HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Nikmatnya Menulis setelah Tahajud
20 Oktober 2013 pukul 18:00 WIB
Tambah Tua Tambah Mesra
14 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Bahu Laweyan
6 Oktober 2013 pukul 18:00 WIB
Menulis seperti Pekerjaan Nabi
13 September 2013 pukul 23:23 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 26 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB

Menyembelih Kekikiran

Penulis : Eko Prasetyo

Sebagai pengurus RT setempat, aku kebagian ditunjuk sebagai salah satu panitia kurban. Pada Lebaran Haji atau Idul Adha tahun ini, kampung kami sudah mengumpulkan satu ekor sapi dan beberapa ekor kambing dari para donatur. Untuk satu ekor kambing, harganya Rp 1,3 juta. Untuk sapi, patungannya Rp 1,5 juta per orang, maksimal tujuh warga.

Dalam suatu kesempatan, aku dihampiri Pak Yono, salah satu warga. Ia mengutarakan niatnya untuk ikut patungan sapi. Aku menyambutnya ramah. Di sela obrolan, ia sempat bercerita soal kegalauan yang dia alami sebelumnya.

”Jujur Mas, saya merasa seolah-olah dibisiki setan terus-menerus,” ungkapnya.

”Hah? Kok bisa merasa begitu, Pak?” tanyaku penuh selidik.

Ia mengaku nyaris memilih untuk kurban kambing saja. Alasannya, lebih murah daripada harus patungan sapi. Padahal, ia sudah menyiapkan dana untuk patungan sapi. Dan niat ini telah ia canangkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya.

Eh, ndilalah pas hari H menjelang dekat Idul Kurban, niatnya sempat goyah. Ia berpikir eman (sayang) bila harus berkurban dengan patungan sapi. Dengan hanya kurban kambing, tentu saja ada sisa uang Rp 200 ribu dari dana kurban patungan sapi yang bisa dipakai untuk keperluan lain.

Pikiran itu terus menghantuinya. Hatinya bergolak. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pada niat awalnya, yakni patungan sapi untuk kurban. Kesadaran ini membuatnya lega.

Aku betul-betul bangga dengan beliau. Sebab, pada dasarnya, hakikat kurban membawa pelajaran penting tentang keikhlasan. Sebagaimana hal itu telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as saat diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail as.

”Panjenengan (Anda, Red) sudah mendapat hikmah lain dari berkurban, Pak. Yakni, menyembelih sifat kikir,” ucapku kepada Pak Yono.

Yang jelas, lanjutku, ibadah kurban ini semata-mata dilakukan karena mencari ridha Allah semata, bukan karena ingin riya (menampakkan kelebihan/kebaikan pada orang lain agar menuai pujian).

Sekilas mungkin kisah tersebut amat sepele. Namun, dalam hati aku yakin akan sangat berat jika mengalaminya. Yakni, apabila kita kelebihan rezeki, belum tentu kita akan ringan untuk mengeluarkannya dengan mudah. Pasti hal tersebut diiringi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu yang bersifat duniawi.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur mendapat pelajaran lain dari pengalaman kurban ini. Aku sadar bahwa sudah semestinya manusia memberikan kurban yang terbaik untuk Allah SWT tanpa harus diiringi pertimbangan yang bisa menghambat niat kurban tersebut.

Rezeki kita adalah pemberian-Nya. Maka, tak pantas kiranya jika kita merasa berat untuk mengeluarkan sedikit rezeki itu untuk mencari keridhaan-Nya.

Wallahu ‘alam bishshawab.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0536 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels