HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://yantia.kotasantri.com
Bergabung
28 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Balikpapan - Kalimantan Timur
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
razan.pranoto@yahoo.com
Tulisan Yanti Lainnya
Boost Your Own Self Esteem
12 Desember 2009 pukul 19:35 WIB
Kematian itu Indah
11 Desember 2009 pukul 17:15 WIB
Sup Ayam Jagung Manis
29 November 2009 pukul 19:40 WIB
Problematika Wanita Pekerja
12 November 2009 pukul 19:25 WIB
Perkedel Ikan Kakap
8 November 2009 pukul 20:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 23 Desember 2009 pukul 18:44 WIB

Memberi Sebelum Diminta

Penulis : Yanti Afriyani

Anas bin Malik berkata : Abu Thalhah adalah seorang yang memiliki kebun kurma yang banyak di Madinah. Kebun kurma yang paling ia sukai adalah kebun Bairaha'. Kebun itu berada di depan Masjid Nabawi. Rasulullah SAW biasa masuk dan minum air di kebun itu. Ketika Allah menurunkan ayat ini, "Kalian tidak akan sampai pada kebaikan yang sempurna sampai kalian menginfaqkan harta yang paling kalian cintai." (QS. Ali Imran : 92), maka Abu Thalhah menemui Rasulullah SAW lalu berkata, "Wahai Rasulullah, Allah menurunkan ayat kepadamu dan sesungguhnya harta saya yang paling saya cintai adalah kebun Bairaha', dan sesungguhnya saya menginfaqkannya di jalan Allah, saya berharap bisa menjadi kebajikan dan simpanan di sisi Allah. Maka gunakanlah harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah kepadamu." Maka Rasulullah bersabda, "Bakh, itulah harta yang mulia, itulah harta yang mulia, sungguh aku telah mendengar apa yang engkau katakan dan aku berpendapat agar engkau membagikannya kepada kerabatmu." Maka Abu Thalhah berkata, "Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah." Kemudian dia membaginya kepada kerabat dan keluarga pamannya. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Dalam hadits di atas terdapat teladan yang sangat bagus bagi kita. Lebih-lebih di zaman sekarang dimana persaingan hidup semakin berat, sehingga manusia cenderung untuk bersikap egois. Sikap egois ini tidak hanya menimpa kaum muslimin yang awam, akan tetapi juga menjangkiti mereka yang dianggap mengerti agama. Banyak di antara kaum muslimin yang tidak begitu peduli dengan nasib saudaranya. Banyak di antara mereka yang enggan membantu saudaranya, meskipun ia mampu untuk melakukannya. Sebagian lagi keberatan menolong saudaranya karena khawatir akan mengganggu anggaran kebutuhan untuk diri dan keluarganya.

Tetangganya kelaparan, ia tak mengetahui. Teman kostnya tak makan seharian, ia tak peduli. Jangankan mengetahui, lalu memberi sebelum diminta, sudah dimintai saja masih menolaknya dengan alasan sana sini.

Memberikan sesuatu kepada orang lain memang berat. Apalagi sesuatu tersebut adalah sesuatu yang bagus atau sesuatu yang kita sukai. Bahkan kadang-kadang kita masih merasa berat untuk memberikan sesuatu yang sudah tidak kita butuhkan. Sampai-sampai ada orang yang lebih suka membiarkan buah mangga yang jatuh di pekarangan rumahnya menjadi busuk daripada dimakan orang lain.

Betapa berbedanya dengan sikap Abu Thalhah dalam hadits di atas, beliau tidak hanya menginfaqkan buah yang sudah jatuh di kebunnya, bahkan beliau menginfaqkan kebunnya tersebut padahal kebun itu adalah hartanya yang paling ia cintai.

Allah memerintahkan kita agar menginfaqkan harta yang baik yang kita miliki dan melarang kita menginfaqkan harta yang buruk. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya Lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Baqarah : 267).

Inilah yang diperintahkan Allah kepada kita. Sudahkah kita mengamalkannya? Terkadang ketika kita berinfaq, kita justru memilih harta kita yang paling jelek atau yang tidak kita sukai. Ketika memberi sedekah kepada pengemis, kita pilih uang paling kecil yang ada di kantong kita. Kalau ternyata ada beberapa uang kecil di kantong, maka kita pilih yang paling kecil nilainya. Inilah yang sering kita lakukan, sangat jauh dari amalan para shahabat.

Kenapa kita enggan memberi? Bukankah memberi artinya menambah tabungan untuk hari akhir? Menjelang kiamat nanti, akan datang suatu saat dimana tak ada seorang pun yang mau menerima sedekah. Sebelum saat itu tiba, ayo kita bantu saudara-saudara kita sebelum mereka memintanya.

Referensi : Syarah Riyadhush Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Yanti Afriyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Angga Ciptadi | Karyawan
Sering-sering maen ke web ini, biar terus dapat insiprasi + motivasi dalam menjalani hari. Mudah-mudahan berkah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1320 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels