HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Bahu Laweyan
6 Oktober 2013 pukul 18:00 WIB
Menulis seperti Pekerjaan Nabi
13 September 2013 pukul 23:23 WIB
Demi Kucing
26 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Army of Rose
25 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 14 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB

Tambah Tua Tambah Mesra

Penulis : Eko Prasetyo

Badariyah memang dahsyat. Tadi malam (20/9/2013) saya melihat rekaman wawancaranya di Kick Andy. Nenek 73 tahun ini sudah lama single parent setelah sang suami, Yasin, wafat.

Ia harus membesarkan delapan anaknya, namun tak sedikit pun ia mengeluh. Badariyah hanya lulusan sekolah rakyat (SD) dan berjualan kue demi menyambung hidup.

Perempuan asli Bangka ini punya prinsip, dirinya boleh bodoh tapi tidak dengan anak-anaknya. Kemandirian, keuletan, dan keikhlasannya membesarkan delapan buah hatinya berbuah manis.

Tujuh di antara delapan anaknya berhasil menyabet titel sarjana. Bahkan, enam di antaranya telah menyandang gelar S-2. Hebatnya, semua sukses dalam karir. Si sulung sekarang menjabat bupati Bangka. Yang nomor dua pejabat dinas kesehatan setempat. Nomor tiga juga pejabat di dinas pendidikan setempat.

Hanya satu putranya yang tidak sarjana karena lebih memilih menjadi musisi dan pengusaha. Saat ditanya Andy Noya, Badariyah merasa bersyukur dan bahagia atas karunia yang luar biasa itu. Ia mengaku resepnya adalah ikhlas dalam mendidik dan membesarkan putra-putrinya.

Ada lagi yg menarik. Sebelum wafat, Yasin pernah menulis sepucuk surat untuk Badariyah. Salah satu isinya, Yasin meminta sang belahan jiwa untuk menuntun anak-anaknya ke jalan yang lurus. Maksudnya adalah tidak meninggalkan salat. Ada kata “sayang” pula untuk Badariyah di akhir surat tersebut. Romantis.

Ah, pasangan Nasar dan Musdalifah, eh maaf keliru, maksudnya Yasin dan Badariyah ini mengingatkan saya pada mbah kung dan mbah uti. Mbah kung seorang Katolik yang taat.

Ia pula yang awalnya mengantarkan saya untuk kuliah di IKIP Surabaya selama seminggu pada 1999. Setelah hafal jalanan Surabaya, saya pun berangkat sendiri.

Soal romantis, mbah kung ini inspiratif banget. Ia selalu belanja ke pasar tiap pagi dengan sepeda onthel kesayangannya di Keputran. Pas pulang, ia kerap membelikan cenil untuk mbah uti dan dimakan berdua.

Sebagai veteran RI, mbah kung juga sering bercerita soal pengalamannya diburu serdadu Jepang hingga pernah tertangkap dan ditusuk kakinya dengan bayonet. Saat Mallaby terbunuh di Jembatan Merah, mbah kung ikut merasakan panasnya tensi pertikaian antara Sekutu dan arek-arek Surabaya. Yang juga tak ketinggalan, saat ia menggebet mbah uti yang waktu itu kembang desa asal Mojosari yang merantau di Surabaya. Dengan battle dress ala TKR, ia merayu mbah uti dengan menawarkan mengantarkan ke tempat tujuan. Dengan ngonthel sepeda tentu saja. Mereka akhirnya menikah pada 1950 dan dikaruniai enam anak. Ibuk saya adalah anak nomor tiga.

Menjelang akhir hayatnya, mbah kung masih sempat bikin teh untuk mbah uti yg sakit stroke waktu itu. Dengan mesra sekali, mbah kung meminumkan teh tersebut lewat sendok kecil ke mbah uti. Hanthiiik, aku mbrebes mili jika ingat hal ini. Ternyata mbah kung yg dipanggil lebih dulu. Pesan terakhirnya kepada kami adalah menjaga mbah uti.

Saya sering menjumpai pasangan renta yg tetap mesra. Mereka salah satunya bahagia karena anak-anaknya berhasil semua. Bener juga kata mendiang mbah kung, emang opo sih yang dicari dalam hidup ini jika bukan ibadah dan ikhlas membesarkan anak sebagai titipan Tuhan. Menurut beliau, materi tidak akan pernah bikin puas manusia. Hanya cinta kasih yg dapat menenangkan hati.

Orang-orang seperti Badariyah dan mbah kung begitu menginspirasi saya. Mereka mengajari kita untuk ikhlas mendidik anak dan bekerja keras dalam hidup. Juga tidak serakah. Toh harta nggak dibawa ke kuburan, persinggahan kita kelak.

Ah, jadi kangen sama nyonya. Meskipun kami hidup sederhana, rasanya gubuk kami terasa bagaikan firdaus. Sebab, segala pertengkaran kecil hingga canda tawa kami terbangun dari rasa saling menghargai, menghormati, dan mengasihi. Semoga selalu begitu hingga kulit kami keriput, tak segan bergandengan tangan di keramaian sebagai kakek-nenek.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mundzakir | Teknisi Printer
Wah, udah beberapa tahun ane gak masuk KSC, sampe lupa account lama, akhirnya buat lagi. Tapi sekarang fasilitasnya dahsyat.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0466 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels