QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Gali Potensi, Jual Diri
19 November 2013 pukul 20:00 WIB
Make Them Always Happy
13 November 2013 pukul 21:00 WIB
Saya, Arab, Amerika, India, dan Filipina
7 November 2013 pukul 20:00 WIB
Jangan Tunggu Sempurna
1 November 2013 pukul 20:00 WIB
Dompet
12 Oktober 2013 pukul 20:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 25 November 2013 pukul 18:00 WIB

Lidah dan Martabat

Penulis : Syaifoel Hardy

Seorang kolega menyampaikan cuplikan kisah tentang rencana pengunduran dirinya dari tempat kerja. Kepada HR, dikatakan bahwa dia tidak bisa kerja di lingkungan yang tidak memberikan peluang kepada karyawan untuk berkembang. Apalagi ide-ide mereka tidak diakomodasi.

Dengan entengnya, pejabat HR, menjawab, “Keluar saja kamu, tidak masalah. Masih ribuan yang ada di sana, antri, bakal menggantikan posisimu!”

Saudara…

Ada tiga hal dalam hidup ini yang tidak bisa ditarik kembali. Yakni, waktu yang terbuang, kesempatan, serta perkataan. Untuk yang terakhir ini, yakni perkataan, kita harus hati-hati. Bahkan ekstra hati-hati, utamanya jika menyangkut hal-hal sensitif seperti contoh dia atas. Dari atas ke bawahan, dari bawahan ke atasan.

Berbicara dengan orang-orang yang memiliki perasaan peka; menyampaikan pendapat kontroversial; berdebat dengan politikus; berbicara dengan wartawan; berdebat soal hukum, dan lain-lain, semuanya butuh pertimbangan. Bahkan dua tiga kali kalau perlu pemikiran, sebelum dikatakan. Tidak lain, karena apa yang sudah kita katakan, bisa jadi dicatat, didokumentasikan, diingat hingga diabadikan.

Sepanjang tidak menimbulkan persoalan, barangkali tak masalah. Namun bagaimana jika dampaknya membuat orang lain sedih dan terluka? Bisa jadi, tidak ada obatnya! Permintaan maaf saja, terkadang sangat jauh dari mengena.

Hikmah yang ingin saya sampaikan adalah, menghormati orang lain itu sebenarnya sangat sederhana, mudah, dan murah sekali. Nilai dan dampaknya, jika mau menyelami, sangat besar.

Menghormati orang lain lewat bicara, tidak harus bayar. Berbicara baik juga membuat orang lain bahagia. Jadi, tidak ada alasan, mengapa kita tidak berbicara baik dengan atau tentang orang lain.

Sebaliknya, omongan yang kurang pada tempatnya, bisa membuat orang lain sakit hati, benci, dan dendam. Malahan bisa bikin jantung berdebar-debar, hidup tidak tenang, mudah sakit-sakitan, hingga mati muda.

Sayangnya, kita acapkali tidak belajar dari pengalaman dan kenyataan. Sebagian berpendapat, untuk berbicara/berkata baik, sepertinya, harus mengeluarkan biaya mahal dan jutaan Rupiah. Meskipun akibat buruknya kita sadar.

Menyakiti orang lain lewat pembicaraan, berakibat fatal. Bukan sekedar kehilangan teman, sahabat, saudara, hingga martabat.

So, bicara baik-baiklah, seandainya mau pindah, berhenti atau keluar dari tempat kerja. Sebaliknya, yang dipamiti juga demikian. Jadi, sama-sama mendapatkan suka. Sama-sama beroleh pahala!

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0760 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels