HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Hanya yang Luar Biasa
20 September 2013 pukul 20:00 WIB
Bila Musim Panen Tiba
14 September 2013 pukul 18:00 WIB
Tidak Harus Pinter Banget
8 September 2013 pukul 19:00 WIB
Kebaikan Berlapis
2 September 2013 pukul 19:19 WIB
Tidak Harus Kaya dan IQ Tinggi
27 Agustus 2013 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 26 September 2013 pukul 19:00 WIB

Respect : No Money

Penulis : Syaifoel Hardy

Merokok di dalam kendaraan umum di negeri ini sepertinya sudah bagian dari ‘hak’ setiap orang. Semua orang tahu, merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan, kelainan pada janin, keguguran, kanker, penyakit jantung, hingga kelainan kardiovaskuler, orang tak peduli. Jangankan di kendaraan. Di rumah sakit saja yang sudah jelas tempat mereka yang dirawat lantaran kondisi kesehatan, di bangsal penyakit paru dan jantung, orang banyak yang terang-terangan merokok di depan pasien! Inilah kondisi bangsa kita yang terkait dengan penghargaan terhadap orang lain.

Suatu hari ketika berkunjung ke salah seorang kerabat dekat yang tengah dirawat di rumah sakit, saya melihat dua orang merokok, tepat di depan seorang anggota keluarganya yang sedang menghirup oksigen. Sesudah saya sampaikan bahwa tidak seharusnya mereka merokok di dalam ruang, baru dimatikan puntungnya yang menyala. Tetapi mereka merokok lagi di halaman luar, masih di lingkungan rumah sakit yang sama, tidak jauh dari tempat mereka merokok semula.

Ironisnya, banyak petugas kesehatan kita yang cenderung kurang peduli dengan fenomena ini. Mengapa? Besar kemungkinan para petugas kesehatan ini juga perokok! Jadi, tidak mungkin lah perokok berteriak ‘dilarang merokok’. Kalaupun mereka bukan perokok, guna memberikan nasihat yang sifatnya ‘melarang’ ini, tidak gampang.

Melarang orang merokok di rumah sakit, sesulit melarang mereka yang ada di restoran-restoran di seluruh penjuru negeri kita yang terkenal dengan asbak dan puntung rokok ini. Di hampir semua tempat-tempat umum, termasuk bandara yang jelas terpampang tulisan ‘Dilarang Merokok’, orang tidak segan untuk menghisap dan membuang puntungnya di sembarang tempat!

Dalam perjalanan ke Kecamatan Dongko beberapa waktu yang lalu, baik saat berangkat maupun pulangnya, sampai ‘kesal’ rasanya bibir ini, menghimbau penumpang untuk menghentikan dan menunda menghisap rokoknya. Kekesalan saya sudah sampai puncaknya ketika yang saya temui perokoknya adalah sang Kondektur bus tempat kami menumpang!

Jika yang ‘punya’ kendaraan merokok, bagaimana kami harus mengingatkan penumpang lainnya?

Pembaca,

Respect atau menghargai orang lain, tidak semudah diutarakan hanya lewat bibir. Warga Indonesia konon terkenal dengan sopan santunya. Warga yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, di mana tata krama dijunjung tinggi, bukan hanya lewat bahasanya. Dalam pergaulan sehari-hari saja, pergaulan sosial ini harus selalu dikedepankan.

Anak mudah dikatakan tidak sopan jika menyelonong tanpa mengucapkan kata ‘permisi’ di depan orang-orang yang duduk atau posisinya secara fisik lebih rendah. Demikian pula hubungan bawahan dan pimpinan. Keterbukaan kadang dianggap sebagai sikap yang kurang baik, betapapun yang disampaikan adalah hal yang benar. Seolah-olah, setiap kali pembicaraan, antara yang muda dan tua, antara sesama yang tidak dikenal, dan antara bawahan dan atasan, selalu harus diikuti kata-kata:’maaf, permisi, dan terima kasih’. Ketiga kata-kata tersebut sebagai symbol tingkat kesopanan kita.

Di lain pihak, kita sungguh tidak mengerti tentang kebiasaan rokok ini. Seolah-olah, merokok diperbolehkan dan mendapatkan justifikasi bila diikuti kata ‘maaf, permisi, dan terima kasih’ ini.

Kita bermuka ganda!

Respect atau menghargai orang lain, adalah kebutuhan. Begitu tinggi sebuah penghargaan terhadap orang lain ini, sehingga banyak kita temukan kasus di mana orang bisa saling bunuh karena dilecehkan harga dirinya. Orang menghantam atau menghajar orang lain karena merasa harga dirinya diinjak. Membayar mahal, keluar pekerjaan, rela berkorban, dan lain-lain karena persoalan yang satu ini.

Menghargai orang lain sedemikian tinggi nilainya, sehingga orang, karena merasa dihargai bisa puas, meski tidak diikuti dengan uang. Karena merasa dihargai, produktivitas kerja jadi tinggi. Karena merasa dihargai, dibalasnya dengan berbagai bantuan serta dukungan dalam berbagai bentuk yang jumlahnya tidak sedikit. Karena merasa dihargai binisnya jadi melonjak tajam, customer bertambah, keuntungan berlipat ganda.

Respect sungguh memiliki kekuatan yang luar biasa! Bisa positif, bisa juga negatif. Dari sisi positif, ada baiknya kita kembangkan. Sebaliknya, dari sisi negatifnya pantas kita hindarkan!

Respek tidak sama dengan menyanjung. Menyanjung ada kesan ‘ada pamrih’. Memberikan rasa senang atau bangga kepada orang lain dengan berharap ada imbalan. Sedangkan respek adalah menghargai sesama tanpa memandang derajat, pangkat, umur, jenis kelamin, kedudukan sosial, harta, dan sebagainya. Intinya, respek tidak mengandung unsur diskriminasi. Sementara menyanjung yang diikuti biasanya respek yang ‘berlebihan’, terdapat diskriminasi. Respek dalam bentuk ini bisa dikategorikan sebagai bentuk ‘penyelewengan’ arti respek yang sebenarnya.

Implementasi respek ini akan nampak biasa-biasa saja jika terjadi antara anak muda ke orangtua; antara bawahan ke atasan; antara buruh dengan supervisor. Namun, arti respek akan benar-benar kelihatan jika seorang dosen menghargai muridnya, orangtua menghargai anaknya, manajer menghargai bawahannya, hingga presiden menyapa rakyatnya.

Praktik seperti yang saya sebutkan di atas, itu yang sulit dan tidak gampang ditemui dalam masyarakat kita.

Misalnya, pemilik rumah, menyampaikan kata ‘maaf’ kepada tamu ketika sang tuan rumah mau merokok. Sementara rokok, korek, asbak, dan rumah adalah miliknya sendiri. Demikian pula bila manajer memanggil bawahan, tetapi diikuti kata ‘maaf’ saat memanggil bawahan. Inilah bentuk respek yang sejati!

Yang ingin saya garis-bawahi adalah, terkadang kita berpikir dua-tiga kali hanya untuk menghargai orang lain, meski sekedar panggilan ‘pak, mas, mas, bapak, adik’, dan lain-lain.

Padahal, kita tahu, menghargai orang lain itu tidak perlu biaya atau harus mengeluarkan uang! Menghargai orang lain juga tidak harus pinjam sesuatu yang kemudian pengembaliannya harus pakai bunga. Terlebih lagi, kita tahu, akan kita dapatkan nama baik, sesudah menghargai orang lain, yang otomatis akan kembali kepada kita sendiri.

Makanya, menghargai orang lain jadikan sebagai kamus tetap daily life kita. Andai saja anda tahu besarnya nilai investasi sebagai hasil respect kita kepada orang lain ini, percayalah, tidak bakalan ada orang pelit di muka bumi ini dalam soal menyapa, salam, senyum, serta bertutur kata kepada sesamanya!

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0431 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels