HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Jangan Tunggu Sempurna
1 November 2013 pukul 20:00 WIB
Dompet
12 Oktober 2013 pukul 20:20 WIB
Peninggalan Belanda Termahal
8 Oktober 2013 pukul 20:00 WIB
The Business Miracle of Silaturrahim
2 Oktober 2013 pukul 20:00 WIB
Respect : No Money
26 September 2013 pukul 19:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 7 November 2013 pukul 20:00 WIB

Saya, Arab, Amerika, India, dan Filipina

Penulis : Syaifoel Hardy

Lebih dari 20 tahun terakhir ini hidup sepertinya 'berubah'. Utamanya dari segi trans-culutural, silang budaya. Di tengah-tengah arus globalisasi yang tidak kuasa dibendung. Terkadang tidak punya pilihan. Antara bertahan kemudian perlahan kalah, atau harus dipaksa membaur dengan mereka. Mengikuti arus deras yang kita sendiri acap dibuat bimbang. Akan diajak ke mana hidup dan kehidupan ini.

Ada banyak segi negatif, tetapi yang bijak adanya tuntutan untuk belajar dari nilai positifnya. Ada lara, ada duka. Ada kecewa, ada gelisah. Ada risiko besar hingga nyerempet ke soal kematian.

Pernah suatu hari, mengalami konflik dengan seorang warga Arab. Mudah-mudahan itu yang pertama dan terakhir yang saya jumpa. Mereka memang beda. Gaya bicara yang biasa saja, sepertinya bernada marah. Bergaul dengan Arab, harus memosisikan seperti mereka. Jika masuk kandang macan, sementara anda berperilaku seperti ayam, tinggal menunggu waktu saja, kapan akan diterkam. Alhamdulillah, Arab tidak seperti Jawa. Hari ini tengkar, besok pesta bersama!

Beda Arab, beda pula Amerika. Mereka paling suka terus terang! Suka atau tidak. Janji akan ditagih, waktu akan ditanyakan. Ke restoran, meski diundang, bayar sendiri. Semula saya heran, mengapa bisa demikian. Akhirnya saya sadar, bahwa budaya kami ternyata memang beda! Yang saya paling suka adalah, meski sudah sekian lama tidak jumpa, mereka solid dengan yang namanya persahabatan. Apalagi kenalan saya seorang guru. Ah, sepertinya sungguh mulia prinsip hidup yang digelutinya.

Memang Amerika tidak seperti orang India yang memiliki kesamaan dengan tradisi dan budaya yang banyak saya jumpa di negeri tercinta. Tetapi, juga segudang perbedaan yang membuat saya tercengang-cengang. Betapa kuat rasa persaudaraan warga India. Betapa hemat sungguh erat digenggam. Sementara kita tidak betah dengan pola makanan yang sangat sederhana, teman-teman saya orang India ini sangat disiplin dengan yang namanya pengeluaran, belajar, dan pengaturan waktu sebagai individu, profesional, dan anggota kelompok sosial maupun politik. Mereka sangat biasa dengan yang namanya mogok dan protes. Mereka begitu menghargai komitmen dalam organisasi. Pada akhirnya saya cukup mengerti, mengapa Inggris kalah telak dalam menghadapi rakyatnya Gandhi ini. Tidak di luar negeri, tidak pula di negeri sendiri, orang-orang India, sulit dicari tandingannya! Makanya wajar, Bill Gates yang asli Amerika, sangat menyukai mereka!

Sementara teman-teman Filipina yang sejak keberadaan di Kuwait mulai saya kenal, pada awalnya biasa-biasa saja. Lama-lama, meski kita serumpun dengan mereka, warganya Marcos ini, agak beda dengan kita. Terutama menyangkut mindset dan disiplin kerja. Memang ada orang-orang Filipina yang nakal. Kelebihannya, membuat saya sempat tercengang, mengapa petugas di Duty Free di hampir semua negara Timur Tengah lebih menyukai mereka. Pembantu rumah tangga asal Filipina juga dibayar lebih mahal. Petugas kesehatan lebih dibanjiri orang Filipina (di samping India) daripada warga negara lain. Rata-rata orang mereka kuat di sektor hospitality ini. Di samping, sangat concern dengan kebersihan dan kerapihan. Bahasa Inggris juga menjadi kelebihan lain yang mereka miliki.

Ringkasnya, ada banyak ibrah ketika saya berada di tengah-tengah kemajemukan mereka. Terlepas dari adanya perbedaan yang membentang luas antara saya dengan orang-orang asing ini, ada satu hal yang saya bisa jadikan kunci, agar berhasil menjadi pemenang dalam pergaulan multinasional ini. Saya mengedepankan prinsip bahwa semua kita adalah sama. Kita suka akan penghargaan, memiliki perasaan dan harga diri, serta demen dinamika kehidupan.

Tanpa harus menenteng dasar dan lambang negara di dada, kita bisa dapatkan eksistensi diri. Bahwa sungguh hidup ini indah, di saat mereka mengakui keberadaan kita. Mereka yang tidak segan-segan membuka diri, memberikan apa yang mereka punya, mengunjungi dan merasa bagian dari kehidupan kita. Di saat sedih dan duka menerpa. Di saat hampa dan rindu tanah tumpah darah melanda. Di saat tidak ada sanak dan saudara. Bukan sebagai apa-apa, namun lebih dari kebersamaan, bahwa sejatinya, kita semua bernama manusia!

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hendi | Desain Grafis
Mari gabung di sini. Artikelnya bagus-bagus dan banyak hikmahnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0562 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels