QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Mengingat Usia dalam Berkarya
31 Agustus 2013 pukul 20:20 WIB
Memulai Berlatih Menulis
30 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Anugerah yang Tidak Terduga
25 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Keberkahan dalam Bisnis
19 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Asyiknya Usia 20-an
13 Agustus 2013 pukul 19:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 6 September 2013 pukul 20:00 WIB

Kebiasaan Berwacana

Penulis : Arry Rahmawan

“Jadi gini, bang, nanti bentuk kerjasama kita akan berupa seperti ini, seperti ini, dan seperti ini.”

Kebiasaan saya dalam menulis blog, berkomunitas, berbisnis, dan membentuk jaringan seringkali berujung pada ajakan dari banyak orang bertemu membahas hal-hal apa yang bisa disinergikan. Saya senang bukan kepalang saat ada teman/orang baru/pihak tertentu yang mengirimkan e-mail kepada saya untuk menawarkan kerjasama sinergi program dan juga kerjasama menarik lainnya.

Salah satu yang paling sering mengontak saya untuk melakukan kerjasama tentu saja adalah mahasiswa, yang rata-rata mahasiswa setingkat atau beberapa tingkat di bawah saya. Ketemuanpun diatur dan selama dalam pertemuan itu diceritakan banyak sekali hal-hal, ide-ide, dan bentuk sinergi yang sangat mungkin untuk disinergikan. Misalnya, saya yang sangat senang menulis ini menjadi kontributor proyek untuk membuat buku kewirausahaan di sebuah kampus. Namun kadangkala pemimpin proyeknya justru malah yang sulit dihubungi dan sibuk sendiri hingga tidak tahu lagi bagaimana nasib pengembangan buku ini.

Tidak semua sinergi berakhir wacana. Beberapa sinergi lain terbukti berhasil mengakselerasi pencapaian, baik pencapaian saya maupun partner saya tadi, namun tidak jarang sinergi tersebut berakhir hanya sebagai angan-angan wacana saja. Ya, hanya sekedar ide sinergis yang tidak dilanjutkan dan benar-benar hanya berupa wacana. Sedihnya, yang menjadi wacana ini lebih sering ketimbang sinergi-sinergi yang berhasil.

Pernah ada adik kelas yang datang kepada saya dan meminta saya untuk menjadi mentor menulisnya. Dia sudah memiliki timeline yang menurut saya sangat bagus, runtut, dan saya pun bersedia untuk menjadi mentornya dengan sebuah catatan: dia harus menulis artikel selama 40 hari tanpa putus dan diapun menyanggupinya. Namun, sayangnya segala timeline dan komitmen itupun berubah kembali menjadi wacana, dengan berbagai alasan mulai dari sakit, banyak pekerjaan, tidak sempat, kehabisan waktu, dan lain sebagainya.

Menurut saya, jika kita terbiasa berwacana, sebenarnya itu akan berbahaya untuk diri kita sendiri. Kenapa? Karena akan membuat kita terbiasa untuk excuse dan memaafkan diri apabila ide-ide kita tidak dieksekusi. Selama saya kuliah, saya menyadari bahwa seringkali pemahaman seseorang akan suatu mata kuliah hanya dinilai berdasarkan daya analisis, wacana, dan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di selembar kertas, bukan berdasarkan pada ketuntasan aksi atas apa yang telah dipelajari. Mungkin inilah mengapa kita jadi lebih mudah berwacana daripada bertindak.

Tentu tidak semua orang penuh wacana seperti itu. Saya kagum dengan teman-teman saya di berbagai wilayah yang tergabung dalam Komunitas TDA Kampus. Dua orang yang saya kagumi sekaligus teman saya ini adalah Dewi Masithoh dan Seviana Puspitasari. Dua teman saya ini, rela datang jauh-jauh dari Semarang dan Jogja ke Jakarta untuk bisa mengembangkan Komunitas TDA Kampus di wilayahnya masing-masing. Saya masih ingat waktu itu bagaimana Dewi naik kereta ke Jakarta, bertemu dengan saya dan meminta bimbingan untuk membuka komunitas ini di Semarang. Ide awalnya sederhana, yaitu ingin menggerakkan kewirausahaan di Semarang dan betul-betul dituntaskan hingga dibukanya Komunitas TDA Kampus Semarang dan Jogjakarta.

Tidak semua orang hanya berwacana, namun yang saya tahu, orang-orang ini jumlahnya sangat sedikit, yang mampu mengubah wacana menjadi aksi nyata yang tuntas.

Oleh karena itu, jika Anda saat ini bingung bagaimana memenangkan persaingan dalam karir atau bisnis, maka menjadi orang yang dapat menuntaskan pekerjaan hingga selesai dapat menjadi keunggulan kompetitif Anda dibandingkan dengan orang lain.

Anda atau orang lain punya ide, gagasan, dan itu bagus, maka langsung tuntaskan. Semakin lama ditunda, maka semakin besar peluangnya untuk menjadi wacana.

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Endang Supriatna, S.Pd. | Guru
Ingin bergabung pada web yang sangat bermanfaat bagi ummat ini. Semoga web ini benar -benar menjadi media ukhuwah dan penebar ilmu. Amien.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0487 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels