HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Kiat Menghadapi Writer’s Block
20 Desember 2013 pukul 22:00 WIB
Learn from 3 Idiots
17 Desember 2013 pukul 19:00 WIB
Berita Positif : Berita Negatif = ?
11 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Social Media Etiquette
7 Desember 2013 pukul 22:00 WIB
Perlunya Memiliki Akar yang Kuat
5 Desember 2013 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 23 Desember 2013 pukul 18:00 WIB

Break the Border and Touch The Sky

Penulis : Arry Rahmawan

Sebelum memulai artikel ini, izinkan saya menceritakan suatu fenomena yang unik. Tahukah bagaimana cara menjinakkan seekor gajah? Konon, seekor gajah dijinakkan dengan metode 'rantai gajah'. Pada awalnya seekor gajah yang belum jinak dan masih liar diikatkan kakinya pada rantai besar dan kuat, hingga pada akhirnya ketika gajah itu terus mencoba untuk melarikan diri selalu gagal.

Fenomena seperti ini dibiarkan hingga satu, dua, tiga hari, hingga satu minggu yang membuat sang gajah berpikir bahwa sepertinya tidak mungkin dia dapat meloloskan diri. Kemudian rantai tersebut diganti lagi dengan yang lebih kecil, namun karena sang gajah sudah menganggap dirinya lemah, maka akhirnya diapun diam saja dan tidak berontak. Hingga akhirnya diikatkan tali dan dilepaskan sekalipun sang gajah tetap menyangka bahwa dirinya tidaklah sekuat dulu dan hanya merupakan makhluk yang lemah.

Pernahkah berpikir bahwa sebenarnya dalam hidup kita ini juga seringkali terdapat rantai-rantai yang pada akhirnya membelenggu dan melemahkan diri kita? Mulai dari pimpinan kita yang tidak pernah memuji diri kita, seorang teman yang tidak rela kita menjadi lebih baik dan lebih maju, pesaing usaha kita yang sering mencemooh kita, kemiskinan, kekurangan fisik, dan lain sebagainya.

Saya lebih suka menyebut rantai ini sebagai sebuah border. Border ini tidak dapat dipungkiri banyak sekali terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua pilihan ketika kita menghadapi border tersebut, berusaha menghancurkan bordernya, atau membiarkan border tersebut yang menghancurkan kita.

Kita dapat belajar dari Ucok Baba atau Daus Mini. Bagaimana perasaan mereka dulu sebelum mereka menjadi artis, presenter, dan orang setenar seperti sekarang? Mereka mengetahui bahwa dalam diri mereka terdapat border yang harus dihancurkan. Mereka terus maju dan terus mencoba untuk menjadi lebih baik lagi.

Atau kita juga bisa belajar dari seorang siswa bernama Rizka Amaliah, seorang juara 3 matematika internasional SMA yang sehari-hari membantu kakaknya jualan rujak dan ayahnya hanya seorang pemulung. Rizka punya segudang alasan untuk membuat dirinya dikasihani, tetapi dia memilih bagaimana justru border tersebut bukan halangan baginya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Anda pasti juga mengetahui Andrie Wongso, seorang motivator nasional dan internasional yang sangat kesulitan ekonomi dahulunya, sehingga untuk SD saja tidak tamat. Zaman sekarang ini, mau jadi apa orang yang tidak tamat sekolah dasar? Tetapi AW tetap tidak membiarkan border tersebut menghancurkan dirinya. Dia bisa saja berkilah beribu-ribu alasan kenapa dia tidak sukses dan menjadi orang biasa saja, tetapi sekali lagi dia memilih untuk menghancurkan bordernya.

Hanya ada satu cara untuk menghancurkan border Anda, yaitu memutuskan dan bertindak saat ini juga untuk terus maju dan maju. Apa yang terjadi jika gagal? Ingat, gagal adalah sebuah feedback, yang mengharuskan kita membuat strategi yang berbeda. Jika kita masih sering berkeluh kesah, mengeluh, berarti sama saja kita membiarkan border tersebut menghancurkan diri kita. Padahal, border yang Anda alami saat ini bisa jadi adalah penghalang dengan tingkat kesulitan paling rendah yang ada dibandingkan dengan border yang dimiliki orang lain, tetapi justru orang lain bisa sukses. Bukankah seharusnya jika border kita lebih ringan, kesuksesan kita lebih besar?

Terakhir, saya akan mengutip sebuah firman dari Allah SWT dalam Al-Quran, surat Al-Israa ayat 70; “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”

So, Break Your Border and Touch the Sky!

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

fadhil | Mahasiswa
2 kata untuk situs ini, LUAR BIASA!!! Berharap bisa terus memberi manfaat pada para pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0623 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels