QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Elegi Si Pencari Rezeki
4 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Tengoklah ke Luar
3 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
(Cuma) Sekantong Gorengan
1 Desember 2013 pukul 19:00 WIB
Jangan Berhenti Mencintaiku
29 November 2013 pukul 22:00 WIB
Nyanyian Cinta untuk Pak Mardjo
28 November 2013 pukul 19:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 10 Desember 2013 pukul 19:00 WIB

Lidah Nggak Ada Tulangnya, Kan?

Penulis : Bayu Gawtama

"Kalau bicara tuh hati-hati. Lidah nggak ada tulangnya, tapi hati ada darahnya." Saya terus menerus mengingat nasihat seorang guru saya selagi masih di sekolah menengah atas. Beliau memberikan nasihat itu untuk pembekalan para pengurus kerohanian Islam sekolah kami, saya termasuk di dalamnya. Sepanjang hari setelah acara pembekalan tersebut, saya tak hentinya memikirkan kalimat itu. Klimaksnya, saya datangi guru agama itu untuk menanyakan lebih lanjut.

"Lidah nggak ada tulangnya, saya mengerti, pak. Tapi apa kaitannya dengan hati nggak ada darahnya?" tanya saya penasaran. Dengan tenang ia menepuk pundak saya dan meminta saya duduk di sebelahnya. Kemudian ia mengarahkan telunjuknya ke dada saya, "Muara setiap kata itu di sini." Ah, saya makin bingung dengan kata-katanya, belum saya pahami kalimat sebelumnya ditambah lagi kalimat baru yang membuat saya makin menggaruk kepala.

Tutur kata itu, lanjutnya, harusnya keluar dari hati. Hati tak pernah berdusta, hanyalah kebenaran yang dihasilkannya, hati itu lembut, apapun yang berasal darinya tak mungkin melukai, hati itu indah, sehingga apapun yang keluar darinya senantiasa indah. Kalimat dan sentuhan yang berasal dari hati akan langsung sampai dan mengena ke hati yang mendengarnya. Lidah dan telinga hanyalah perantara, sedang muaranya adalah hati.

Saya masih belum mengerti benar, walau tetap mengangguk ketika ia memintakan kepahaman saya atas penjelasannya. Sebelum saya beranjak dari sisinya, "Kamu pasti akan memahaminya, segera." Duh, guru, saya malah dibuat bingung lagi dengan kalimat terakhirnya itu.

Sepanjang lorong menuju kelas, saya terus termenung dan memikirkan kalimat itu hingga tak sadar saya menabrak seorang teman saya yang sedang berdiri. "Mata lu di mana?" bentaknya. Sayapun tersentak dengan kata-kata pedasnya itu, saya memang salah karena menabraknya, tapi kata-kata itu sangat tak sedap di telinga, terlebih di hati ini. Subhanallah, guru saya benar. Saya langsung memahami semua kata-katanya, bentakkan teman saya itu bahkan masih jelas terngiang hingga detik ini. Sungguh, kalimat kasar, kotor, keras, menghina, merendahkan, dan menyakitkan teramat sulit dilupakan seseorang. Karena kalimat itu benar-benar melukai hati saya, terlalu lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menyembuhkannya. Dan ternyata, sampai hari ini saya masih bisa mengingat wajah teman yang mengeluarkan kalimat itu meski sudah lama saya memaafkannya.

Hati itu ada darahnya, benarlah guru saya. Lidah itu bagaikan sebilah pedang yang teramat mudah melukai perasaan orang lain. Anda mungkin masih merasakan sakit hati ketika direndahkan atau dihina oleh seseorang, meski kejadiannya sudah berpuluh tahun yang lalu, namun Anda bisa merasainya seolah itu baru saja terjadi sedetik yang lalu. Anda mungkin sudah memaafkannya, namun ketika Anda bertemu lagi dengannya, Anda pasti diingatkan dengan semua kalimat pedas dan merendahkan yang pernah dialamatkannya kepada Anda.

Saya pernah merasakan bagaimana terpuruknya setelah direndahkan orang lain dan merasa tak berharga setiap kali mengingatnya. Maka saya berupaya sekuat hati dan pikiran ini untuk tak mengeluarkan kalimat-kalimat pedas, keras, kotor, hina, merendahkan, dan melecehkan, karena orang lain yang mendengarnya akan terus menerus merekamnya dalam hati. Dan karenanya pula ia akan terus menerus mengingat wajah saya, bahkan membenci saya. Jikalah saya merasa rendah diri ketika dihina, sakit hati ketika dicemooh, tentulah orang lain pun demikian.

Sebaliknya, sayapun pernah merasai kesejukan dari kalimat-kalimat indah dan lembut dari banyak sahabat, guru, orangtua, bahkan orang-orang yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Sungguh, kesejukan itu masih bisa saya rasakan pada detik ini dan saya senantiasa amat merindui perjumpaan dengan mereka. Rindu nasihat dan kata-kata bijaknya, juga senyum indah yang menyertai kalimat lembutnya. Andai semua manusia di muka bumi ini memiliki kerinduan yang sama dengan saya.

Saya tahu, ini tak semudah yang saya pikirkan untuk menjaganya, karena hati kita tak selamanya berada dalam kondisi terbaik. Amatlah bersyukur saya jika hari ini saja, hari ini saja, saya bisa menjaga hati dan lidah saya. Semoga.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurudin | Swasta
Sekilas KSC memiliki apa yang dimiliki facebook yang membuat banyak orang 'kecanduan'. Tapi bila dicermati, facebook tidak memiliki apa yang dimiliki KSC. Maaf facebook, tak lama lagi aku akan meninggalkanmu, aku mendapatkan apa yang tak aku dapatkan darimu.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0992 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels