
Pelangi » Risalah | Kamis, 12 Maret 2009 pukul 19:09 WIB
Penulis : Sylvia Nurhadi
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina." (QS. Al-Furqan [25] : 68-69).
Inti ajaran Islam adalah Tauhid, yaitu menyembah hanya kepadaNya, Sang Khalik yang telah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, tempat mengadu. Tidak ada yang selain Dia, tidak pula yang bersama Dia. Penyembahan mutlak yang dilakukan dengan hati yang ridha, ikhlas, dan tulus hanya kepadaNya yang bila diikuti dengan amal perbuatan shaleh, kelak akan mengantarkan manusia untuk kembali ke tempat yang mulia di sisiNya, yaitu Surga. Sesungguhnya perbuatan syirik, membunuh tanpa alasan yang sesuai syari'at, dan berzina adalah dosa-dosa besar yang tak terampuni. Allah SWT amat murka dan tidak meridhai manusia yang berbuat demikian.
Namun disebabkan kecintaan Allah SWT yang begitu besar kepada manusia, maka bila orang yang telah tersesat jauh tersebut mau memohon ampunan yang sebenar-benar ampunan, ampunan dan taubat yang disertai janji bahwa ia tidak ingin dan tidak akan mau mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut serta kemudian ia mengerjakan amal shaleh, maka Allah SWT, Sang Pemberi Taubat, akan membukakan pintu maaf dan pintu ampunan bagi siapa yang dikehendakiNya.
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya." (QS. Al-Furqan [25] : 70-71).
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At-Tahrim [66] : 8).
Namun Allah SWT mengingatkan Dia tidak akan menerima taubat yang dilakukan ketika seseorang dalam keadaan sakaratul maut, yaitu saat-saat menjelang kematian ketika tidak ada jalan lain baginya kecuali harus menyerah dan mengakui kesalahan serta terpaksa mengakui kebesaran dan keesaanNya.
"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah." Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka, tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (QS. Al-Mukmin [40] : 84-85).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Aku mengetahui penduduk neraka yang terakhir ke luar dari neraka dan penduduk surga yang terakhir masuk ke surga. Ada seseorang ditampilkan. Allah berfirman, "Enyahkanlah dosa-dosanya yang besar dan lucutilah dosa-dosanya yang kecil." Kemudian dikatakan kepadanya, "Kamu telah melakukan anu dan anu pada hari anu." Orang itu membenarkannya. Dia tidak dapat mengelak sedikit pun. Kemudian dikatakan, "Setiap keburukanmu menjadi kebaikan." Dia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah melakukan aneka kesalahan. Namun aku tidak melihatnya dalam catatan amalku." Maka Rasulullah pun tertawa hingga terlihat gigi taringnya. (HR. Muslim).
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula." (QS. Al-Zalzalah [99] : 7-8).
Hanya berkat rahmatNyalah seseorang bisa masuk surga, karena sesungguhnya sebesar apa pun pahala dan amal ibadah seseorang, tidak mungkin mampu menebus apa yang telah Allah SWT limpahkan kepada manusia. Namun sebagai penghormatan dan tanda kasih sayangNya terhadap Rasulullah Muhammad SAW, Allah SWT memberikan izin kepada beliau untuk memberikan syafa'at, yaitu memohonkan ampunan kepadaNya bagi seseorang yang mau meminta kepada beliau. Dan bila orang tersebut sebelumnya telah pula memohon ampunan kepadaNya, maka Allah SWT pun akan berkenan memberikan pengampunan kepada orang tersebut.
"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa' [4] : 64).
Tetapi karena saat ini Rasulullah telah tiada, maka di samping memperbanyak amalan sunnah seperti shalat rawatib, puasa sunnah, infaq, dan sedekah, kita dianjurkan untuk memperbanyak shalawat demi memperoleh syafa'atnya, semoga Allah menerima taubat kita.
"Katakanlah : Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar [39] : 53).
Demikianlah janji Allah SWT, Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang, Sang Maha Pengampun. Ia memberikan harapan kepada siapa yang dikehendakiNya, ampunan yang seluas-luasnya sebagai tanda kasih-sayangNya kepada seluruh umat manusia. Allah SWT tidak menghendaki rasa putus asa menyelimuti hati mahluk yang dicintaiNya.
Wallahu a'lam.
KotaSantri.com © 2002-2026