Pelangi » Refleksi | Rabu, 25 Desember 2013 pukul 20:00 WIB

Kecuali Surga

Penulis : Syaifoel Hardy

"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" saya bertanya kepada seorang rekan, yang baru saja resign dari tempat kerjanya. "I will be back to Dubai!" jawabnya. "If the plan doesn't work, what is your Plan 'B'?" saya mengejarnya dengan pertanyaan kedua. "I will see...!" jawabnya, singkat.

Di apartemen, meskipun lampu mati jarang sekali terjadi di Qatar, saya selalu sediakan lilin, dua tiga buah. Ada juga korek api, walapun tidak merokok. Pengganti beras, untuk kebutuhan instan seperti Indomie juga ada. Air botol yang berukuran besar untuk di rumah dan yang kecil ditaruh dalam mobil tidak ketinggalan.

Seringkali pagi tidak sarapan. Biasanya ambil teh hangat di warung pojok dekat pom bensin, di km 5 dari rumah menuju tempat kerja. Tetapi biskuit acapkali saya juga taruh di tas kantor, untuk persediaan saja, in case saya lapar.

Saudara....

Dalam kehidupuan ini, ada hal-hal yang berada di luar jangkauan kita, tentang berbagai kejadian di masa depan. Ada pula yang berada dalam genggaman kita. Satu di antaranya adalah cita-cita. Perwujudannya butuh proses, waktu, tenaga, pikiran, kadang biaya, kesabaran, dan keuletan.

Perwujudan cita-cita tidak seperti main sulap yang hanya sekejap. Meski tidak harus detail, sebuah cita-cita, rencana kerja, atau apapun yang ada kaitannya dengan kelangsungan dan kelancaran program kita, ada baiknya ada cadangannya.

Cadangan ini sangat besar peranannya, sebagai program pendukung manakala prioritas tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kesiapan ini, sekecil apapun bentuknya, sebagaimana lilin di atas, nampak sangat sederhana dan sepele. Namun, begitu lampu mati, anda baru menyadari, betapa besar nilainya!

So, mulailah dengan cadangan dalam setiap langkah. Kecuali satu hal : Jika tidak masuk surga, tidak ada cadangan lain!

KotaSantri.com 2002-2019