Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Keteladanan dan Pengaruh Perempuan
21 Januari 2010 pukul 20:45 WIB
Perpecahan dan Munculnya Nabi-nabi Palsu
16 Januari 2010 pukul 20:55 WIB
Mencoba Menguak Tabir Rezeki
13 Januari 2010 pukul 18:11 WIB
Potret Perempuan Masa Kini
24 Desember 2009 pukul 19:25 WIB
Akhlak dan Ketakwaan
16 Desember 2009 pukul 18:44 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 17 Februari 2010 pukul 18:55 WIB

Makna Bacaan dalam Shalat

Penulis : Sylvia Nurhadi

Pada suatu malam lebih kurang satu tahun sebelum Hijrah, Rasulullah diberangkatkan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina untuk kemudian dibawa naik ke langit dengan menunggangi seekor Bouraq, ditemani malaikat Jibril.

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra [17] : 1).

Di sanalah Rasulullah Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjalankan shalat sehari 5 waktu.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah bersabda, ”… Lalu Allah mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa AS. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Aku pun telah menguji dan mencoba Bani Israel." Maka aku pun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali.” Lalu aku kembali kepada Musa seraya berkata, "Tuhanku telah menghapus lima kali shalat." Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan." Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa AS hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat.” Aku pun turun hingga bertemu lagi dengan Musa AS dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepadaNya.” (HR. Muslim).

Jadi dapat disimpulkan betapa tinggi dan istimewanya kedudukan shalat di mata Allah SWT. Namun untuk mengerjakan perintah ini sesungguhnya diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar agar shalat tersebut diterima dan mendapatkan ridha’ Allah SWT.

Ibnu Mas’ud berkata, saya bertanya kepada Rasulullah SAW, “Pekerjaan apakah yang paling utama?" Beliau bersabda, "Shalat tepat waktu.” Saya bertanya, “Kemudian apa?” Beliau bersabda, “Berjihad di jalan Allah.” Saya bertanya, “Kemudian apa?” Beliau bersabda, ”Berbuat baik kepada ibu-bapak.”

Ketika shalat, kita diwajibkan untuk membaca surah Al-Fatihah. Surat ini juga dinamai Ummul-Qur'an yang berarti ibu atau inti Al-Qur'an. Membaca Al-Fatihah dalam shalat adalah rukun shalat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan shalat tanpa membaca Ummul-Qur'an, maka shalatnya tidak sempurna.”; “Tidaklah berpahala shalat yang di dalamnya tidak dibaca Ummul-Qur'an."

Allah berfirman, ”Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung." (QS. Al-Hijr [15] : 87).

Surat yang dimaksud dalam ayat di atas ini adalah surat Al-Fatihah yang terdiri dari 7 ayat, yang wajib dibaca pada setiap rakaat oleh kaum Muslimin ketika shalat.

”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Faatihah [1] : 1-7).

Surat ini memiliki makna yang amat padat dan mendalam; suatu penghambaan yang dimulai dengan menyebut sifat utamanya, yaitu Pengasih dan Penyayang, pujian yang hanya milikNya, yang menguasai hari Pembalasan, yang hanya kepadaNya kita memohon pertolongan agar kita tidak tersesat, memohon hidayah dan bimbingan sebagaimana yang telah Ia berikan kepada para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh dan memohon agar kita terhindar dari jalan kebathilan, sebagaimana yang ditempuh kaum Yahudi yang dimurkaiNya karena tidak memiliki amal dan banyak membunuh para nabi maupun kaum Nasrani yang tersesat karena tidak memiliki pengetahuan yang benar. Jadi sesungguhnya jalan yang dikendaki dan diridha’iNya adalah jalan yang berdasarkan pengetahuan yang benar beserta pengamalannya, bukan hanya salah satunya.

Jepang adalah suatu negara yang dikenal luas akan kedisiplinannya. Rupanya masyarakat negeri matahari terbit ini sejak lama telah memiliki kebiasaan mengulang-ngulang kalimat tertentu seperti kalimat “Aku juara!” seratus kali dalam sehari. Teori ini disebut 'Repetitive Magic Power’ yang terbukti mampu merealisasikan apa yang diucapkan tersebut dan menjadikannya motivasi untuk mencapai suatu cita-cita.

Begitu pula dengan shalat. Bacaan yang diulang-ulang yang dimengerti maknanya, apalagi bila dilaksanakan secara khusyu’, teratur, dan berkesinambungan, pasti akan melahirkan manusia-manusia yang penuh ketakwaan. Jadi, shalat sebenarnya adalah suatu pembinaan diri yang nantinya akan memberi keuntungan bagi pelakunya, yang dapat memberinya ketenangan batin, kedekatan akan Tuhannya.

Bacaan syahadat dalam shalat, bacaan yang diucapkan minimal 9 kali dalam sehari, dimaksudkan agar kita selalu ingat akan janji untuk hanya menyembah kepadaNya dan mengakui Muhammad SAW sebagai utusanNya.

Sedangkan makna di balik ucapan “Allahu Akbar” yang mengawali sahnya shalat seseorang yang berarti “Allah Mahabesar”, bila direnungkan dengan penuh kesadaran, sesungguhnya mengandung hikmah suatu penghambaan mutlak hanya kepadaNya. Dialah yang Mahabesar, kita, manusia adalah kecil. Apapun yang terjadi pada diri kita ini, sesungguhnya atas izin dan kehendakNya. Kita adalah kecil karena kita tidak memiliki kekuasaan maupun kekayaan apapun dibanding Dia. Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu yang kita miliki tidak ada artinya dengan apa yang dimilikiNya. Semua yang ada pada kita sesungguhnya hanya titipanNya yang pada saatnya nanti harus dikembalikan dan dipertanggungjawabkan. Bahkan kita pun tidak memiliki kuasa untuk menolak ketika Ia memanggil kita untuk kembali kepadaNya di mana pun dan dalam keadaan apapun kita berada. Maka dengan demikian, sungguh hanya kepadaNya kita patut menyembah, memohon bantuan, dan berserah diri atas ketetapanNya.

Bacaan Allahu Akbar ini terus kita ulang-ulang paling tidak 5 kali dalam satu rakaat atau berarti minimal 85 kali dalam sehari. Bacaan ini dibaca setiap kali kita merubah gerakan. Hal ini memberi makna bahwa dalam keadaan apapun seperti berdiri, duduk, berbaring, sujud, maupun ruku’, ketika kita dalam keadaan susah maupun senang, sakit maupun sehat, kita harus senantiasa mengingat kebesaranNya.

Demikian pula bacaan lain seperti do’a Iftitah yang dibaca setelah takbiratul Ikhram, “… Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’aam [6] : 162), yang diucapkan dalam shalat kita minimal 5 kali dalam sehari . Adakah kita benar-benar memahami makna ikrar, janji kita tersebut?

Setelah membaca do’a Iftitah, surat Al-Fatihah, dan salah satu surat ataupun ayat Al-Qur'an, kita rukuk sambil membaca bacaan yang membesarkan namaNya. Begitu bangun dari rukuk, kita membaca ”Sami’ Allahu liman hamidzah” yang artinya "Allah mendengar siapa yang memujiNya“. Artinya, kita diingatkan agar dalam shalat harus bersungguh-sungguh, karena Ia mendengar kita. Ini harus benar-benar kita yakini.

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.“ (QS. Asy-Syu’ara [26] : 217-219).

Berikutnya adalah do’a yang kita ucapkan ketika dalam posisi duduk di antara dua sujud yang diucapkan minimal 17 kali dalam sehari, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kasihanilah aku dan cukupilah aku dan tinggikanlah aku dan berilah rizki padaku dan tunjukilah aku jalan dan berilah aku sehat dan maafkanlah aku.”

Sadarkah kita bahwa sebenarnya rezeki, kesehatan, jabatan, kemuliaan, maupun petunjuk yang ada pada kita ini adalah wujud atau buah dari permintaan dan permohonan yang setiap hari kita mintakan secara berulang kali, yang kemudian dikabulkanNya?

Selanjutnya adalah bersujud. Posisi menempelkan dahi, yang merupakan bagian paling bergengsi manusia, ke permukaan terendah di muka bumi ini, yaitu tanah, adalah melambangkan tanda syukur kita sebagai mahluk yang sangat kecil dan amat bergantung kepada Sang Pencipta Yang Mahatinggi. Bacaan ”Subhana Rabbiyal ‘Ala” yang berarti “Segala Puji hanya milik Rabb Yang Mahatinggi“ ini jelas mengisyaratkan hal tersebut.

Shalat ditutup dengan membaca Tahiyatul-akhir, sementara Tahiyatul-awal diselipkan pada rakaat ke 2 untuk shalat-shalat yang ber-rakaat lebih atau sama dengan 2. Bacaan ini berfungsi untuk mempertegas dan mengulang ikrar kita sebagai umat Islam, yaitu bacaan syahadat. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat dilanjutkan dengan shalawat nabi, memohon kepada Allah agar junjungan kita Muhammad SAW mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana nabi Ibrahim AS. Ini adalah bentuk kecintaan kita kepada sang Rasul yang telah berjasa mengajak manusia kepada jalan yang benar, menjauhkan kita dari kesesatan dan kegelapan.

Begitulah shalat yang diajarkan Rasulullah sebagaimana dicontohkan malaikat Jibril AS atas izinNya.

Dengan menyadari hal-hal di atas, maka seharusnya shalat mampu mengubah perilaku dan cara berpikir seseorang.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabuut [29] : 45).

Di samping itu, penting untuk diingat, bahwa Rasulullah, seorang nabi kesayangan yang walau telah dijanjikan baginya surga, beliau tidak hanya menjalankan shalat wajib yang 5 waktu saja. Beliau banyak mengerjakan shalat sunnah seperti shalat rawatib, yaitu shalat sunnah yang menyertai shalat wajib, baik yang dilaksanakan sebelum maupun sesudah shalat wajib, shalat dhuha, shalat qiyamul lail, tahajud, maupun shalat sunnah lainnya.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 45-46).

Wallahu a'lam bishshawab.

Referensi
- Tafsir Ibnu Katsir
- Kumpulan Materi Hafalan dan Terjemahnya oleh KH As’ad Humam
- Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0946 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels