QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Pulang
1 April 2009 pukul 18:45 WIB
Kekayaan Hati
28 Maret 2009 pukul 16:33 WIB
Keluasan Rahmat Allah
12 Maret 2009 pukul 19:09 WIB
Makna Sebuah Kesabaran
4 Maret 2009 pukul 18:28 WIB
Mencoba Memahami Konsep Takdir
17 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 15 April 2009 pukul 17:00 WIB

Hikmah Perang dalam Islam

Penulis : Sylvia Nurhadi

Kata Islam berasal dari akar kata Salima yang berarti selamat, damai, sentosa. Sedangkan Islam adalah berarti tunduk, patuh, berserah diri, menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik, Sang Pencipta Alam Semesta dan segala isinya, agar tercapai keselamatan dan kedamaian di muka bumi.

Oleh karenanya, perintah utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul kepada umat manusia sejak zaman nabi Adam AS hingga Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, tidak pernah berubah, yaitu memurnikan ketundukkan, penyembahan, dan penghambaan hanya kepadaNya, tidak ada yang selainNya.

Ini adalah ajaran Tauhid. Jadi sesungguhnya semua agama yang diturunkan melalui perantaraan para Nabi dan Rasul pada dasarnya adalah satu, yaitu Islam. Yang berbeda hanyalah syari'at, cara penyembahan, yang sesuai dengan zaman di mana Sang Rasul diturunkan di tengah masyarakatnya.

Islam yang dikenal sekarang ini adalah agama Islam yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad SAW 14 abad silam dengan kitabnya Al-Qur'an. Di dalam kitab ini diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi penutup yang diutus untuk seluruh umat yang ada di dunia ini. Allah SWT tidak akan mengutus lagi seorang pun Nabi maupun Rasul setelah itu.

Artinya, syari'at yang dikehendaki dan diridhai setelah adanya ajaran Muhammad SAW hingga akhir zaman nanti hanyalah ajaran yang dibawanya tersebut. Sedangkan ajaran dan syari'at yang dibawa para Nabi dan Rasul terdahulu hanya berlaku untuk masa yang telah lalu dan umat tertentu pula. Para Nabi dan Rasul ini mengajarkan bahwa di balik kehidupan dunia ini terdapat kehidupan akhirat. Semua kitab yang dibawa para utusan tersebut menerangkan hal ini dengan sangat jelas.

"Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Baqarah [2] : 4-5).

Ironisnya, kehidupan akhirat ini jauh lebih kekal daripada kehidupan dunia. Dan kehidupan akhirat terbagi dua, yaitu surga dan neraka. Surga adalah kehidupan yang menyenangkan dan penuh kenikmatan. Sebaliknya, neraka adalah kehidupan yang penuh kesengsaraan, penuh siksaan, dan penderitaan. Celakanya lagi, kehidupan dunia inilah yang menentukan kehidupan akhirat nanti, tentu saja atas izinNya.

Mahasuci Allah, Ia tidak menginginkan hambaNya masuk neraka. Sesungguhnya neraka dan siksaan yang ditunjukkannya hanyalah ancaman dan peringatan agar hambaNya berhati-hati dalam menjalani kehidupan dunianya, agar ia tidak tersesat dengan hanya mengikuti hawa nafsu serta menuruti godaan syaitan terkutuk.

Untuk itulah Ia mengutus para Nabi dan Rasul lengkap dengan Kitab Petunjuknya. Dan untuk itu pula Allah SWT memerintahkan para utusanNya untuk memerangi hamba-hambaNya yang tersesat, bila mereka tidak mau dan tidak bisa didakwahi secara baik-baik. Itu semua demi keselamatan hamba yang dicintaiNya dari siksa neraka yang sangat mengerikan!

Inilah yang dilakukan para utusan, termasuk Rasulullah SAW. Dalam surah Al-Kahfi ayat 66-82 diterangkan bagaimana Musa AS memetik pelajaran tentang arti hidup melalui nabi Kidhr yang telah diberi rahmat dan ilmu yang banyak olehNya.

"Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata : Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar." (QS. Al-Kahfi [18] : 74).

"Dan adapun anak itu, maka kedua orangtuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)." (QS. Al-Kahfi [18] : 80-81).

Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu, turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya, Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan, dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya, disiksa dan kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan.

Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun, para sahabat hidup dalam kesulitan, baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar. Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak.

Rasulullah pun tidak luput dari ancaman pembunuhan, sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota di mana mereka mencari nafkah kehidupan. Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan.

Perjanjian Madinah yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masing pun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud, Perang Parit, Perang Khaibar, dan sebagainya.

Perang yang mendapat izin dariNya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri. Kemudian setelah Islam berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Tetapi dengan syarat pihak yang akan diperangi harus didakwahi terlebih dahulu secara damai. Bila mereka menolak dan ingin tetap pada pendiriannya semula, mereka tidak boleh menghalangi, apalagi mengganggu ajaran Islam.

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2] : 256).

Jika ia berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, orang-orang seperti itu tetap berhak mendapat hak perlindungan. Namun sebagai gantinya, mereka harus membayar jiziah (zakat bagi penduduk Muslimin). Tetapi bila mereka menolak, apalagi mengganggu dan menghalangi ajaran Islam, maka mereka wajib diperangi. Namun demikian, perempuan, anak-anak, orangtua, bahkan tanaman pun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus.

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (QS. Al-Anfal [8] : 39).

Tetapi harus diingat, perang dalam Islam bukan untuk kepentingan politik, kelompok, ras, maupun golongan tertentu. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk, dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik yang Tunggal. Upah dan imbalan yang diharap bukan upah duniawi.

"Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (di muka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini."

Itu yang diucapkan Rasulullah SAW ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi'ar, karena ia merasa tak mampu terus menerus melindungi keponakan tercintanya, sebab ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Ajakan ini pulalah yang terus dikumandangkan para utusan Allah sejak dahulu kala.

"Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS. Asy-Syuara' [26] : 107-109).

Sayangnya, kaum yang ada sekarang ini kebanyakan tidak mau dan tidak ingin tahu adanya Hari Akhirat. Pandangan dan pikiran mereka picik dan sempit. Mereka mengingkari adanya Hari Pembalasan dan segala yang bersifat ghaib. Kebebasan berpendapat dan segala macam ideologi mereka ini hanya sebatas pada kepentingan yang sifatnya duniawiyah saja dan hanya menguntungkan kelompok tertentu pula. Padahal hukum yang seperti ini akhirnya hanya akan memunculkan Hukum Rimba, siapa kuat dialah yang menang. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi dan sungguh sangat patut di belas-kasihani.

Wallahu a'lam bishshawab.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1023 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels