Pelangi » Refleksi | Ahad, 17 November 2013 pukul 18:00 WIB

Tweet-mu, Citramu, Karaktermu

Penulis : Arry Rahmawan

Mungkin kesannya kekanak-kanakan jika kita bicara mengenai seseorang yang menilai karakter orang hanya dari tweet-nya. Saat ini, kita mengenal banyak sekali revolusi sosial media, mulai dari Facebook, Twitter, LinkedIn, Foursquare, dan banyak lagi media sosial lainnya. Namun ada hal yang tidak disadari para pengguna sosial media, yaitu akumulasi dari apa yang mereka tuliskan pada sosial media mereka dapat menjadi cara yang paling ampuh dan mudah untuk mengetahui citra diri dan karakter seseorang.

Jadi, buat mereka yang menganggap bahwa sosial media hanya sebagai media pelampiasan dan hanya untuk bermain-main, coba pikirkan kembali. Kekuatan sosial media tidak hanya sekecil itu. Banyak sekali kejadian-kejadian seseorang direkomendasikan untuk mengerjakan sesuatu hanya karena dia rajin nge-post hasil kerjanya di sosial media. Ada juga orang yang ditolak mendapatkan kerja atau beasiswa hanya karena ada kata-kata yang 'kurang baik' di timeline-nya.

Salah satu sosial media yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Twitter. Nah, siapa sih yang tak tahu Twitter? Padahal kita hanya bisa mengirimkan 140 karakter (huruf), tetapi rasanya asyik sekali bisa gaul dan cuap-cuap di Twitter.

Saya pernah membandingkan apa yang di-tweet oleh mereka yang sukses dengan mereka yang hidupnya biasa-biasa saja. Ternyata, isi tweet mereka bisa jadi jauh sangat berbeda satu sama lainnya. Kita bisa melihat, rata-rata orang menggunakan Twitter-nya untuk curhat colongan, berkeluh kesah, dan hanya sekedar mengabarkan apa yang sedang dia lakukan.

Apa yang saya temukan kemudian di-tweet orang-orang yang luar biasa sedikit berbeda. Benar, mereka juga kadang curhat colongan, berkeluh kesah, dan juga tidak jarang nge-tweet hanya sekedar untuk mengabarkan apa yang mereka lakukan. Tetapi proporsi hal tersebut jauh lebih sedikit dari tweet-tweet bermanfaat yang mereka berikan. Ketika mereka nge-tweet, yang mereka sebar adalah hal-hal bermanfaat, membangun semangat, membangun wawasan, dan juga membangun rasa penasaran. Akibatnya, tidak jarang berawal dari sebuah akun Twitter, banyak orang kemudian akan menangkap persepsi dari tweet-tweet apa yang mereka sebarkan.

Saya pernah diceritakan oleh seorang kepala HRD dalam merekrut pegawai. Tidak lupa dia bertanya tentang aktivitas para pelamar di dunia maya, termasuk Twitter-nya. Saat dicek, ada beberapa pelamar yang ternyata isi di tweet-nya 'kurang bagus' untuk dicerna, dan hal tersebut mempengaruhi pertimbangan si kepada HRD untuk menerima si pelamar. Unik bukan?

Jadi, sahabat. Bijak-bijaklah dalam menggunakan Twitter dan menyebarkan tweet-mu. Kalau kata seorang mentor saya, 'Jika kita tidak bisa memberikan kata-kata bermanfaat kepada orang lain, minimal kita tidak menambah kata-kata yang buruk.' Maka saya pun akan sangat selektif dalam menyampaikan apa yang saya tweet, ibaratnya menjadi badan sensor untuk tweet kita sendiri.

So, once again, tweet-mu adalah citramu, dari citramu seseorang akan bisa menilai karaktermu. Gampangnya, pikirkan buat jangka panjangnya. Ternyata sosial media bukanlah hanya sekedar sosial media. Sosmed, lebih dari itu.

KotaSantri.com 2002-2022