika berkumpul dengan sesama saudara kita, justeru kita terperosok dalam aktivitas membicarakan orang lain. Atau sering kali hubungan yang awalnya bertujuan menjalin silaturrahim dengan sesama muslim, tetapi berakhir dengan pertengkaran. Atau bisa juga masalah timbul dari dalam diri sendiri, yaitu sulit untuk akrab dengan orang lain.
Oleh karena itu, perlu memerhatikan hal-hal berikut :
1. Perhatikan tujuan kita berkumpul dengan sesama saudara kita. Berkumpul dengan sesama muslim tidak akan bermanfaat jika hanya diisi dengan mengobrol tanpa tujuan. Tetapi bila kita berkumpul dalam rangka berdzikir kepada Allah, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, insya Allah keberkahan akan menaungi kita. Yang dimaksud dengan keberkahan di sini adalah, meskipun aktivitas itu hanya suatu aktivitas yang kecil, sebentar tetapi berkesinambungan, tetapi banyak manfaat yang bisa didapat.
2. Perhatikan tahapan-tahapan dalam membangun hubungan dengan sesama muslim. Seperti ketika kita menjalin hubungan dengan orang lain, ada tahapan-tahapannya. Tidak mungkin kita langsung akrab, atau langsung bisa menyampaikan semua permasalahan-permasalahan kita kepada seseorang, meskipun sesama muslim. Ada tahapan-tahapan yang perlu kita lalui untuk mencapai ukhuwah yang sebenarnya, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Dan perlu kesabaran dari setiap pribadi untuk melalui proses tahapan tersebut.
***
Tahapan-tahapan untuk Mencapai Ukhuwah Islamiyyah
1. Melakukan proses ta’aruf (saling mengenal) (49 : 13). Dalam tahapan ini, saling membuka diri akan membuat proses ukhuwah menjadi lebih cepat terbangun. Apa yang disukai, apa yang tidak disukai. Apa harapannya terhadap hubungan persaudaraan ini? Menceritakan kebiasaan atau budaya yang biasa dilakukan masing-masing negara/daerah akan memudahkan seseorang mengenal saudaranya. Berusaha berlapang dada terhadap kesalahpahaman di tahapan ini sangat penting untuk dilakukan oleh setiap orang.
2. Melakukan proses tafahum (saling memahami). Tahapan ini insya Allah akan tercapai bila kita sudah sering berinteraksi dengan saudara kita. Hubungan yang dilandasi kecintaan kepada Allah akan berkembang secara positif, memudahkan seseorang berlapang dada terhadap kesalahan yang dilakukan oleh saudaranya. Memahami dan memaklumi perbedaan-perbedaan yang ada, terutama perbedaan yang terjadi karena perbedaan negara dan budaya. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang sudah mengetahui bagaimana pola pikir saudaranya. Halus atau tidaknya perasaannya. Terbuka atau tertutupnya seseorang terhadap masalah-masalah pribadinya. Semakin dalam suatu hubungan, akan semakin mudah bagi seseorang untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya.
3. Melakukan proses ta’awun (saling menolong) (5 : 2). Secara fitrah, bila hubungan semakin akrab, maka akan mudah bagi seseorang untuk saling memberi pertolongan kepada saudaranya. Dua orang yang sudah saling mengenal, memahami saudaranya, insya Allah akan mudah memberi bantuan, baik diminta atau pun tidak. Di tahapan ini, dua orang muslim yang sudah saling memahami akan mudah memberi dan menerima nasihat dari saudaranya, tanpa khawatir akan menyakiti hatinya. Tentu saja dengan memperhatikan adab-adab dalam memberi nasihat.
4. Melakukan proses takaful (saling menanggung beban). Masyarakat muslim di zaman Rasulullah mencatat keindahan ukhuwah yang sudah mencapai tahapan ini. Bila kita ingat kisah setelah hijrah ke Madinah, salah satu yang lebih dahulu dilakukan oleh Rasulullah adalah mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar. Seorang Anshar menawarkan setengah harta dan salah seorang isterinya kepada sahabat muhajirin. Begitu juga kisah Salman Al-Farisi setelah memeluk Islam. Sebelumnya Salman adalah seorang budak. Dengan bantuan para sahabat mengumpulkan harta mereka, sehingga Salman RA bisa memerdekakan dirinya sendiri. Di Zaman sekarang ini bisa diwujudkan dengan berusaha meringankan permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saudara kita. Di tahap inilah kesatuan hati dan saling menyayangi karena Allah bisa terwujud.
Itulah beberapa proses dalam ukhuwah Islamiyyah. Hubungan yang dilandasi oleh keimanan insya Allah akan abadi selamanya. Sedangkan hubungan yang berlandaskan dunia, karena kesamaan suku atau kepentingan tertentu, tidak akan kekal. Ukhuwah juga akan terwujud dengan keimanan. Tanpa ada iman di dalam dada, akan sulit untuk berlapang dada. Mempertahankan hubungan karena diperintahkan oleh Allah SWT. “Dan Berpegang teguhlah kamu kepada tali agama Allah dan janganlah bercerai berai.” (Ali Imran : 103).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.