Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Brutu Ayam Lebih Mulia
18 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Becermin pada Dua Umar
12 Desember 2013 pukul 18:00 WIB
Inspirasi dari Cato
6 Desember 2013 pukul 22:00 WIB
Selamatkan KKPK!
24 November 2013 pukul 19:00 WIB
Menjadi Perajin Kata
8 November 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 24 Desember 2013 pukul 19:00 WIB

Arogansi Pak Bupati

Penulis : Eko Prasetyo

Rektor Universitas Paramadina Jakarta Anies Baswedan sudah ditunggu rapat penting sore itu di sebuah hotel bintang lima. Sementara dia masih terjebak macet di salah satu jalan protokol. Tak mau terlambat, dia turun dari mobilnya dan menyuruh sopirnya melanjutkan perjalanan ke lokasi rapat. Anies lantas memutuskan naik ojek dan segera memakai helm berkaca pelangi.

Setiba di hotel, dia meminta si tukang ojek melajukan sepeda motornya ke depan pintu lobi. Petugas keamanan yang melihat itu buru-buru mencegat. Ia meminta tukang ojek yang membawa Anies Baswedan kembali dan berhenti di luar hotel lantaran sepeda motor tidak boleh lewat di depan lobi hotel.

Anies memberikan kode kepada tukang ojek untuk menuruti perintah satpam tersebut. Setelah membayar ongkos ojek, Anies berjalan kaki menuju lobi hotel. Satpam yang tadi mengusir si tukang ojek terperanjat. Ia lantas meminta maaf kepada Anies. ”Maaf, Pak, saya tidak tahu jika tadi itu adalah Bapak,” ucap petugas sekuriti itu. Anies tersenyum dan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bagi dia, sang satpam telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Anies sama sekali tidak terlihat arogan. Berbeda halnya dengan Marianus Sae. Bupati Ngada, NTT, itu membikin heboh Indonesia pada Sabtu, 21 Desember 2013. Ia memerintahkan Satpol PP Kabupaten Ngada untuk memblokade Bandara Toralelo Soa Sabtu lalu (21/12).

Gara-garanya, Pak Bupati tidak mendapat tiket pesawat Merpati Nusantara Airlines tujuan Kupang-Bajawa. Dikutip dari Tribunnews.com, Marianus mengatakan harus menghadiri dua agenda penting di Kupang dan Bajawa yang tidak bisa diwakili. Menurut dia, satu-satunya jalan adalah naik pesawat Merpati.

Marianus sempat memesan, tapi tiket sudah habis. Ia mengaku sampai memohon-mohon kepada petugas tiket Merpati, namun tidak dikabulkan karena memang tiket tidak ada karena ludes. Tidak terima, Marianus menginstruksi para petugas Satpol PP Ngada untuk menutup bandara. ”Padahal, saya harus menghadiri rapat penting penetapan APBD 2014 di DPRD,” ucapnya (Tribunnews.com, 22/12).

Tindakan Marianus tersebutpun menuai reaksi. Sebagian kalangan menilai bahwa perintah bupati Ngada itu bisa membahayakan keselamatan orang lain. Paul Sinlaeloe dari Pusat Advokasi dan Informasi Rakyat (PIAR) NTT termasuk yang mengecam keras sikap Pak Bupati tersebut.

Paul malah menyamakan tindakan sang bupati seperti teroris. ”Memblokir bandara hanya bisa dilakukan oleh teroris. Bupati harus memahami aturan bandara sipil dan penerbangan sipil dalam kaitannya dengan pelayanan publik. Kalau bupati menggerakkan pol PP untuk memblokir bandara, itu perbuatan melawan hukum yang bisa dikategorikan teror,” kata Paul (Kompas, 22/12).

Tampaknya, kasus Marianus Sae ini bakal berbuntut panjang. Apapun dalih yang ia kemukakan, tindakannya jelas bisa merugikan orang lain. Arogansi yang dia tunjukkan seolah menunjukkan potret sebagian pemimpin di negeri ini. Kita tentu belum lupa insiden pimpinan Ombudsman RI yang terbukti menampar seorang petugas bandara.

Tahun 2014 tidak lama lagi menyapa kita. Inilah tahun yang disebut-sebut pesta demokrasi rakyat karena adanya penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilu presiden. Semoga rakyat semakin cerdas dalam memilih para calon pemimpinnya. Selain harus amanah, si pemimpin tidak boleh mudah bersikap arogan dengan kekuasaan yang ia miliki.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elsye Ivanne | Swasta
Semoga dengann bergabung di KotaSantri.com banyak manfaat yang saya dapatkan n dapat bertukar fikian dengan akhi n ukhti. Mohon bimbingannnya karena dalam waktu dekat saya harus mengakhiri masa lajang dan berdampingan dengann seorang aktivis dakwah.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0625 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels