Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://junaedogawa.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya, Madiun, Mamuju - Jawa Timur
Pekerjaan
pembantu
http://junaedogawa.blogspot.com
meklis@yahoo.com
yustio004@yahoo.com
yustio004@yahoo.com
Tulisan Junaedogawa Lainnya
Mimpi dan Bayangan
14 April 2009 pukul 17:16 WIB
Jadikan Kita sebagai Muslim, Mukmin, dan Muttaqin
23 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Permainan
19 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 10 Juni 2009 pukul 17:13 WIB

Cita-Cita adalah Amanah

Penulis : Junaedogawa

Semua manusia mempunyai cita-cita. Akan tetapi, setiap manusia punya cita-cita yang berbeda. Pernah mungkin kita mendengar orangtua atau seorang guru yang bertanya kepada murid-muridnya, “Anak-anak, apa cita-cita kalian?” Spontan anak-anak akan memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang bercita-cita ingin jadi dokter, guru, tentara, polisi, pilot, pegawai, artis, dan lain sebagainya. Mereka akan menyebutkan satu profesi yang diinginkan atau yang dicita-citakan. Namun, meskipun manusia mempunyai cita-cita yang berbeda-beda, tetapi pada umumnya manusia hanya mempunyai tiga cita-cita.

Pertama, kesempurnaan fisik (nafs). Setiap orang mendambakan fisik yang sempurna. Bagi seorang pria, tentu ingin wajah yang cakep dan gagah, serta postur tubuh yang ideal. Sedangkan wanita, ingin tubuh yang seksi serta rupa yang cantik. Hal demikian sudah lumrah, sehingga akhirnya, untuk mewujudkan itu semua, banyak cara pun ditempuh. Melakukan perawatan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seperti wajah, kulit, rambut, kuku, serta mengkonsumsi makanan yang menurutnya dapat menambah kesempurnaan fisiknya. Dan itu bisa menghabiskan biaya yang cukup besar. Bagi wanita yang sudah terbiasa ke salon kecantikan, tentulah akan paham tentang hal ini. Bahwa betapa hanya dengan perawatan kulit saja itu bisa memakan biaya hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.

Tapi, tahukah kita, bahwa kesempurnaan fisik yang kita miliki dan yang kita bangga-banggakan sesungguhnya tidaklah kekal. Ia akan hilang ditelan waktu. Tengoklah seseorang yang di waktu mudanya cakep atau cantik, dan menjadi idola bagi kaum muda-mudi, yang wajahnya selalu terpampang di halaman depan sebuah majalah, ketika ia sudah berumur di atas lima puluh tahun atau enam puluh tahun, ke manakah paras kecantikan dan kecakepannya? Gigi yang putih yang dulu punya daya pikat tersendiri, satu persatu mulai meninggalkannya. Bibir yang merah yang selalu menghiasi senyumnya yang manis, akhirnya mulai keriput dan tidak memikat lagi. Belum lagi kalau dia sudah meninggal, fisik yang dulu dibangga-banggakan akan hancur menjadi tanah, dan tak ada lagi yang mau melihatnya, malah ada yang takut untuk melihat, sebab yang tinggal hanya tulang-belulang yang tak berbalut daging dan kulit lagi.

Kedua, kesempurnaan harta (maal). Bagi setiap orang, kaya adalah sebuah hal yang sangat diimpikan. Punya rumah mewah, mobil mahal, uang yang banyak, perhiasan yang melimpah, dan lain sebagainya. Semua itu menjadi target dalam setiap aktivitas dan pekerjaan. Siang dan malam banting tulang, semua dilakukan hanya untuk memenuhi cita-cita ingin memiliki sejumlah harta dan barang yang serba mewah. Bahkan karena begitu menggiurkannya harta benda, sampai-sampai ada orang mau mengambil dan merampas hak milik orang lain yang bukan menjadi miliknya. Melalui cara mencuri, merampok, hingga yang lebih canggih, yakni korupsi. Dan ada juga yang rela mengorbankan kesucian tubuhnya terenggut demi mendapatkan harta benda. Meskipun dengan alasan yang berbeda-beda, baik itu karena terpaksa oleh himpitan kebutuhan ekonomi atau karena disengaja.

Tapi ketahuilah, bahwa kekayaan harta yang selalu dikejar tidaklah kekal. Semua akan kita tinggalkan dan tidak ada yang dapat dibawa untuk menemani kita masuk ke alam kubur. Segala kewemahan yang kita miliki seperti rumah, mobil, uang, perhiasan, cukup hanya sampai di dunia saja. Rumah besar dengan tempat tidur yang nyaman tidak akan mampu membuat kita merasa lapang dan hangat di dalam kubur yang luasnya hanya beberapa meter saja, dan kita pun harus rela beralaskan tanah dan berbantalkan tanah pekuburan. Sangat perlu kita bertanya, saat kita mengantar jenazah, "Kenapa ia tidak dibawa dengan mobil mewahnya. Kok malah keranda yang mungkin terbuat dari bambu yang dipakai untuk mengantar jasadnya? Kenapa pula ia tidak dibawakan tempat tidur yang empuk dan selimut yang tebal agar ia tidak kedinginan di dalam liang kubur?" Sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan melahirkan kesadaran dalam diri kita bahwa semewah apa pun harta benda yang dimiliki, tidak sepeser pun yang bisa dibawa ke alam kubur. Maka masihkah kita begitu membanggakan harta benda?

Kemudian yang ketiga, adalah kesempurnaan ilmu. Siapa yang tidak ingin pandai dan berilmu. Tentu tidak ada. Semua ingin pandai dan berilmu, karena dengan ilmu yang dimiliki, kita dapat mengembangkan sesuatu menjadi lebih maju dan lebih baik. Ingin menjadi ahli dalam bidang tertentu, atau pakar dalam suatu permasalahan, sehingga dapat menemukan penemuan-penemuan baru, tentulah keinginan kita semua.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa ilmu itu bisa menjadi pedang bermata dua. Satu matanya dapat menusuk orang lain dan satunya lagi dapat menikam diri kita sendiri. Kenapa demikian? Karena ilmu tergantung pada pemiliknya. Maksudnya adalah, yang punya ilmu itulah yang punya wewenang ke mana ilmu ia arahkan. Ketika ilmunya ia arahkan kepada jalan kebathilan, maka di situlah ia akan menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi ia merugikan orang lain, dan pada sisi yang lain ia menjerumuskan dirinya ke dalam lubang neraka. Dalam keadaan yang lain, ilmu juga bisa menjadi kolam yang jernih di tengah gurun padang sahara, yang dapat melenyapkan setiap dahaga. Karena ilmu ia mamfaatkan untuk kemaslahatan manusia, akhirnya orang lain dapat merasakan manfaat dari ilmunya dan menjadi air segar bagi setiap keringnya jiwa dari pengetahuan.

Lebih banyak kita mengenang seseorang karena keilmuannya, sebaliknya sangat sedikit kita mengenang seseorang karena kecantikan atau kekayaannya. Ingatlah Luqman yang digambarkan dalam sejarah sebagai seorang laki-laki yang hitam dan berambut keriting. Tetapi dengan ketinggian ilmunya, ia menjadi tauladan manusia dan terbukti dengan diabadikannya Luqman dalam Al-Qur’an. Demikian juga dengan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas, seperti para ulama yang meninggalkan ilmunya dalam bentuk karya tulis berupa beragam macam kitab-kitab. Orang-orang seperti inilah yang mampu memanfaatkan ilmunya untuk kemaslahatan manusia.

Sebenarnya, dua kesempurnaan (fisik dan harta), juga dapat kekal manfaatnya hingga setelah kita meninggal nanti, manakala kita mampu mengoptimalkannya dengan sebaik mungkin. Fisik yang bagus, bila kita gunakan untuk beribadah dan melakukan amal shaleh, tentu akan menghasilkan pahala yang akan kita rasakan setelah kita mati nanti. Kemudian dengan fisik indah yang kita miliki, apabila kita hiasi dengan pakaian iman dan taqwa, maka akan menghasilkan akhlaq yang mulia yang dapat menjadi tauladan bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, minimal dalam keluarganya. Sehingga anak-anaknya dapat mencontoh perilaku baik tersebut dan menjadikan ia anak yang shaleh karena contoh akhlaq yang mereka lihat dari orangtuanya. Kiranya perlu kita ingat kembali sebuah bait lagu qasidah untuk menambah semangat kita dalam beribadah, yang berbunyi, ”Nabi Yusuf tampan tetap mau sembahyang, Siti Fatimah cantik tetap mau sembahyang, Nabi Sulaiman kaya tetap mau sembahyang.”

Begitu pun dengan harta. Apabila kekayaan yang kita miliki kita gunakan untuk membantu orang yang membutuhkan atau membelanjakan di jalan Allah seperti menunaikan zakat, infaq, shadaqah, dan pembangunan sarana pendidikan atau sarana ibadah serta sarana-sarana sosial lainnya yang bermanfaat bagi orang lain, maka insya Allah akan menjadi tabungan kita di hari setelah kita meninggalkan dunia ini.

Sebuah hadits Rasulullah SAW yang sering kita dengar dan kita baca, sangat perlu untuk selalu kita renungkan dalam-dalam. ”Apa bila anak adam meninggal, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga. Amal jariyah, anak shaleh yang mendo'akan orangtua, dan ilmu yang bermanfaat.” (Al-Hadits).

Kesempurnaan nafs, maal, dan ilm, adalah amanah dari Allah SWT. Kesemuanya harus kita manfaatkan untuk bekal kita setelah meninggalkan dunia ini. Amal jariyah dapat kita peroleh lewat harta kita yang dibelanjakan di jalan Allah. Begitu pula dengan anak shaleh yang akan mendo'akan kita setelah kita tiada, dapat kita miliki lewat memberikan contoh amalan-amalan shaleh serta akhlaq baik yang dilakukan fisik kita. Sedangkan ilmu yang bermanfaat dapat kita nikmati hasilnya manakala kita dapat mengamalkan ilmu yang kita punya. Kita ajarkan ilmu yang ada pada diri kita, sehingga dapat memberikan manfaat baik orang. Begitulah seharusnya kita menggunakan amanah dari Allah SWT tersebut.

Wallahu a’lam.

http://junaedogawa.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Junaedogawa sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0521 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels