HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://kopiradix.kotasantri.com
Bergabung
1 Mei 2009 pukul 23:11 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Pertaubatan di Pinggir Danau
10 November 2013 pukul 22:00 WIB
Kita dan Rasa Malu
1 November 2013 pukul 21:00 WIB
Menjaga Kemuliaan Diri dengan Nafkah yang Halal
23 Oktober 2013 pukul 19:00 WIB
Bangunan Tinggi
11 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Nenek yang Lumpuh
8 Oktober 2013 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 18 November 2013 pukul 17:00 WIB

Tuntutan Pengemis

Penulis : Muhammad Nahar

Fenomena unjuk rasa para pengemis, gelandangan, dan anak jalanan di Bandung menarik untuk dicermati. Dalam berita yang dimuat di situs Tribunnews.com pada 1 Oktober 2013 tersebut, para pengunjuk rasa mendatangi kantor Wali Kota Bandung di jalan Wastukencana. Para pengunjuk rasa tersebut menuntut agar pemerintah daerah bukan hanya bisa menertibkan mereka, tapi juga memberikan pekerjaan yang layak. Namun, saat Wali Kota Ridwan Kamil memberikan solusi untuk mereka menjadi penyapu jalan, sebagian pengunjuk rasa menanggapi dengan dingin. Di antara mereka ada yang merasa tidak suka dengan rencana tersebut dan ada pula yang enggan menjadi tukang sapu.

"Kalau mau dipekerjakan seperti itu, apakah bapak siap menggaji sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah bapak bisa menggaji mereka Rp. 4 juta sampai Rp. 10 juta. Kalau hanya gaji Rp. 700 ribu, tidak akan cukup," ujar Priston, salah seorang orator dari Gerakan Masyarakat Djalanan (GMD) sebagaimana dikutip dari situs Tribunnews.com. Ungkapan yang provokatif tersebut seakan menunjukkan jati diri mereka secara tidak langsung. Mentalitas yang lemah dan intelektualitas yang rendah tidak bisa disembunyikan dari para pengunjuk rasa yang datang itu. Terlihat jelas bahwa mereka berunjuk rasa bukan dari kemauan dan kehendak bebas mereka sendiri, namun ada orang-orang yang menggerakkan. Fenomena ini juga mengingatkan kita pada istilah Floating Mass atau Massa Mengambang yang pernah ada di era Orde Baru.

Dengan tetap memahami dan menghormati tuntutan mereka untuk diberi pekerjaan dan penghasilan yang layak, kita dapat mengukur tingkat intelektualitas dan mentalitas mereka. Tuntutan gaji antara 4 juta sampai 10 juta per bulan untuk pekerjaan menyapu jalanan tentu berlebihan. Banyak pegawai yang berpendidikan tinggi dengan tanggung jawab yang lebih berat dan komplekspun gajinya belum tentu sampai 10 juta per bulan. Merekapun sepertinya menginginkan pekerjaan yang dianggap lebih bergengsi daripada penyapu jalan. Bisa jadi pula, mereka merasa malu pada orang-orang yang mereka kenal seperti teman, saudara, atau keluarga. "Apa kata orang kalau saya jadi sampai penyapu jalan?" Mungkin begitu yang ada dalam benak mereka.

Padahal, tidak ada satupun pekerjaan yang halal yang akan menghinakan pelakunya. Mencari nafkah yang halal meskipun hanya menjadi seorang penyapu jalan jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang pengemis atau peminta-minta. Penghasilan seorang penyapu jalan pun seharusnya masih bisa mencukupi kebutuhan mereka asal tidak diboroskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti rokok atau kupon judi togel. Setidaknya, mereka masih bisa bertahan hidup tanpa harus terlalu membebani orang lain atau pemerintah.

Sungguh disayangkan, solusi sebenarnya yang cukup baik yang diberikan oleh Pak Wali Kota tidak digubris para pengunjuk rasa tersebut. Mereka sepertinya lebih merasa nyaman mencari uang dengan cara meminta-minta yang sesungguhnya mencoreng harga diri mereka sendiri. Ketidaktahuan mereka akan apa yang sebenarnya menjadi tuntutan di dunia kerja berpadu dengan mentalitas mempertahankan gengsi yang semu dan keinginan meraih penghasilan dengan cara yang nyaman dan mudah telah membelenggu mereka dalam kemiskinan, baik harta, intelektual, mental, maupun spiritual.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

oblongsantri | desainer dan konveksi
Banyak referensi yang bisa didapat, untuk perkembangan ide dan kreasi di oblong santri. Keren.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0530 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels