Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://jamilazzaini.kotasantri.com
Bergabung
24 Juni 2009 pukul 05:31 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Trainer
Jamil Azzaini adalah seorang trainer sekaligus Inspirator. Rekan-rekannya menyebut sebagai Inspirator Sukses Mulia. Julukan itu muncul didasari oleh kepiawaiannya mendorong orang untuk selalu meraih kehidupan terbaik: Sukses Mulia. Sukses adalah orang yang memiliki 4-ta (harta, tahta, kata dan cinta) yang tinggi, 4-ta itu diperoleh dengan memperhatikan etika dan agama yang …
http://jamilazzaini.com
http://facebook.com/jamilazzaini
http://twitter.com/jamilazzaini
Tulisan Jamil Lainnya
Mengingat Mati, Justru Dapat Rezeki
9 September 2013 pukul 20:00 WIB
Katanya itu Berbahaya
6 September 2013 pukul 21:00 WIB
Bagaimana Agar Merasa Kaya?
3 September 2013 pukul 21:00 WIB
Menjadi Pelayan
28 Agustus 2013 pukul 21:12 WIB
Pelitnya Jangan Terbalik
22 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 15 September 2013 pukul 21:00 WIB

Mungkinkah?

Penulis : Jamil Azzaini

Setelah 1,5 tahun di Jerman, kemarin, anak kedua saya Ahmad Sholahuddin An-Nabhani (Asa) tiba di Indonesia. Begitu keluar dari pintu bandara, ia langsung berlari dan memeluk saya. Pelukan itu begitu lama, erat, dan nikmatnya sangat terasa. Kenikmatan semakin terasa saat saya menyaksikan ia memeluk ibunya dan kemudian adiknya.

Berbicara tentang pelukan, selain nikmat, pelukan itu bisa menurunkan stres dan lelah. Sebelum saya menikah, bila saya lelah, jenuh, dan punya masalah, pelukan ibu sayalah yang menjadi obatnya. Setelah saya menikah, pelukan istri sayalah yang lebih banyak menjadi penggantinya.

Pelukan benar-benar membuat pelakunya merasakan kebahagiaan dan kenikmatan. Sungguh rugi bila ada orang yang enggan memeluk anak dan istri serta orangtua hanya karena alasan “jaim”, malu, tidak terbiasa, dan alasan lainnya. Jadilah orang yang pro-aktif memeluk orang yang memang boleh kita peluk.

Saya selalu rindu dipeluk dan memeluk. Hingga saat ini, hanya ada satu pelukan yang sangat saya impikan ,namun belum bisa saya lakukan. Apa itu? Saya ingin memeluk kekasih Allah SWT, sang pembawa risalah, Nabi Muhammad SAW.

Setiap hari pikiran saya selalu bercampur antara harapan dan kekhawatiran, saya selalu berharap kelak bisa memeluk erat sang Nabi. Namun di sisi lain ada perasaan khawatir, “Pantaskah saya bisa memeluk orang yang begitu terhormat?”

Saya selalu merindukan moment bisa memeluk Nabi terakhir itu. Namun, pantaskah? Karena faktanya, saya begitu sering lelah dalam mencari nafkah, namun sangat jarang lelah dalam beribadah. Berjam-jam saya bisa serius aktif di sosial media, tetapi cepat terkantuk saat membaca kitab suci-Nya.

Ingin memeluk orang terhormat, tentu harus diimbangi memantaskan diri untuk juga menjadi orang terhormat. Caranya? Taat kepada orang yang hendak kita peluk. Melakukan hal-hal yang dicintai orang yang hendak kita peluk sekaligus menjauhi apa-apa yang ia benci.

Pelukan rindu kepada anak saya telah menyadarkan saya, ternyata memeluk itu nikmat. Apalagi memeluk orang yang sangat kita rindu. Untuk mewujudkan impian di dunia, saya tak pernah khawatir. Tetapi untuk mewujudkan impian memeluk sang Nabi di kehidupan nanti, saya selalu khawatir. Mungkinkah? Pantaskah?

http://jamilazzaini.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

salman dikz | Karyawan
KotaSantri.com... Ya Allah, kereeeen. Tooop daaaaah.
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0508 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels