
Pelangi » Risalah | Rabu, 18 November 2009 pukul 18:55 WIB
Penulis : Setta SS
Setidaknya ada empat cara untuk memahami Al-Qur’an dengan benar, yaitu :
Satu, Memahami Al-Qur'an dengan Al-Qur'an
Misal, pada surat Al-Muthaffifiin [83] ayat 1-3.
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! [1] (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan [2] dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi [3].”
Ayat pertama pada surat itu ditafsirkan langsung oleh ayat kedua dan ketiganya.
Contoh lain pada surat Al-Fatihah [1] ayat 6-7.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus [6], (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka … [7].”
Siapakah mereka, orang-orang yang telah Engkau beri nikmat itu?
Penjelasannya ada dalam surat An-Nisaa’ [4] ayat 69.
“Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul (Muhammad SAW), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Dua, Memahami Al-Qur'an dengan Sunnah (Al-Hadits)
Misal pada surat Al-Anfal [8] ayat 60.
“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki, dan dari pasukan berkuda.”
Makna min quwwatin (dari kekuatan yang kamu miliki) ditafsirkan oleh Rasulullah SAW sebagai keahlian memanah, karena pada saat itu keahlian memanah adalah kekuatan perang yang paling efektif dibandingkan dengan keahlian memainkan pedang atau tombak.
Tiga, Memahami Al-Qur'an dengan Perkataan Sahabat
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaNya.”
Ibnu Abbas menafsirkan siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzalim saja pada surat Al-Anfal [8] ayat 25 itu di antaranya dengan bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami.
Empat, Memahami Al-Qur'an dengan Bahasa Arab
Seorang mufassir (ahli tafsir) yang menafsirkan Al-Qur'an dengan bahasa Arab haruslah seorang yang memahami seluk beluk bahasa Arab secara totalitas, selain orang yang mumpuni dalam memahami ketiga metode di atas.
***
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mengatakan Al-Qur'an dengan logika/akalnya sendiri, maka aku persilahkan ia mengambil tempatnya di neraka.”
Salah satu contoh penafsiran Al-Qur'an dengan logika atau hanya berdasar akal semata tanpa meninjau keempat metode di atas bisa kita temui pada penafsiran Al-Qur’an dalam film FITNA yang sempat menyulut emosi umat Islam di berbagai penjuru bumi beberapa waktu lalu itu.
Sudah pernah melihat filmnya kan?
Allahu a'lam bish-shawaab.
***
9 September 2009 o8:33 a.m.
Let's learn the Qur'an seriously.
KotaSantri.com © 2002-2012