Pelangi » Refleksi | Kamis, 19 Desember 2013 pukul 18:00 WIB

Membuka Luka Lama

Penulis : Syaifoel Hardy

Usai salam, lelaki tua itu, masih dalam posisi Takhiyat, berada di depan saya, sepertinya asal Pakistan, sedang menggaruk-garuk bagian bawah kakinya. Pastinya, ada sesuatu. Saat saya amati, ternyata ada bekas luka di mata kaki. Warnanya sudah hitam, berdiameter sekitar dua centimeter. Kelihatan sudah kering. Barangkali ada yang mengganjal.

Dimainkan kedua jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya, seperti berusaha mengupas kulit bagian luar, yang nampak keras. Semoga tidak terjadi perdarahan. Begitu batin saya. Maklumlah, sedang berada di masjid. Saya juga berpikir, mengapa mata ini harus memperhatikan perilaku orang lain, yang tidak ada kaitan dengan kita?

Sesudah itu saya pergi, sebelum mengetahui hasil akhirnya. Apakah benar-benar dikupas kulit keringnya, atau menggaruk rasa gatal saja!

Ah, biarlah!

Ada pelajaran berharga yang bisa saya petik darinya.

Seperti halnya luka lama, dalam hidup ini sangat tidak nyaman jika harus mengungkit-ungkit masa silam yang kelam. Masa lalu yang penuh luka. Sejarah yang sempat mengukir duka. Baik yang menimpa diri sendiri, apalagi mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, yang sudah terlewati. Begitu mengungkitnya, ketidaknyamanan pasti akan serasa diulang.

Bila terjadi pada diri sendiri, bisa timbul pusing, jantung berdebar-debar, keringat dingin, sulit tidur, dan tidak bisa konsentrasi. Bila yang terjadi pada orang lain bakal memupuk kembali benih permusuhan.

Oleh sebab itu, manakala terluka, biarkan saja, pasti seperti kulit kita, akan sembuh dengan sendirinya. Kulit lama yang rusak akan mengelupas. Bila perlu, oleskan cream yang menunjang percepatan proses penyembuhan.

Dengan demikian, hidup akan lebih produktif, dengan fokus tertuju ke masa depan. Rekan dan saudara pula bertambah banyak, sehingga peluang rejeki akan lebih menjanjikan!

KotaSantri.com 2002-2022