Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Lidah Nggak Ada Tulangnya, Kan?
10 Desember 2013 pukul 19:00 WIB
Elegi Si Pencari Rezeki
4 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Tengoklah ke Luar
3 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
(Cuma) Sekantong Gorengan
1 Desember 2013 pukul 19:00 WIB
Jangan Berhenti Mencintaiku
29 November 2013 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 16 Desember 2013 pukul 18:00 WIB

Tuhan Masih Ada

Penulis : Bayu Gawtama

“Ternyata Tuhan itu ada,” kalimat itu saya dengar hanya beberapa jam setelah seluruh stasiun televisi menayangkan bencana tsunami di Aceh hingga menewaskan ratusan ribu orang, akhir Desember 2004. Begitu pula ketika beberapa bulan kemudian, Allah kembali menggetarkan bumi dan menghancurkan Nias. Tidak sedikit korban yang meninggal, dan teramat banyak air mata yang tumpah, karena belum lagi kita lupa akan bencana tsunami sebelumnya. Rupanya belum cukup sampai di Nias, badai Katrina pun menyerang Amerika, Negara dengan berbagai sarana dan fasilitas terlengkap itupun terlihat tidak siap kedatangan teguran Allah itu. Masih belum puas Allah mengingatkan ummatnya, Pakistan pun dihantam gempa, sedikitnya lima puluh ribu orang meninggal akibat bencana itu. Kali ini, mulut kita pun berucap, “Tuhan benar-benar masih ada.”

Beberapa hari lalu, saya mengantar seorang teman ke rumah anak yatim. Dia ingin mengantarkan sendiri sedekahnya agar lebih bisa melihat langsung orang yang menerimanya. “Lebih puas jika langsung menyerahkannya,” akunya. Ada yang membuat saya tergelitik untuk terus memikirkannya sampai di rumah, yakni kalimat yang keluar dari mulut ibu si anak yatim yang mendapat santunan dari teman saya. “Duh, Gusti, akhirnya Engkau mendengar juga do'a orang kecil seperti kami.” Selama ini, aku ibu itu, ia tak pernah alpa berdo'a, tak pernah meninggalkan shalat, tapi ia selalu bertanya kenapa nasibnya tidak berubah, selalu menjadi orang miskin. “Sejak kecil, orangtua saya miskin. Sampai saya punya keluarga sendiri, almarhum suami saya juga miskin. Sampai sekarang tetap jadi orang miskin,” keluhnya. Saya menangkap satu keluhan secara tidak langsung dari ibu itu kepada Allah, kenapa tak berkenan mengubah nasibnya.

Saya terus merenung, hingga kemudian teringat dengan kalimat “ternyata Tuhan itu ada” yang pernah saya dengar ketika bencana dahsyat melanda Aceh. Kalimat itu, ditambah perkataan ibu si anak yatim, “Engkau mendengar juga do'a kami” itu memunculkan satu anggapan, bahwa selama ini terlalu sering kita menganggap nihil keberadaan Tuhan. Dan ketika Allah benar-benar menunjukkan keberadaannya, baik dengan bencana maupun nikmat dan anugerah, barulah bibir ini menyebut namanya dan mengakui keberadaannya. Walaupun harus diakui, nama Tuhan lebih sering terucap di waktu sengsara, saat bencana, dan ketika manusia berada di pintu mati. Saat sehat dan hidup senang, kita lebih banyak lupa akan-Nya.

Mungkin selama ini kita lupa bahwa Allah senantiasa terlibat dalam berbagai urusan hidup manusia. Kita tak sadar, bahwa Allah tak pernah memejamkan matanya untuk merekam setiap gerak kita dalam menjalani kehidupan. Seluruh gerak kita perinci, semua perkataan kita perhuruf, tercatat dengan sempurna di tangan-Nya. Kita lupa semua itu, sehingga Dia mengingatkannya kembali dengan tsunami, gempa, dan bencana lainnya. Allah menguji seorang hamba tidak hanya dengan bencana, seseorang diberi kelebihan harta, atau sebaliknya dibuat miskin terus menerus itu juga bagian dari ujian-Nya. Siapakah yang lebih mampu bersabar dengan ujian itu, itulah yang membuat Allah tersenyum. Namun sekali lagi kita lupa, lupa ketika terlalu banyak nikmat Allah berikan. Kita juga ragu, ragu apakah Allah itu mendengar do'a yang setiap hari kita ucapkan sambil menangis.

Sebenarnya, keraguan akan Tuhan dan berbagai ketentuan-Nya seperti yang ditunjukkan dengan bencana, juga oleh ibu si anak yatim , sama dengan keraguan yang ada pada diri kita. Janji Allah melipatgandakan ganjaran untuk setiap sedekah, infak, dan zakat yang kita keluarkan dari harta kita, sering tergantung di benak kita, “Benarkah?” Terlebih ketika teramat sering kita berinfak dan bersedekah, tapi kita merasa rezeki kita biasa-biasa saja, tidak berlipatganda seperti yang dijanjikan Allah. Muncullah keraguan akan janji Allah itu, dan karenanya, keesokan harinya kita mengurangi jumlah infak atau sedekah kita. Hingga di pekan berikutnya, tak ada lagi yang tersisihkan dari harta kita untuk diinfakkan, karena kita semakin ragu. Padahal, sudah pasti Allah menambahkan rezeki kita, buktinya, kita masih mampu berinfak.

Sungguh, Allah menguji kita dengan cara yang seringkali tidak bisa kita mengerti. Di saat sengsara, hidup susah, kita bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?” dan memerintah Tuhan, “Tuhan, dengarkan do'a kami.” Ketika bencana datang, bibir ini berucap, “Tuhan benar-benar ada dan sedang marah.” Sama halnya dengan kita yang tiba-tiba mendapatkan rezeki yang tidak diduga-duga, padahal baru kemarin kita bersedekah. “Terima kasih, Tuhan, Engkau Maha menepati janji.” Lalu, ketika dahulu sekian lama kita menunggu ganjaran berlipatganda itu kita merasa tak pernah mendapatkannya, akankah mulut ini lancang berkata, “Tuhan, janjimu palsu.”?

Percayalah, Tuhan masih ada kok.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Agoes | TKI
Di sini tempat kumpul-kumpul, atau hanya sekedar ingin menambah ilmu tentang agama, atau hanya ingin baca-baca artikel-artikel bagus dari temen-temen di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0641 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels