Pelangi » Refleksi | Kamis, 19 September 2013 pukul 20:00 WIB

Tahniah, Ta’ziyah, dan Ta’mir

Penulis : Rifki

Selepas jam kantor dan setelah menyusuri kemacetan jalan, saya baru tiba di lingkungan rumah saya menjelang waktu Isya. Memasuki Jalan Masjid Nurul Yaqin, saya mendengar alunan musik irama gambus. Sudah dapat saya pastikan bahwa sumber suara musik tersebut adalah dari salah satu rumah tetangga saya yang sedang mengadakan acara walimatul ‘ursy. Melewati panggung, saya melihat beberapa orang berada di panggung yang sedang memainkan alat musik dan bernyanyi.

Saya lanjutkan perjalanan saya yang tinggal beberapa puluh meter menuju rumah saya. Di salah satu rumah dalam komplek Perumahan Bambu Asri yang saya lewati, saya melihat beberapa orang sedang duduk di ruang tamu dan teras depan. Penghuni rumah tersebut sedang berduka karena ditinggal salah satu anggota keluarganya beberapa hari yang lalu. Dan orang-orang yang sedang duduk-duduk itu adalah para tetangga yang mencoba menghibur dengan cara-cara yang telah menjadi tradisi.

Saya pelankan laju motor untuk mengurangi volume suara mesin ketika berjalan di depan rumah tersebut. Setelah melewati empat atau lima rumah, tibalah saya di home sweet home.

Adzan Isya berkumandang. Saya bersiap menuju masjid di ujung jalan. Lantunan irama padang pasir yang tadi saya dengar berhenti. Sementara orang-orang di rumah duka masih duduk-duduk, bahkan bertambah, karena dalam perjalanan ke masjid saya berpapasan dengan bebebarapa orang yang menuju ke rumah duka.

Muadzin telah menyempurnakan adzannya. Saya belum tiba di masjid yang saya tuju. Dari arah belakang saya, kembali alunan musik dan nyanyian gambus kembali terdengar. Sepertinya, tambah malam tambah semangat.

Tiba di masjid, sepi yang saya temui. Jumlah jama’ah yang datang tidak seperti biasanya. Bahkan imam rawatib pun tidak ada. Jangan-jangan, jama’ah yang tidak hadir karena sedang bertahniah atau berta’ziyah.

Wallahu a’lam.

KotaSantri.com 2002-2022