QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
Bila Musim Panen Tiba
14 September 2013 pukul 18:00 WIB
Tidak Harus Pinter Banget
8 September 2013 pukul 19:00 WIB
Kebaikan Berlapis
2 September 2013 pukul 19:19 WIB
Tidak Harus Kaya dan IQ Tinggi
27 Agustus 2013 pukul 18:00 WIB
Bergumul dengan Syetan
20 Juli 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 20 September 2013 pukul 20:00 WIB

Hanya yang Luar Biasa

Penulis : Syaifoel Hardy

Pertemuan terakhir dengan seorang rekan seprofesi beberapa tahun silam, mengingatkan saya kepada sebuah tantangan berat dalam hidup kita.

Mbak Hani, begitu saya biasa panggil, menderita kanker. Semula hanya terbatas pada buah dada. Sesudah operasi, ternyata terdapat penjalaran. Kali ini didapatkan di tulang belakang, hati, dan parunya.

Sebagai orang yang memiliki latar belakang kesehatan, kami tahu, betapa tidak gampang menghadapi multiple health problems ini. Deritanya menggerogoti tidak hanya secara fisik. Tetapi juga psikologis, moral, sosial, dan spiritual.

Setiap sesudah dilakukan terapi, orangnya memang merasa lebih baik. Tetapi, rasa lemah, mual hingga muntah, kulit menjadi keriput, nafsu makan berkurang, tubuh makin hari makin kurus, adalah sejumlah komplikasi sesudah terapi yang lebih dikenal dengan Chemotherapy ini. Umumnya dilakukan sampai 6 kali pada setiap penderita kanker.

Menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI), biayanya mencapai sekitar Rp. 100 juta per bulan. Jumlah ini, bagi mereka yang kaya atau mengantongi asuransi kesehatan, barangkali tidak masalah. Namun bagaimana dengan yang miskin?

Adalah Hamda, seorang ibu rumah tangga yang sedang menderita kanker, menemui seorang kenalan saya di Qatar. Aisha namanya. Aisha tahu bahwa Hamda penderita kanker. Mereka kenal baik, rukun hidup bertetangga. Saling mengunjungi dalam beberapa kesempatan.

Aisha yang baru saja pulang dari cuti kemarin, membawa sebuah kerudung buat Hamda. Sebuah hadiah kecil yang biasa diberikan oleh teman-teman kita sesudah pulang cuti. Sesudah diberikan, Hamda segera mencoba mengenakannya sambil berkata, “Saya kenakan karena kuatir tidak memiliki kesempatan lagi apabila saya tunda!”

Hamda tahu apa yang dialami dan terjadi pada penderita kanker. Banyak yang gigih berjuang melawan penyakit maut ini, banyak juga yang pasrah. Sambil tekun berobat, dia imbangi dengan doa.

Di mata saya, Hamda sama dengan mbak Hani. Sama dengan penderita kanker lainnya. Mereka amat gigih dalam melawan derita. Mereka pejuang sejati yang tidak gampang menyerah dengan keadaan. Satu per satu, penderita kanker ini berpulang, selamanya!

Kanker, momok terbesar abad ini. Kanker, salah satu penyakit paling menakutkan di bumi ini! Kanker, memang bukan satu-satunya!

Tantangan besar dalam hidup ini amat beragam. Kanker hanyalah salah satu contohnya.

Ada yang mengalami bencana berturut-turut seperti Tsunami di Aceh beberapa tahun silam. Ada yang ditinggal orangtua dan keluarga tercinta pada masa-masa sulit. Ada yang menghadapi kecamuk peperangan sebagaimana yang terjadi di Mesir dan Syria. Serta banyak lagi problematika kehidupan yang amat berbelit.

Di tengah-tengah kesulitan menghadapi tantangan hidup, mereka ini tetap mensyukuri hidup dan kehidupan dengan jalan istiqamah, memohon ridha dan rahmat dari Allah SWT. Mereka tidak henti-hentinya berharap untuk diberikan kekuatan mampu menerima segala cobaan dengan dengan tabah, bahwa di balik semua ini pasti ada hikmahnya.

Saya tidak mampu menyembunyikan kesedihan ketika mengunjungi mbak Hani, dan itu adalah dari terakhir kami ketemu.

Seperti yang saya sebut di atas. Mbak Hani is totally changed! Rambut yang semula panjang, jadi pendek dan rontok. Kulit mengeriput, kering, di sekujur tubuh. Raut wajah, nampak jauh lebih tua. Mata tidak lagi tajam memandang. Sekujur tubuh layu, tidak ubahnya tanpa penopang. Lesu berbaring di atas kasur dengan bantal 3 buah. Posisi setengah duduk.

Sesekali terdengar desahnya. Saya tidak mampu membedakan apakah ini do'a atau rintihan. Suara serak-serak basah dengan ritem lemah. Meski demikian, masih tersisa ketegarannya menghadapi penyakit maut ini.

Dari arah dua meter, tidak habisnya saya pandang. Perempuan setengah baya yang dulu aktif kerja di bangsal rumah sakit tempat kami kerja bersama, beda total dan bukan mbak Hani yang sebenarnya.

Beberapa bulan kemudian, saya mendengar mbak Hani, hanya tinggal nama.

Seorang sahabat dekat, sempat ‘menasehatinya’, karena barangkali itulah ‘hadiah’ terbesar yang bisa diberikan sebelum menyongsong ‘rumah masa depan’. Untuk bertobat dan memohon hidayah kepada Allah SWT. Sayang, dia bersikokoh dengan keyakinannya, hingga hari terakhirnya.

Rodolfo, Hasmadi, Harun, Hani, Hamda, adalah nama-nama yang bisa disebut di antara sekian juta manusia yang tengah ‘diuji’ olehNya. Beruntungnya, mereka sangat kuat dan tabah dalam menghadapi ujiannya.

‘Beruntunglah’ mereka yang terpilih sebagai manusia-manusia kuat dan luar biasa ini. Karena tidak diberikan cobaan kecuali manusia seperti mereka sanggup memikul beban berat ini di pundaknya.

Sungguh sebuah keajaiban, ketika ditanya soal kematian, di mana sebagian besar kita tidak mampu membuka bibir, namun mereka, penderita kanker ganas ini dengan ‘tenangnya’ menjawab, “Siap!”

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Vitra | Exim Staff
Sangat hebatzzz, KSC!
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0450 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels