Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Jum'at Berkah
22 November 2013 pukul 19:00 WIB
Kekuatan Cinta
16 November 2013 pukul 20:00 WIB
Kehadiran
15 November 2013 pukul 19:00 WIB
Khasiat Sedekah : Penerima Berdaya, Anda Bahagia
13 November 2013 pukul 22:00 WIB
Terima Kasih untuk Tidak Berdusta!
12 November 2013 pukul 19:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 28 November 2013 pukul 19:00 WIB

Nyanyian Cinta untuk Pak Mardjo

Penulis : Bayu Gawtama

SMP Negeri 207 Jakarta Barat sangat beruntung pernah memiliki seorang guru olahraga bernama Pak Sumardjo. Pria baik hati yang lebih sering menjadi sahabat bagi siapapun siswa di sekolah itu, ketimbang sebagai guru. Ya, dia guru sekaligus sahabat semua siswa, terlebih kami, tim pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), dan tim gerak jalan sekolah.

Dari sekian banyak kebersamaan dengannya yang tak mungkin terbilang, ada satu penggalan episode yang tak akan bisa terlupakan, setidaknya oleh saya, dan mungkin oleh sebagian besar anggota tim gerak jalan dan PMR. Hampir seluruh tim putra dan putri bersedih karena kami tak memenangkan satupun trophy yang disediakan panitia dalam lomba tersebut. Berbagai cara dan petuah Pak Mardjo kali ini tak mampu menembus pekat hati kami yang terselimuti kekecewaan. Perjalanan dari Kantor Walikota DKI Jakarta Barat menuju sekolahpun diliputi keheningan, nyaris tak satupun dari anggota tim yang bersuara di dalam mobil angkot yang kami sewa.

Gelegar dan kilatan petirpun masih belum mampu memecahkan kebekuan, justru menambah suasana semakin pekat. Rintik hujan semakin deras, perjalanan semakin terasa lama karena jalanan mulai tergenang air. Saya ingat, saat itu baru sampai di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Sebuah mobil mogok di depan mobil kami, dan sepuluh menit sudah kami tak bisa jalan lantaran mobil depan belum maju barang sesenti. Melihat kondisi seperti itu, Pak Mardjo turun dan membiarkan sepatu dan celananya basah, genangan air di jalanan sudah sampai ke betis.

“Daripada terus sedih, nggak ada gunanya, mending kita dorong mobil di depan,” suara beratnya terdengar sejuk memecah keheningan dalam mobil. Saya dan beberapa temanpun langsung menceburkan diri di jalanan yang airnya semakin ke atas itu. Bahu membahu mendorong mobil yang mogok agar ke tepi, maksudnya agar mobil kami bisa berlalu melewatinya. Setelah mobil mogok itu sampai di tepi, berlomba kami masuk kembali ke dalam mobil, tapi tidak dengan Pak Mardjo. Ia justru menuju mobil lain yang juga mogok. Tangannya hanya mengayun lembut mengajak kami turun kembali. Tanpa menunggu hitungan ketiga, kaki-kaki kecil kami kembali terendam di genangan air. Tidak terasa, empat mobil sudah yang kami dorong dan tidak sadar kami melupakan semua kepahitan dan kekalahan dalam lomba pagi tadi. Hanya keceriaan dalam rintik hujan dan banjir yang menghiasi wajah kami.

Semoga berkat tangan-tangan kecil dengan tenaga yang kecil pula inilah, kami tak lagi terjebak macet akibat banjir itu. Beberapa pemilik mobil yang menawarkan uang pengganti lelah untuk kami ditolak halus oleh Pak Mardjo, “Kami hanya membantu, insya Allah ikhlas,” sayup suaranya terdengar.

Di dalam mobil, sisa-sisa lelah masih nampak jelas dari nafas kami tersengal. Pak Mardjo tertawa senang melihat kami tak lagi sedih, “Nampaknya kalian sudah bisa melupakan kekecewaan tadi pagi. Itu karena kalian baru saja berbuat hal terbaik yang tidak semua orang melakukannya,” jelas sekali kalimat itu hanya terukir dari lidah lelaki bijaksana sahabat kami, Pak Mardjo.

***

Suatu hari saat kuliah, sebuah kabar sampai ke telinga saya. Pak Mardjo, guru sekaligus sahabat kami itu berpulang menemui Kekasihnya, jiwa tenang yang penuh cinta itu kembali kepada Pemiliknya. Tak ada air mata yang keluar dari sudut mata ini, karena apapun tentangnya bukanlah kesedihan, melainkan bangga dan kagum yang tak terlukiskan.

Saya baru saja menyadari, bahwa aksi Pak Mardjo di genangan air itu adalah salah satu pelajaran terpenting yang tak pernah ia ajarkan di dalam kelas. Pelajaran tentang berbagi kepada siapapun yang membutuhkan, berbagi tanpa perlu ada kepentingan di baliknya, berbagi tanpa perlu berpikir apa yang bisa didapat sesudahnya. Pak Mardjo, telah benar-benar menanamkan benih cinta yang teramat dalam, sehingga benih itu kini telah tumbuh dan terus menghiasharumi hati ini untuk dapat dibagi kembali kepada siapa saja.

Pak Mardjo, sungguh bunga cinta itu masih terawat indah dalam hati ini.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0531 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels